<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089</id><updated>2011-07-07T22:24:26.036-07:00</updated><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>57</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1698349662769497095</id><published>2010-05-26T04:43:00.001-07:00</published><updated>2010-05-26T04:43:48.792-07:00</updated><title type='text'>Assalamu'alaikum warahmatulloh wabarokatuh</title><content type='html'>Bismillah editing blog lwt hp dicoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1698349662769497095?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1698349662769497095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1698349662769497095' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1698349662769497095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1698349662769497095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2010/05/assalamualaikum-warahmatulloh_26.html' title='Assalamu&apos;alaikum warahmatulloh wabarokatuh'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-4164029791619563214</id><published>2010-05-26T04:41:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T04:43:18.538-07:00</updated><title type='text'>Assalamu'alaikum warahmatulloh wabarokatuh</title><content type='html'>Bismillah editing blog lwt hp dicoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-4164029791619563214?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/4164029791619563214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=4164029791619563214' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4164029791619563214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4164029791619563214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2010/05/assalamualaikum-warahmatulloh.html' title='Assalamu&apos;alaikum warahmatulloh wabarokatuh'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-7974560625730746491</id><published>2009-03-25T20:44:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T20:45:27.228-07:00</updated><title type='text'>Yang Kita Lupakan Dalam Menuntut Ilmu</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bertahun-tahun sudah kita luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Suka duka yang dirasakan juga begitu banyak. Mengingat masa lalu terkadang membuat kita tersenyum, tertawa dan terkadang membuat kita menangis. Inilah kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan sebagai seorang thalibul’ilmi. Akan tetapi, mungkin kita sering melupakan, apakah ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang bermanfaat ataukah sebaliknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-573"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang bernama Zaid bin Arqam &lt;em&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/em&gt; bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah berkata,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”&lt;/em&gt; (HR Muslim No. 6906 dan yang lainnya dengan lafaz-lafaz yang mirip)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; saja, yang dijamin oleh Allah untuk menjadi pemimpin Bani Adam di hari akhir nanti, sangat sering mengulang doa-doa ini, apalagi kita, yang sangat banyak berlumuran dosa, sudah seharusnya selalu membacanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengetahui ciri-ciri ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat sangatlah penting. Oleh karena itu, berikut ini penulis sebutkan beberapa ciri &lt;a title="Ilmu yang bermanfaat" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu.html"&gt;ilmu yang bermanfaat&lt;/a&gt; dan yang tidak bermanfaat yang penulis ambil dari kitab Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali yang berjudul Bayan &lt;em&gt;Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada Allah dan merasa hina di hadapan-Nya dan selalu bersikap tawaduk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Senantiasa didengar doanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ilmu itu senantiasa berada di hatinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu mengharapkan akhirat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena hak-hak Allah, bukan untuk kepentingan pribadinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk sangka pada dirinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam ilmu dan merasa tidak bisa menyaingi martabat mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnhya, sedikitnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut pada Allah Taala.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Adapun ciri-ciri ilmu yang tidak bermanfaat di dalam diri seseorang:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ilmu yang diperoleh hanya di lisan bukan di hati.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak menumbuhkan rasa takut pada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak pernah kenyang dengan dunia bahkan semakin bertambah semangat dalam mengejarnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak dikabulkan doanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak menjauhkannya dari apa-apa yang membuat Allah murka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semakin menjadikannya sombong dan angkuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencari kedudukan yang tinggi di dunia dan berlomba-lomba untuk mencapainya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencoba untuk menyaing-nyaingi para ulama dan suka berdebat dengan orang-orang bodoh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak menerima kebenaran dan sombong terhadap orang yang mengatakan kebenaran atau berpura-pura meluruskan kesalahan karena takut orang-orang lari darinya dan menampakkan sikap kembali kepada kebenaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengatakan orang lain bodoh, lalai dan lupa serta merasa bahwa dirinya selalu benar dengan apa-apa yang dimilikinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu berburuk sangka terhadap orang-orang yang terdahulu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak bicara dan tidak bisa mengontrol kata-kata.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Di saat sekarang ini, manusia boleh memilih apakah dia itu ridha untuk dikatakan sebagai seorang ulama di sisi Allah ataukah dia itu tidak ridha kecuali disebut sebagai seorang ulama oleh manusia di masanya. Barang siapa yang merasa cukup dengan yang pertama, maka dia akan merasa cukup dengan itu… Barang siapa yang tidak ridha kecuali ingin disebut sebagai seorang ulama di hadapan manusia, maka jatuhlah ia (pada ancaman Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;),&lt;/p&gt; &lt;p&gt;من طلب العلم ليباهي به العلماء أو يماري به السفهاء أو يصرف وجوه الناس إليه فليتبوأ مقعده من النار&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya: &lt;em&gt;“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk menyaing-nyaingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia itu telah mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.”&lt;/em&gt; (*)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;*) Dengan Lafaz yang seperti ini, penulis belum menemukannya dengan sanad yang shahih. Akan tetapi, terdapat lafaz yang mirip dengannya di &lt;em&gt;Sunan At-Tirmidzi&lt;/em&gt; No. 2653 dengan sanad yang hasan, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;اللهم إني أسألك علما نافعا و رزقا طيبا و عملا متقبلاز آمين&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Maraji’:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Bayan Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf&lt;/em&gt; oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali, Dar Al-Basya’ir Al-Islamiah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Shahih Muslim&lt;/em&gt;, Dar As-Salam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Sunan At-Tirmidzi&lt;/em&gt;, Maktabah Al-Ma’arif&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah (Mahasiswa Fakultas Hadits, Jami’ah Islamiyah Madinah, Saudi Arabia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-7974560625730746491?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/7974560625730746491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=7974560625730746491' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/7974560625730746491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/7974560625730746491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2009/03/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu.html' title='Yang Kita Lupakan Dalam Menuntut Ilmu'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-3346962428690672067</id><published>2009-03-25T20:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T20:44:17.270-07:00</updated><title type='text'>Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan Syukur</title><content type='html'>&lt;p&gt;Nabi shallallahu &lt;em&gt;‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.”&lt;/em&gt; (HR.  Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikhul Islam mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apakah yang akan terjadi pada seekor ikan apabila dia dipisahkan dari air?” (Lihat &lt;em&gt;Al Wabil Ash Shayyib&lt;/em&gt; oleh Ibnul Qayyim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-577"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kaitan  Syukur dengan Tauhid&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam  mukadimah &lt;em&gt;Al Qawa’id Al Arba’&lt;/em&gt;, “Aku memohon kepada Allah yang Maha mulia Rabb pemilik arsy yang agung, semoga Dia senantiasa menolongmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjadikanmu senantiasa diberkahi di manapun engkau berada dan menjadikanmu bersyukur apabila diberi karunia, bersabar apabila mendapat coba, dan memohon ampun apabila terjatuh dalam dosa, karena sesungguhnya ketiga hal itulah lambang kebahagiaan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Shalih Alusy Syaikh mengatakan,”Syukur memiliki kaitan erat dengan tauhid. Tatkala sang imam (Syaikh Muhammad bin abdul Wahhab) &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; menyebutkan do’a untuk kita supaya bersyukur atas karunia, bersabar atas musibah dan istighfar ketika berbuat dosa, seolah-olah beliau sedang mengarahkan pandangan matanya kepada kondisi yang dialami kaum yang bertauhid. Beliau berbicara dengan mereka tentang suatu kewajiban yang harus senantiasa mereka tunaikan. &lt;strong&gt;Sebab seorang yang telah bertauhid  mendapatkan karunia yang sangat besar, tidak  ada lagi nikmat lain yang menandinginya&lt;/strong&gt;. Nikmat itu adalah keberadaannya di atas ajaran Islam yang lurus. Nikmat itulah yang membuatnya bisa tegak di atas prinsip tauhid yang murni. Tauhid itulah yang menjadi sebab Allah menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang merealisasikannya.” (&lt;em&gt;Syarh Qawa’id Arba’&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Shalih melengkapi keterangannya, “Apabila berdosa maka diapun beristighfar”. Dalam diri seorang muwahhid juga terdapat unsur ketidaktaatan. Dia tidaklah terlepas dari perbuatan dosa, yang kecil maupun yang besar. Sedangkan salah satu Asma’ Allah adalah Al Ghafuur (Maha Pengampun) maka pengaruh hukum dari Asma itu pasti terwujud pada alam serta kerajaan-Nya. Karena itulah Allah mencintai hamba-Nya yang bertauhid lagi ikhlash untuk senantiasa meminta ampunan. Seorang muwahhid pasti mengalami hal itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;“Apabila seorang hamba meninggalkan keagungan istighfar ini, niscaya  dia akan tertimpa kesombongan&lt;/strong&gt;. Padahal kesombongan akan menghapuskan banyak pahala amal perbuatan. Karena latar belakang itulah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) mengatakan di sini,”Apabila berdosa maka diapun beristighfar. Karena sesungguhnya ketiga hal itu adalah simbol kebahagiaan sejati”. Maka ini artinya hal itu pasti terjadi terhadap setiap muwahhid. Hal itu mencakup &lt;strong&gt;bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika tertimpa coba dan beristighfar ketika berbuat dosa dan maksiat. Semakin besar pengenalan seorang hamba terhadap Tuhannya niscaya ketiga hal inipun akan semakin kuat tertancap di dalam jiwanya&lt;/strong&gt;. Dan &lt;strong&gt;semakin besar ruang tauhid dalam hati  seorang hamba niscaya ketiga hal ini pun turut membesar&lt;/strong&gt;. Dengan sikap demikian niscaya akan melahirkan seorang hamba yang tidak lagi memandang selain keridhaan Allah jalla wa ‘ala dalam melaksanakan amal maupun aktifitas hidupnya, &lt;strong&gt;dia tidak mau mempersembahkan sedikitpun amalnya untuk selain-Nya&lt;/strong&gt;.  Apabila dia telah lalai dari hal itu maka istighfar yang diucapkannya bukanlah  istighfar yang sebenarnya.” (&lt;em&gt;Syarh Qawa’id Arba’&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berdzikir dan Bersyukur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" align="right"&gt;فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ingatlah  kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku,  janganlah kalian kufur.”&lt;/em&gt; (Qs. Al Baqarah [2]:  152)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; menjelaskan, “Dzikir  kepada Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan dzikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah dzikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Dzikir adalah bagian terpenting dari syukur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh sebab itu Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman yang artinya, “Maka &lt;a title="Tauhid dengan zikir dan syukur" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html"&gt;bersyukurlah&lt;/a&gt; kepada-Ku.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian….”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan &lt;em&gt;ujub&lt;/em&gt; (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka  akan terus disibukkan dengan bersyukur.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, Allah pun melarang melakukannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka, itu berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (&lt;em&gt;Taisir Karimir Rahman&lt;/em&gt;, hal. 74)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adh Dhahak bin Qais mengatakan, “Ingatlah kepada  Allah di saat senang, niscaya Dia akan mengingat kalian di saat sulit.” (&lt;em&gt;Jami’ul  ‘Ulum&lt;/em&gt;, hal. 248) Ada lelaki berkata kepada Abud Darda’, “Berilah saya wasiat.” Beliau menjawab, “Ingatlah Allah di waktu senang, niscaya Allah &lt;em&gt;‘azza wa jalla&lt;/em&gt; akan mengingatmu di waktu susah.” (&lt;em&gt;Jami’ul  ‘Ulum&lt;/em&gt;, hal. 248)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penopang Tegaknya Agama&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al ‘Allamah Ibnul Qayyim &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan di dalam sebuah  kitabnya yang penuh faedah yaitu &lt;em&gt;Al Fawa’id&lt;/em&gt;, “Bangunan agama ini  ditopang oleh dua kaidah: Dzikir dan syukur. Allah ta’ala berfirman (yang  artinya), &lt;em&gt;“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan  bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.”&lt;/em&gt; (QS. Al Baqarah [2] :  152).”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: &lt;em&gt;‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa  husni ‘ibaadatik.’&lt;/em&gt; (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i [1303] dalam pembahasan Sujud Sahwi, Abu Dawud [1522] dalam pembahasan Shalat, dan Ahmad [21614] dari jalan Abdurrahman Al Hubla dari Ash Shonabihi dari Mu’adz bin Jabal, disahihkan Al Albani dalam &lt;em&gt;Sahih Sunan Abu Dawud&lt;/em&gt;. (&lt;em&gt;Tahqiq Al Fawa’id&lt;/em&gt;))&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bukanlah yang dimaksud dengan dzikir di sini sekedar berdzikir dengan lisan. Namun, dzikir dengan hati sekaligus dengan lisan. Berdzikir/mengingat Allah mencakup mengingat nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat-Nya dengan membaca firman-firman-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itu semua tentunya akan melahirkan ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah), keimanan kepada-Nya, serta keimanan kepada kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, ia akan membuahkan berbagai macam sanjungan yang tertuju kepada-Nya. Sementara itu semua tidak akan sempurna apabila tidak dilandasi dengan ketauhidan kepada-Nya. Maka dzikir yang hakiki pasti akan melahirkan itu semuanya. Dan ia juga akan melahirkan kesadaran mengingat berbagai macam kenikmatan, anugerah, serta perbuatan baik-Nya kepada makhluk-Nya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Adapun syukur adalah mengabdi kepada Allah dengan menaati-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan hal-hal yang dicintai-Nya, baik yang bersifat lahir ataupun batin. Dua perkara inilah simpul ajaran agama. Mengingat-Nya akan melahirkan pengenalan (hamba) kepada-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan dalam bersyukur kepada-Nya terkandung ketaatan kepada-Nya. Kedua perkara inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Lawan dari tujuan ini adalah berupa kebatilan (kesia-siaan) dan main-main belaka. Allah Maha tinggi dan Maha suci dari perbuatan semacam itu. Seperti itulah anggapan buruk yang ada pada diri musuh-musuh-Nya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya sia-sia, itulah yang disangka oleh orang-orang kafir itu.”&lt;/em&gt; (Qs. Shad  [38]: 27)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya sekedar bermain-main saja. Tidaklah Kami menciptakan keduanya kecuali dengan tujuan yang benar.”&lt;/em&gt; (Qs. Ad Dukhan [44]: 38-39)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah juga berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan tujuan yang benar, dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang.”&lt;/em&gt; (Qs. Al  Hijr [15]: 85)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman setelah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya di awal surat  Yunus yang artinya, &lt;em&gt;“Tidaklah Allah menciptakan hal itu semua kecuali  dengan maksud yang benar.”&lt;/em&gt; (Qs. Yunus [10]: 5)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Apakah manusia mengira dia  ditinggalkan begitu saja.”&lt;/em&gt; (Qs. Al Qiyamah [75]: 36). Allah berfirman  pula yang artinya, &lt;em&gt;“Apakah kalian mengira kalau Kami menciptakan kalian  hanya sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”&lt;/em&gt; (Qs. Al  Mu’minun [23]: 115)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Dan tidaklah Kami menciptkan jin dan  manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”&lt;/em&gt; (Qs. Adz  Dzariyat [51]: 56)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam ayat lainnya, &lt;em&gt;“Allah lah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi seperti itu pula. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan Allah ilmunya meliputi segala sesuatu.”&lt;/em&gt; (Qs. Ath Thalaq [65]: 12)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman yang artinya, &lt;em&gt;“Allah menjadikan ka’bah yaitu baitul haram sebagai kiblat sholat bagi umat manusia, demikian pula bulan haram, hadyu dan qalaa’id. Itu semua agar kalian mengetahui allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”&lt;/em&gt; (Qs. Al Maa-idah [5]: 97).”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Maka dengan disebutkannya ayat-ayat tersebut telah terbukti bahwasanya tujuan penciptaan dan perintah ialah agar Allah diingat dan disyukuri. Sehingga Dia akan selalu diingat dan tidak dilupakan. Akan selalu disyukuri dan tidak diingkari. Allah Yang Maha suci akan mengingat siapa saja yang mengingat diri-Nya. Dan Allah juga akan berterima kasih (membalas kebaikan) kepada siapa saja yang bersyukur kepada-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengingat Allah adalah sebab Allah mengingat hamba. Dan bersyukur kepada-Nya adalah sebab Allah menambahkan nikmat-Nya. Maka dzikir lebih terfokus untuk kebaikan hati dan lisan. Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.” (&lt;em&gt;Al Fawa’id&lt;/em&gt;,  hal. 124-125)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Wa shallallahu ‘ala  nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillaahi  Rabbil ‘alamiin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="right"&gt;Yogyakarta, 9/1/1429&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Abu Mushlih Al Jukjakarti&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga Allah mengampuninya, Kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;***&lt;/p&gt; Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Al Jukjakarti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-3346962428690672067?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/3346962428690672067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=3346962428690672067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/3346962428690672067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/3346962428690672067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2009/03/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan.html' title='Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan Syukur'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-9027184445498221117</id><published>2009-03-25T20:41:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T20:42:55.702-07:00</updated><title type='text'>Agar Amalan Kita Diterima di Sisi Allah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dalam suatu ayat, Allah subhanahu wa ta’ala bercerita tentang keadaan hari kiamat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ {1} وُجُوهُُيَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ {2} عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ {3} تَصْلَى نَارًاحَامِيَةً {4} تُسْقَى مِنْ عَيْنٍءَانِيَةٍ {5} لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلاَّ مِن ضَرِيعٍ {6} لاَيُسْمِنُ وَلاَيُغْنِي مِن جُوعٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.”&lt;/em&gt; (QS. Al Ghasyiyah: 1-7)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-578"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat-ayat tersebut di atas merupakan cerita tentang kondisi sebagian penghuni neraka di hari akhirat nanti. Ternyata bukan semua penghuni neraka adalah orang-orang di dunianya kerjaannya cuma gemar berbuat maksiat, kecanduan narkoba, suka main perempuan dan lain sebagainya. Akan tetapi ternyata ada juga di antara penghuni neraka yang di dunianya rajin beramal, bahkan sampai dia kelelahan saking berat amalannya. Ini tentunya menimbulkan kekhawatiran yang amat besar dalam diri masing-masing kita, jangan-jangan kita termasuk yang sudah beramal banyak tapi nantinya termasuk ke dalam golongan yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam awal surat Al Ghasyiyah tersebut di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, untuk menghilangkan rasa cemas itu, kita perlu mengetahui mengapa orang-orang yang disebutkan dalam ayat di atas sudah beramal tapi malah ganjarannya neraka? Bagaimanakah model amalan mereka?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan mengkaji penjelasan para ulama terhadap ayat ini (Lihat: &lt;em&gt;Majmu’ Al-Fatawa li Syaikhil Islam&lt;/em&gt; XVI:217, dan &lt;em&gt;Shaid al-Khatir&lt;/em&gt; karya Ibn al-Jauzi I:373) kita bisa mengetahui bahwa ternyata rahasia kesialan mereka adalah karena mereka beramal tapi tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya amalan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Merujuk kepada dalil-dalil dari Al Quran dan Al Hadits kita bisa menemukan bahwa syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a title="Agar amalan diterima di sisi Allah" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/agar-amalan-kita-diterima-di-sisi-allah.html"&gt;Ikhlas&lt;/a&gt; karena Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengikuti tuntunan Rasulullah&lt;em&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Dua syarat ini disebutkan dengan jelas dalam akhir surat al-Kahfi:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seoran gpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.”&lt;/em&gt; (QS. Al Kahfi: 110)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.” (Lihat: &lt;em&gt;Mudzakkirah fil ‘Aqidah&lt;/em&gt;, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 9-12).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mari kita mulai mempelajari bersama, syarat pertama diterimanya suatu amalan, yaitu syarat ikhlas karena Allah ta’ala. Maksudnya adalah: seseorang hanya mengharapkan ridho Allah dari setiap amalannya, bersih dari penyakit &lt;em&gt;riya’&lt;/em&gt; (ingin dilihat orang lain) dan &lt;em&gt;sum’ah&lt;/em&gt; (ingin didengar orang lain), tidak mencari pujian dan balasan melainkan hanya dari-Nya. Pendek kata seluruh amalan yang ia kerjakan hanya ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dan ini merupakan inti ajaran aqidah yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. (Lihat: &lt;em&gt;Mudzakkirah fil ‘Aqidah&lt;/em&gt;, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 10).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang yang tidak mengikhlaskan amalannya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak hanya mengakibatkan amalannya ditolak oleh Allah, tapi juga kelak dia akan disiksa di neraka. Mari kita simak bersama hadits berikut ini:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Suatu hari ketika Syufay al-Ashbahani memasuki kota Madinah, tiba-tiba dia mendapati seseorang yang sedang dikerumuni orang banyak, maka dia pun bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah Abu Hurairah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Syufay pun mendekat hingga dia duduk di hadapan Abu Hurairah, yang saat itu dia sedang menyampaikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para hadirin. Ketika selesai dan hadirin telah meninggalkan tempat, Syufay berkata, “Sebutkanlah untukku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat engkau hafal dan engkau pahami.” Abu Hurairah menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.” Saat Abu Hurairah akan menyebutkan hadits itu tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri untuk beberapa saat. Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.” Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat. Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat. Ketika siuman dia mengusap wajahnya dan berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi dalam waktu yang cukup panjang, hingga Syafi pun menyandarkan Abu Hurairah ke tubuhnya, sampai beliau siuman. Ketika sadar beliau berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إن الله تبارك و تعالى إذا كان يوم القيامة نزل إلى العباد ليقضي بينهم و كل أمة جاثية فأول من يدعو به رجل جمع القرآن ورجل يقتل في سبيل الله ورجل كثير مال فيقول للقارىء: ألم أعلمك ما أنزلت على رسولي ؟ قال: بلى يا رب, قال: فماذا عملت فيما علمت؟, قال: كنت أقوم به أثناء الليل و آناء النهار, فيقول الله له: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, ويقول الله: بل أردت أن يقال: فلان قارىء فقد قيل. ويؤتى بصاحب المال فيقول الله: ألم أوسع عليك حتى لم أدعك تحتاج إلى أحد؟, قال: بلى, قال: فماذا عملت فيما آتيتك؟, قال: كنت أصل الرحم و أتصدق, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, فيقول الله: بل أردت أن يقال فلان جواد فقد قيل ذاك. ويؤتى بالذي قتل في سبيل الله فيقال له: فيم قتلت؟, فيقول: أمرت بالجهاد في سبيلك فقاتلت حتى قتلت, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, و يقول الله عز و جل له: بل أردت أن يقال فلان جريء فقد قيل ذلك, ثم ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم على ركبتي فقال: يا أبا هريرة أولئك الثلاثة أول خلق الله تسعر بهم النار يوم القيامة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan turun kepada para hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan saat itu masing-masing dari mereka dalam keadaan berlutut. Lantas yang pertama kali dipanggil oleh-Nya (tiga orang): Seorang yang rajin membaca Al Quran, orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang hartanya banyak. Maka Allah pun berkata kepada si Qori’, ‘Bukankah Aku telah mengajarkan padamu apa yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku?’ Si Qori’ menjawab, ‘Benar ya Allah.’ Allah kembali bertanya, ‘Lantas apa yang telah engkau amalkan dengan ilmu yang engkau miliki?’ Si Qori menjawab, ‘Aku (pergunakan ayat-ayat Al Quran) yang kupunyai untuk dibaca dalam shalat di siang maupun malam hari,’ serta merta Allah berkata, ‘Engkau telah berdusta!’ Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’ Lantas Allah berfirman, ‘Akan tetapi (engkau membaca Al Quran) agar supaya engkau disebut-sebut qori’! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’ Kemudian didatangkanlah seorang yang kaya raya, lantas Allah berfirman padanya, ‘Bukankah telah Kuluaskan (rizki)mu hingga engkau tidak lagi membutuhkan kepada seseorang?” Dia menyahut, ‘Betul.’ Allah kembali bertanya, ‘Lantas engkau gunakan untuk apa (harta) yang telah Kuberikan padamu?’ Si kaya menjawab, ‘(Harta itu) aku gunakan untuk silaturrahmi dan bersedekah.’ Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’ Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’ Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau ingin agar dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’ Lantas didatangkan orang yang berperang di jalan Allah, kemudian dikatakan padanya, ‘Apa tujuanmu berperang?’ Orang itu menjawab, ‘(Karena) Engkau memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu, maka aku pun berperang hingga aku terbunuh (di medan perang).’ Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’ Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’ Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetap engkau ingin agar dikatakan engkau adalah si pemberani! Dan (pujian) itu telah engkau dapatkan (di dunia).’ Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk lututku sambil berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali yang dikobarkan dengannya api neraka di hari kiamat.”&lt;/em&gt; (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab &lt;em&gt;Shahih&lt;/em&gt;-nya IV:115, no: 2482, Ibnu Hibban juga dalam kitab &lt;em&gt;Shahih&lt;/em&gt;-nya II:135, no: 408. Al-Hakim dalam &lt;em&gt;al-Mustadrak&lt;/em&gt; 1/415 berkata, &lt;em&gt;“Isnadnya shahih”&lt;/em&gt; dan disepakati oleh adz-Dzahaby dan Al Albani)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun masing-masing dari mereka bertiga memiliki amalan yang banyak, akan tetapi justru dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka pertama kali, itu semua gara-gara amalan mereka tidak ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dikaruniai Allah keikhlasan dalam setiap amalan. &lt;em&gt;Amien.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berhubung ibadah haji juga merupakan suatu amalan shalih yang sangat agung, bahkan merupakan rukun Islam yang kelima, maka kita pun dituntut untuk ikhlas dalam mengamalkannya, semata-mata mengharap ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini perlu untuk senantiasa ditekankan, karena diakui atau tidak, masih ada, atau bahkan mungkin masih banyak orang-orang yang berangkat haji dengan niat yang dicemari oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Ada dari mereka yang berhaji supaya setelah pulang nanti dipanggil pak haji atau bu haji, hingga jika suatu saat ada tetangga yang lupa ketika memanggil dengan tidak menyebutkan pak haji, dia pun tidak mau menoleh. Ada yang berhaji dengan tujuan untuk memperlancar rencana dia untuk meraih kursi di pemerintahan. Ada yang berhaji dengan tujuan agar disegani oleh rekan bisnisnya, dan masih banyak tujuan-tujuan duniawi lain yang bisa mengotori niat ibadah haji seseorang. Kalau kotoran-kotoran tersebut tidak segera kita bersihkan dari diri kita maka niscaya usaha kita menabung puluhan tahun agar bisa berhaji akan sia-sia!. Kita hanya akan pulang dengan membawa rasa penat dan letih! Kita hanya akan pulang dengan tangan hampa! Dan yang lebih menyedihkan dari itu semua, apa yang Allah ceritakan di dalam ayat di bawah ini:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُوراً)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”&lt;/em&gt; (QS. Al Furqan: 23)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka, jika ada di antara kita yang masih mengotori niatnya dalam berhaji dengan kotoran-kotoran duniawi, mari kita bersihkan kotoran-kotoran tersebut dari sekarang agar kelak kita tidak menyesal. Juga kita berusaha mempelajari nilai-nilai keimanan yang terkandung di dalam ibadah haji kita, agar ibadah yang agung ini tidak terasa hambar, dan agar ibadah haji yang kita kerjakan ini semakin memperkuat akidah kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sepengetahuan kami, buku terbaik yang ditulis untuk mengungkap rahasia keterkaitan ibadah haji dengan fondasi agama Islam, yakni akidah, adalah buku yang berjudul &lt;em&gt;“Pancaran Nilai-Nilai Keimanan dalam Ibadah Haji”&lt;/em&gt; (Judul aslinya dalam bahasa Arab, &lt;em&gt;“Durus ‘Aqadiyah Mustafadah Minal Hajj”&lt;/em&gt;, yang kemudian diterjemahkan dan diringkas lalu kami beri judul dengan judul di atas), yang ditulis oleh Syaikh. Prof. Dr. Abdurrozaq bin Abdul Muhsin al-’Abbad al-Badr, salah seorang dosen pasca sarjana di Universitas Islam Madinah. Maka kami melihat bahwa seharusnya setiap jamaah haji berusaha untuk membaca buku ini sebelum berhaji, agar dia bisa berhaji dengan mantap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun syarat yang kedua agar amalan kita diterima adalah: Mengikuti tuntunan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Artinya: Amalan yang kita kerjakan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala harus sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Allah dan oleh Rasul-Nya &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Sebab agama kita yang mulia ini telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebelum Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; memejamkan kedua matanya untuk selama-lamanya. Maka agama kita ini sama sekali tidak membutuhkan kepada seseorang untuk menambah sesuatu ke dalamnya, ataupun menguranginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Pada hari ini telah telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.”&lt;/em&gt; (QS. Al Maaidah: 3)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak sekali ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yang memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, serta memperingatkan kita agar tidak membuat hal-hal yang baru dalam agama, yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/em&gt; (QS. Ali Imran: 31)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي, عضوا عليها بالنواجذ, وإياكم ومحدثات الأمور, فإن كل محدثة بدعة, وكل بدعة ضلالة, وكل ضلالة في النار&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.”&lt;/em&gt; (HR. At-Tirmidzi IV:149 dan Ibnu Majah II:1025)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hadits lain Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; memperingatkan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد. متفق عليه&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barang siapa yang membuat hal-hal yang baru di dalam perkara (agama) ini yang bukan merupakan bagian darinya, maka amalan itu akan tertolak.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari III:241 dan Muslim V:132)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut di atas telah menegaskan akan wajibnya mengikuti tuntunan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam beramal. Barang siapa yang beramal tidak sesuai dengan tuntunan Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; maka amalannya akan ditolak alias tidak diterima, meskipun amalannya besar, meskipun amalan itu telah membudaya di kalangan kaum muslimin ataupun amalan tersebut kelihatannya menurut kaca mata sebagian orang baik. Pendek kata yang harus dijadikan barometer untuk menilai baik tidaknya suatu amalan bukanlah akal manusia, akan tetapi setiap amalan harus di timbang dengan timbangan syariat; Al Quran dan Al Hadits. Apa yang sesuai dengan keduanya kita kerjakan, dan apa yang tidak sesuai kita tinggalkan. Inilah jalan seorang muslim yang sejati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman kita ini telah menjamur di kalangan sebagian masyarakat amalan-amalan yang dianggap ibadah, padahal sama sekali tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; maupun para sahabatnya. Apakah mereka lebih paham tentang agama Islam daripada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan sahabatnya? Ataukah mereka telah memiliki tuntunan yang berbeda dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan para sahabatnya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka marilah mulai detik ini kita kembali mengoreksi amalan-amalan yang selama ini kita kerjakan, sudahkah amalan kita sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;? Sudahkah kita mempelajari bagaimana cara Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sholat? Sudahkah kita mempelajari bagaimana cara Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berhaji? Ketahuilah bahwa beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; telah mengingatkan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;خذوا عنى مناسككم&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ambillah oleh kalian manasik haji dariku.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim no: 1297)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berkaitan dengan masalah sholat, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjelaskan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;صلوا كما رأيتموني أصلي&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari no: 631)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan merealisasikan dua syarat ini yakni ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; niscaya amalan kita akan diterima, dan kita akan termasuk golongan yang diceritakan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وُجُوهُُيَوْمَئِذٍ نَّاعِمَةٌ . لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ . فيِ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, mereka senang karena amalannya, dalam surga yang tinggi.”&lt;/em&gt; (QS. Al Ghasyiyah: 8-10)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallah u ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.&lt;/em&gt; Selamat berhaji, semoga &lt;em&gt;mabrur… Amien…&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dipersembahkan oleh:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tim Mahasiswa Indonesia Universitas Islam Madinah, PO Box: 10234 Madinah KSA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah Zaen (&lt;em&gt;Mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-9027184445498221117?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/9027184445498221117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=9027184445498221117' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/9027184445498221117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/9027184445498221117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2009/03/agar-amalan-kita-diterima-di-sisi-allah.html' title='Agar Amalan Kita Diterima di Sisi Allah'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-3662120532740994200</id><published>2008-11-11T22:46:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T22:49:06.805-08:00</updated><title type='text'>SEORANG SALAFY</title><content type='html'>&lt;STRONG&gt;Sebagian orang berpandangan bahwasanya dakwah Salafiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri kita ini terkesan sebagai dakwahnya orang-orang yang gemar bikin ribut dan tidak pernah akur, bahkan di antara sesama mereka sendiri. Mereka saling menjatuhkan. Kelompok yang satu mencela dan mendiskreditkan kelompok yang lain. Padahal mereka sama-sama mengaku Salafi (pengikut Sahabat Nabi). Buku-buku mereka pun sama, para ulama yang mereka jadikan rujukan juga sama. Namun ternyata mereka justru saling gontok-gontokan. Anggapan ini tidaklah seratus persen benar. Akan tetapi itulah sebagian fakta yang ada di dalam pandangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, kita semua perlu bercermin kembali. Penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang sangat mulia. Salaf bukanlah sebuah pabrik atau yayasan, yang dengan mudah pihak atasan memecat anak buahnya yang dinilai bandel dan ngeyelan (suka ngotot dan membantah). Oleh sebab itulah pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan sebuah fatwa salah seorang Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada masa kini yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah sebagai pelajaran dan koreksi bagi kita semua. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menggapai apa yang dicintai dan diridhai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah karakteristik paling menonjol dari Golongan Yang Selamat (Al Firqah An Najiyah)? Dan apakah adanya kekurangan (yang ada pada diri seseorang) dalam salah satu di antara karakter ini lantas mengeluarkan orang tersebut dari Golongan Yang Selamat?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab, “Karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat adalah berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (ritual), akhlak (budi pekerti), dan mu’amalah (interaksi sesama manusia). Dalam keempat perkara inilah anda dapatkan Golongan Yang Selamat sangat tampak menonjol ciri mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam hal akidah: Anda bisa jumpai mereka senantiasa berpegang teguh dengan keterangan dalil Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu meyakini tauhid yang murni dalam hal Uluhiyah Allah, Rububiyah-Nya serta Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam hal ibadah: Anda jumpai golongan ini tampak istimewa karena sikap mereka yang begitu berpegang teguh dan berusaha keras menerapkan ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menunaikan ibadah, yang meliputi jenis-jenisnya, cara-caranya, ukuran-ukurannya, waktu-waktunya dan sebab-sebabnya. Sehingga anda tidak akan menjumpai adanya perbuatan menciptakan kebid’ahan dalam agama Allah di antara mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat beradab terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan menyusupkan suatu bentuk ibadah yang tidak diijinkan oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam hal akhlak: Anda pun bisa menjumpai ciri mereka juga seperti itu. Mereka tampil istimewa dibandingkan selain mereka dengan akhlak yang mulia, seperti contohnya: mencintai kebaikan bagi umat Islam, sikap lapang dada, bermuka ramah, berbicara baik dan pemurah, pemberani dan sifat-sifat lain yang termasuk bagian dari kemuliaan akhlak dan keluhurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hal mu’amalah: Anda bisa jumpai mereka menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan sifat jujur dan suka menerangkan kebenaran. Dua sifat inilah yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya, “Penjual dan pembeli mempunyai hak pilih selama keduanya belum berpisah. Apabila mereka berdua bersikap jujur dan menerangkan apa adanya niscaya akan diberkahi jual beli mereka. Dan apabila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat barangnya) maka akan dicabut barakah jual beli mereka berdua.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kekurangan pada sebagian karakter ini tidak lantas mengeluarkan individu tersebut dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat, namun setiap tingkatan orang akan mendapatkan balasan sesuai amal yang mereka perbuat. Sedangkan kekurangan dalam sisi tauhid terkadang bisa mengeluarkan dirinya dari Golongan Yang Selamat, seperti contohnya hilangnya keikhlasan. Demikian pula dalam masalah bid’ah, terkadang dengan sebab bid’ah-bid’ah yang diperbuatnya membuatnya keluar dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam masalah akhlak dan mu’amalah maka tidaklah seseorang dikeluarkan dari Golongan Yang Selamat ini semata-mata karena kekurangan dirinya dalam dua masalah ini, meskipun hal itu menyebabkan kedudukannya menjadi turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu untuk memperinci permasalahan akhlak karena salah satu faidah dari akhlak ialah terwujudnya kesatuan kata dan bersatu padu di atas kebenaran yang diperintahkan Allah ta’ala kepada kita di dalam firman-Nya (yang artinya), “Allah mensyari’atkan kepada kalian ajaran agama yang juga diwasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wasiatkan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agar kalian tegakkan agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya.” (QS. Asy Syura: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah memberitakan bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lepas tanggung jawab dari perbuatan orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka menjadi bergolong-golongan. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka maka tidak ada tanggung jawabmu atas mereka.” (QS. Al An’am: 159). Sehingga kesatuan kata dan keterikatan hati merupakan salah satu karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat -Ahlus Sunnah wal Jama’ah- Oleh sebab itu apabila muncul perselisihan di antara mereka yang bersumber dari ijtihad dalam berbagai perkara ijtihadiyah maka hal itu tidaklah membangkitkan rasa dengki, permusuhan ataupun kebencian di antara mereka. Akan tetapi mereka meyakini bahwasanya mereka adalah bersaudara meskipun terjadi perselisihan ini di antara mereka. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka mau shalat di belakang imam yang menurutnya dalam status tidak wudhu sementara si imam berpendapat bahwa dirinya masih punya status wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh lainnya adalah orang yang tetap mau shalat bermakmum kepada imam yang baru saja memakan daging onta. Si imam berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu. Sedangkan si makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudhu. Namun dia tetap berkeyakinan bahwa shalat bermakmum kepada imam tersebut adalah sah. Walaupun seandainya jika dia sendiri yang shalat maka dia menilai shalatnya dalam keadaan seperti itu tidak sah. Ini semua bisa terwujud karena mereka memandang bahwa perselisihan yang bersumber dari ijtihad dalam persoalan yang diijinkan untuk ijtihad pada hakikatnya bukanlah perselisihan. Alasannya adalah karena masing-masing individu dari dua orang yang berbeda pendapat ini sudah berusaha mengikuti dalil yang harus diikuti olehnya dan dia tidak boleh untuk meninggalkannya. Oleh sebab itu, apabila mereka melihat saudaranya berbeda pendapat dengannya dalam suatu perbuatan karena mengikuti tuntutan dalil maka sebenarnya saudaranya itu telah sepakat dengan mereka, karena mereka mengajak untuk mengikuti dalil dimanapun adanya. Sehingga apabila dengan menyelisihi mereka itu menjadikan dirinya sesuai dengan dalil yang ada (dalam pandangannya), maka pada hakikatnya dia telah bersepakat dengan mereka, karena dia sudah meniti jalan yang mereka serukan dan tunjukkan yaitu keharusan untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah seperti ini di kalangan para sahabat tidaklah tersembunyi di kalangan banyak ulama, bahkan sudah ada juga di jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata tidak ada seorangpun di antara mereka yang bersikap keras kepada yang lainnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Ahzab dan Jibril datang kepada beliau menyuruh beliau agar memberangkatkan para sahabat ke Bani Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpesan kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari dan Muslim), maka mereka berangkat dari Madinah menuju Bani Quraizhah namun di tengah perjalanan mereka waktu shalat ‘Ashar sudah hampir habis. Di antara mereka ada yang mengakhirkan shalat ‘Ashar sampai tiba di Bani Quraizhah sesudah keluar waktu. Mereka beralasan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Dan ada juga di antara mereka yang mengerjakan shalat pada waktunya. Mereka ini mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah perintah agar mereka bersegera berangkat ke sana dan bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat di luar waktunya -dan mereka inilah yang benar- akan tetapi meskipun demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap keras terhadap salah satu di antara kedua kelompok tersebut. Dan hal itu tidaklah membuat mereka memusuhi dan membenci shahabat lain semata-mata karena perbedaan mereka dalam memahami dalil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah saya berpandangan bahwa menjadi kewajiban kaum muslimin yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah supaya menjadi umat yang bersatu padu dan janganlah terjadi tahazzub (tindakan bergolong-golongan). Yang ini membela suatu kelompok, sedangkan yang lain membela kelompok lainnya, dan pihak ketiga membela kelompok ketiga dan seterusnya, yang mengakibatkan mereka saling bergontok-gontokan dan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan, saling memusuhi dan membenci gara-gara perselisihan dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Dan saya tidak perlu untuk menyebutkan tiap-tiap kelompok itu secara detail, akan tetapi orang yang berakal pasti bisa memahami dan memetik kejelasan perkaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berpandangan bahwasanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah wajib untuk bersatu, bahkan meskipun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, selama hal itu memang dibangun berdasarkan dalil-dalil menurut pemahaman yang mereka capai. Karena hal ini (perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah, red) sesungguhnya adalah perkara yang lapang, dan segala puji hanya bagi Allah. Maka yang terpenting adalah terwujudnya keterikatan hati dan kesatuan kalimat (di antara sesama Ahlus Sunnah, red). Dan tidaklah perlu diragukan bahwasanya musuh-musuh umat Islam sangat senang apabila di antara umat Islam saling berpecah belah, entah mereka itu musuh yang terang-terangan maupun musuh yang secara lahiriyah menampakkan pembelaan terhadap kaum muslimin atau mengaku loyal kepada agama Islam padahal sebenarnya mereka tidak demikian. Maka wajib bagi kita untuk menonjolkan karakter istimewa ini, sebuah karakter yang menjadi ciri keistimewaan kelompok yang selamat; yaitu bersepakat di atas satu kalimat.” (Fatawa Arkanul Islam, Daruts Tsuraya, hal. 22-26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah fatwa seorang alim yang sudah sama-sama kita akui kedalaman ilmu dan ketakwaannya. Duhai, alangkah jauhnya sifat-sifat kita dengan sifat-sifat elok yang beliau gambarkan… Kalau saja masing-masing dari kita bisa menerapkan dengan baik isi nasihat beliau di atas maka niscaya tidak akan terjadi baku hantam di antara sesama Ahlus Sunnah. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum bisa bersikap arif tatkala menyaksikan saudaranya menyelisihi dirinya demi mengikuti tuntutan dalil yang sampai kepada mereka. Selain itu umat Islam di negeri ini tentu akan lebih merasa gembira dan tenang dalam menerima dakwah, karena mereka bisa menyaksikan sosok-sosok da’i yang pandai menyikapi keadaan, tidak grusah-grusuh dan terlalu cepat mengambil tindakan tanpa kenal perhitungan. Apa salahnya jika kebenaran itu berada di pihak lain di luar kelompok kita? Apa salahnya jika yang menyampaikan kebenaran itu bukan ustadz kita? Bukankah hikmah itu adalah barangnya orang beriman yang hilang? Apakah semata-mata karena kebenaran itu datang dari selain kelompok kita lantas kebenaran itu boleh kita tolak. Lalu apakah bedanya kita dengan orang-orang yang taklid buta dan mengagung-agungkan kyai-kyainya? Renungkanlah saudaraku… Terkadang musuh yang cerdas itu jauh lebih bermanfaat bagi kita daripada teman-teman yang bungkam dari ketergelinciran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa kita menyerukan umat Islam untuk kembali bersatu di atas pangkuan manhaj Salaf sementara kita sendiri justru memporakporandakan persatuan itu dengan menerkam saudara-saudara kita sesama Ahlus Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat dan membantah Ahlul bida’ wal ahwa’? Sedangkan para ulama mewasiatkan kepada kita untuk memperbaiki akhlak demi terjalinnya persatuan dan keterkaitan hati. Adakah yang mau mengambil pelajaran? Hamba memohon kepada-Mu ya Allah, bukakanlah hati-hati kami untuk menerima kebenaran. Engkau lah Yang Maha tahu kekurangan dan dosa-dosa kami. Kami mengakuinya dan kami mohon ampunan kepada-Mu, ya Rabbi. Kembalikanlah persatuan dakwah yang mulia ini di atas kebenaran dan bimbingan para ulama yang Rabbani. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan do’a. Semoga shalawat dan keselamatan senantiasa terlimpah kepada panutan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka kaum Salafiyin yang ada di sepanjang masa hingga tegaknya hari kiamat. Dan akhirnya segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi&lt;/STRONG&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-3662120532740994200?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/3662120532740994200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=3662120532740994200' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/3662120532740994200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/3662120532740994200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/11/seorang-salafy.html' title='SEORANG SALAFY'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-4308955337222426787</id><published>2008-11-11T01:03:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T01:07:02.525-08:00</updated><title type='text'>MALU</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Assalamu'alaikum Warohmatuloh Wabarokatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu sekarang jarang banget  ikut taklim malu sekali&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-4308955337222426787?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/4308955337222426787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=4308955337222426787' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4308955337222426787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4308955337222426787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/11/malu.html' title='MALU'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-4934466564664562736</id><published>2008-04-10T16:58:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T17:00:48.286-07:00</updated><title type='text'>AQIDAH  IMAM Asy-Syafi’i SEPUTAR  SAHABAT</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata," Allah telah memuji para sahabat Rasulullah r di dalam Al-Qur’an, taurat dan injil. Keutamaan mereka telah disampaikan oleh Rasulullah, sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang selain mereka. Maka AllahY menyayangi mereka dan menempatkan mereka setinggi-tinggi derajat, yaitu derajat orang-orang yang jujur, syuhada’ dan orang-orang yang shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah yang menyampaiakn kepada kita sunnah-sunnah Rasulullah r dan menyaksikan wahyu diturunkan kepada Rasulullah. Mereka mengerti apa yang dikehendaki oleh Rasulullah r baik secara umum dan khusus. Mereka mengetahui semuanya yang tidak kita ketahui. Mereka berada di atas kita dalam bidang ijtihad, pengetahuan, wara’, dan lainnya. pemikiran mereka lebih terpuji dan lebih utama untuk kita dari pemikiran yang datang berikutnya. Jika seorang di antara mereka menyatakan pendapatnya dan tidak ada seorangpun yang menyalahkannya, maka kitapun harus mengambil pendapat tersebut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sahabat memiliki kelebihan tersendiri, tapi yang paling utama secara berurutan adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radiyallahu Anhum. Imam Asy-Syafi’i menyebutkan,"Semua ulama sepakat tentang ini, yang diperselisihkan hanya mana yang lebih utama Utsman atau Ali". Beliau juga berkata," Kita tidak menyalahkan salah seorang di antara kalangan sahabat Rasulullahr pada apa yang mereka kerjakan".&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-4934466564664562736?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/4934466564664562736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=4934466564664562736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4934466564664562736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4934466564664562736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/04/aqidah-imam-asy-syafii-seputar-sahabat.html' title='AQIDAH  IMAM Asy-Syafi’i SEPUTAR  SAHABAT'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-6965912986455374525</id><published>2008-04-03T18:28:00.000-07:00</published><updated>2008-04-03T18:32:28.389-07:00</updated><title type='text'>KAJIAN ILMIYYAH ISLAMIYYAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bersama : al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat (dari jakarta) yang insya Alloh diadakan di :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Di Masjid Takhobar ( Telkom ) Jln. Ketintang 156 Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari / Tgl : Sabtu . 05 April 2008 Pukul : 09.00 s/d selesai Materi : Aqidah Yang Haq &amp;amp; Yang Bathil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact Person : Akh. Abu Nurzaki (031 ) 70609900&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Musholla DARUSSALAM. Jl. Ampel Sawahan Gg. II , Surabaya Hari/ Tgl : Sabtu, 5 April 2008 Waktu : Ba'da Maghrib - Selesai. Materi : " KRITERIA AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara : Ta'mir Musholla Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.MASJID BAITURRAHMAN. Jl. Sidosermo Indah III / 13 , Surabaya Hari / Tgl : Ahad, 6 April 2008 Waktu : 09.00 WIB - Selesai Materi : " KEWAJIBAN KEMBALI KEPADA SUNNAH "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contact person : - al-Akh Afghani : 08175225610 - al-Akh Yudiono : 085648339721 atau 0318471548 - al-Akh Iwan Minanda : 03171027896&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK UMUM, IKHWAN dan AKHWAT&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-6965912986455374525?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/6965912986455374525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=6965912986455374525' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/6965912986455374525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/6965912986455374525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/04/kajian-ilmiyyah-islamiyyah.html' title='KAJIAN ILMIYYAH ISLAMIYYAH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1407730218920661872</id><published>2008-03-29T01:09:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T01:16:53.923-07:00</updated><title type='text'>FITNAH TERHADAP SYAIKHUL ISLAM IBN TAIMIYAH</title><content type='html'>Penulis: Abu Aqil As-Salafy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam buku karangan Sirajuddin Abbas bahwa satu dari sekian banyak tuduhan yang diarahkan kepada Syeikh Islam Ibn Taimiyah adalah apa yang dituliskan oleh Ibnu Bathuthah dalam karyanya “Rihlah”, Ibnu Bathuthah mengatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masuk Ba’labak siang hari, lalu aku keluar darinya pada pagi hari, karena sangat rinduku terhadap kota Damsyik. Dan aku sampai ke kota Damsyik, Syam, pada hari Kamis, 9 Ramadhan yang berbarakah tahun 726 H. Aku pun singgah disana, di Madrasah al Malikiyah yang dikenal asy Syarabisyiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Damsyik, salah seorang ulama fikih terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali adalah Taqiyuddin bin Taimiyah, sesepuh Syam, ia berbicara mengenai cabang-cabang ilmu (funun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mendatanginya (Ibnu Taimiyyah) pada hari Jum’at, saat ia berada di atas mimbar Masjid Jami’ sedang menasehati kaum muslimin dan mengingatkan mereka. Adapun dari sekian perkataannya, ia (Ibnu Taimiyyah) berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;‘Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia seperti turunku ini’, lalu ia turun satu tangga dari mimbar. Maka seorang ahli fikih bermadzhab Maliki yang dikenal dengan nama Ibnu az Zahra menentangnya”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Bantahan terhadap kisah di atas&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Kitab Syarah Qashiidah Ibnul Qayyim (Juz 1, hal. 497) dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebohongannya sudah tampak jelas, tidak memerlukan lagi berpanjang ulasan. Dan Allah-lah Yang Maha Penghitung kebohongan pendusta ini. Dia (Ibnu Bathuthah) menyebutkan dia masuk ke Damsyik 9 Ramadhan 726 H, padahal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika itu sudah ditahan di benteng (al Qal’ah) sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama terpercaya, seperti murid beliau sendiri, al Hafizh Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdul Hadi dan al Hafizh Abil Faraj ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab dalam kitab Thabaqat Hanabilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata mengenai biografi Syaikh (Ibnu Taimiyyah) dalam Thabaqat-nya tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh telah ditahan di benteng itu dari bulan Sya’ban tahun 726 H sampai Dzulqa’dah tahun 728 H’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abdul Hadi menambahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ia (Ibnu Taimiyyah) memasuki (tahanan) di benteng itu pada 6 Sya’ban’&lt;br /&gt;Maka lihatlah pendusta ini (Ibnu Bathuthah) yang menyebutkan bahwa dia telah menyaksikan Ibnu Taimiyyah sedang memberi nasihat kepada kaum muslimin di atas mimbar mesjid jami’. Padahal Syaikh (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah setelah masuk ke benteng (tahanan) tersebut pada tanggal tersebut pula, maka beliau tidak pernah keluar darinya kecuali di atas kereta jenazah (pada hari wafatnya, Dzulqa’dah 728 H)”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1407730218920661872?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1407730218920661872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1407730218920661872' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1407730218920661872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1407730218920661872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/03/fitnah-terhadap-syaikhul-islam-ibn.html' title='FITNAH TERHADAP SYAIKHUL ISLAM IBN TAIMIYAH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-852434126568867924</id><published>2008-03-29T00:52:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T00:56:08.809-07:00</updated><title type='text'>PANDANGAN ULAMA SALAF TTG TAREKAT</title><content type='html'>Kita ambil terus dari koleksi Fatwa Syaikhul Islam dan Imam Ibn Taymiya Taqiyuddin bin Ahmad alHarani dalam Majmu' Fatawa lil Syaikhul Islam Jld 11 bermula dari ms 16. Juga dari kitabnya alUbudiyah, bermula dari ms 90. Dari Syaikhul Islam ini, murid-muridnya spt Ibn Qayyim dan akhirnya pengikut-pengikut beliau spt yg anda senaraikan spt alMuhaddith AlAlbani dan allamah alMufti Syaikh Ben Baz, Syaikh Saleh alUthaymeen, dsbnya semuanya bersumberkan Syaikhul Islam Ibn taymiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syaikhul Islam tentang Tasawwuf. Kalimah Sufi dan Tasawwuf ini asalnya tiada dalam vocabulary Islam. Ada macam-macam makna, yg paling kuat tasawwuf berasal dari pakaian kaum sufi, "SUFF" yg berasal dari bulu kambing yg menyamai pakaian kependitaan dan kerahiban dalam ajaran Nasara. Yang rajih maksud tasawwuf aliran sufi ini tidak dikenali pada lingkungan 300 tahun pertama generasi salaf assoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran tasawwuf pertama kali muncul di Basrah oleh murid alImam Hasan alBasri bernama Abd Wahid bin Zaid (alFatawa, Jld 11, ms 6-7) Jadi maksud asal tasawwuf ialah sikap zuhud, kuat beribadah, tazkiyah nafsu (menyucikan jiwa), sidiq, amanah dan ikhlas. Makam mereka ialah bila dapat merasakan nilai emas dan permata itu menyamai batu dan pasir (alFatawa: 11/16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu imej tasawwuf tercemar bila ahli bid'ah dan zindiq menyerapinya spt alHallaj yg membawa ajaran2 yg anih, bid'ah dan khurafat. Tariqat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari segi bahasa ia bermaksud "jalan". Kumpulan-kumpulan sufi atau aliran tasawwuf itu mencipta jalan2 tersendiri dalam mengamalkan ajaran tasawwuf yg berbedza dgn firqah (kumpulan) sufi yg lain, misalnya Qadiri, Naqsyabandi, Tijani, Alawiyin, ahmadiah, dsbnya. Sebab itu kumpulan sufi itu dikenali dgn nama Tariqat, misalnya ajaran sufi naqsyabandi dikenali dgn nama tariqat Naqsyabandi, sempena syaikh pengasasnya. Syaikh Tariqat ini kerjanya membuat rumusan-rumusan dan manhaj2 yg berbedza dgn kumpulan yg lain. (Fatawa Syaikh Saleh alUthaymeen, Haqiqat atTasawwuf wa Mawqif asSuufiyah min Usyul alIbadah wadDeen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan: 1. Tasawwuf maksudnya pada asal kemunculannya di Basrah adalah baik bermaksud penyucian hati dan kezuhudan, kemudian diserapi ajaran sesat dan bid'ah yg menjadikan ia tercemar dan berkecamuk hingga sukar menentukan mana yg benar dan salah 2. Tariqat pula ialah jalan-jalan kesufian yg dicipta oleh pengasas2 ajaran sufi itu utk membedzakan dia dari ajaran sufi yg lain. sekian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-852434126568867924?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/852434126568867924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=852434126568867924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/852434126568867924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/852434126568867924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/03/pandangan-ulama-salaf-ttg-tarekat.html' title='PANDANGAN ULAMA SALAF TTG TAREKAT'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-8472671402829256213</id><published>2008-03-17T16:57:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T17:01:56.271-07:00</updated><title type='text'>AKU PUN DITUDUH WAHABI…</title><content type='html'>Penulis : Ummu Abdullah Al-Butoni *)&lt;br /&gt;*) ini adalah sebuah pengalaman pribadi penulis dalam perjalanan menempuh kebenaran, dan saya mengenalnya dari room chat di Yahoo (buldozer)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://buldozer.wordpress.com/"&gt;http://buldozer.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perjalanan kedewasaan menuju proses pematangan diri, terlebih lagi pemikiran, gairah untuk mencai ilmu yang shahih, lebih mengenal agama Islam dari sumber-sumbernya yang asli, menjadi semakin tinggi. Perkenalan tanpa sengaja dengan manhaj salaf nyaris seolah mencuci otak, memutarbalikkan pemahaman hingga apa yang tersisa dari pemahaman terdahulu nyaris menjadi tanpa arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukanlah hal yang aneh, jika gairah itu kemudian timbul. Ketidakmampuan diri dalam mengelola dan memecahkan persoalan hidup secara memuaskan membuat agama yang semula menjadi pelarian untuk menenangkan diri, justru terbukti menjadi sumber mata air jernih pelepas dahaga. Itulah solusinya, pemahaman yang benar untuk menuju keseimbangan hidup sebagaimana manusia diciptakan diatas fitrahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi konsekuensi dari proses ini adalah sebuah perubahan nyata. Perubahan yang sangat mungkin – bahkan terbukti – banyak menyelisihi kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Meskipun perbedaan itu dalam tahap tertentu masih dapat ditoleransi, namun pada saat-saat lain ada hal-hal prinsipil yang membuat gerah dan menimbulkan keinginan kuat untuk merubahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan dengan seorang sahabat seputar persoalan kehidupan beragama menimbulkan sebuah komentar yang mengejutkan, "Dasar Wahabi!" Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan nada bercanda namun pernyataan itu membekas dalam hati. Benarkah aku seorang Wahabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini pengenalan akan seorang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – dimana orang-orang yang mengikutinya dinisbatkan kepada namanya menjadi Wahabi – teramat sangat minim. Proses pembelajaran yang selama ini dilalui dan yang pemikirannya banyak mempengaruhi dan merubah alur berpikir, yang mendorong untuk terus mempelajari agama ini dari sumbernya yang asli, Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman para sahabat, adalah seorang tokoh besar Ibnu Qayyim al Jauziyah, salah seorang murid terbaik ulama sekaliber Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan bukannya Syaikh Muhammad bin Abdul wahab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah karena alur pemikiran yang sejalan, orang juga akan mengatakan bahwa Ibnu Qayyim dan gurunya Ibnu Taimiyah – yang hidup jauh sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – adalah pengikut Wahabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kemudian teringat perbincangan dengan seorang teman yang lain, dan memang itulah yang dituduhkan kepada Ibnu Taimiyah, bahwa beliau ada seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aneh, bahkan sangat lucu. – jika tidak ingin dikatakan bodoh - Ibnu Taimiyah yang lahir tahun 661 H – 728 H dituduh sebagai wahabi, dengan kata lain sebagai pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir jauh sesudahnya yaitu pada tahun 1115 H?.Siapa yang mengikuti dan siapa yang diikuti? Dengan menggunakan logika berpikir yang paling sederhana pun tuduhan itu akan terlihat sangat menggelikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari perdebatan seputar siapa mengikuti siapa, ada rasa penasaran yang mendorong untuk mencari tahu lebih lanjut, siapa sebenarnya seorang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Para ulama berkata, kenalilah seseorang melalui tulisannya. Dan itulah yang saya lakukan, mulai mencari tulisan-tulisan beliau, mencari tahu dimana letak momok menakutkan yang membuat orang begitu alergi terhadap beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Kitab Tahuid, sebuah karya monumental beliau, dan kemudian disyarah oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh, kitab Tiga Landasan Utama yang disyarah oleh Syaikh Utsaimin, serta Menyingkap Argumen Penyimpangan Tauhid, yang seluruhnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar… ? Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tuduhan wahabi dilekatkan kepada mereka yang membenci pengangungan kuburan, termasuk kuburan orang-orang shalih, maka aku adalah seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika label wahabi dilekatkan kepada mereka yang berdakwah untuk memurnikan tauhid, seperti firman Allah : "Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun" (QS Al Mu’minuun : 59), maka aku adalah seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika istilah wahabi disandarkan kepada mereka yang mengharamkan berdo’a kepada selain Allah mengikuti firmanNya : "Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Yunus : 106) , maka aku ada seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang wahabi adalah mereka yang selalu berusaha menjauhkan segala macam kesyirikan sebagaimana firman Allah , "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An Nisa : 48), maka aku adalah seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebutan wahabi dinisbatkan kepada mereka yang percaya bahwa Nabi Muhammad SAW tidak dapat memberikan syafaat melainkan dengan seizin Allah SWT sebagaimana firmanNya, "Katakanlah: (hai Muhmmad) "Hanya kepunyaan Allah lah syafaat itu semuanya.." (QS Az Zumar : 44) dan firmanNya : ," Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya." (QS Al Baqarah : 255), ataupun firmanNy, "Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu.." (QS Saba : 23), maka aku adalah seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tuduhan wahabi dilontarkan kepada mereka yang mengharamkan segala jenis pengagungan atau keberkahan benda-benda dan tempat-tempat keramat, jimat, guna-guna termasuk segala ritual yang terkait dengannya, maka aku adalah seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tudingan wahabi ditujukan kepada mereka yang berusaha mengenal Allah, agama Islam dan Nabi Muhammad SAW dengan lebih baik dan mendalam seprti yang dituliskan dalam kitab Utsuluts Tsalasah (3 Landasan Utama), maka aku adalah seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih ada banyak jika semisalnya yang dinisbatkan kepada mereka yang dianggap wahabi, yang secara menyeluruh berupaya memurnikan kalimat tauhid laa ilaaha illallah beserta segala aspek yang terkait dengannya berikut konsekuensinya, maka alhamdulillah, saksikanlah aku telah menjadi seorang wahabi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh yang perlu dipertanyakan kepada mereka yang berpandangan "miring" dan cenderung meremehkan ketika memberi cap kepada seseorang sebagai wahabi, manakala semua jika diatas dikumpulkan dan dipertanyakan kepada diri masing-masing, kalimat apakah yang akan tertera mengikuti kata maka sebagai konsekuensinya? Karena menolak semua jika diatas maka keimanan akan persaksian terhadap kalimat tauhid yang selalu diulang dalam setiap shalat, perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sesungguhnya bukanlah yang memecah belah ummat ini dakwah untuk menegakkan tauhid - sebagaimana inti dakwah para nabi -melainkan dakwah lemah lembut yang membiarkan agama ini bercampur dengan segala kemusyrikan, adat istiadat, kepercayaan, bid’ah dan khurafat dengan dalih menghindari perpecahan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-8472671402829256213?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/8472671402829256213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=8472671402829256213' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/8472671402829256213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/8472671402829256213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/03/aku-pun-dituduh-wahabi.html' title='AKU PUN DITUDUH WAHABI…'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-5852727049721303197</id><published>2008-02-22T15:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-22T16:00:19.465-08:00</updated><title type='text'>JIHAD DENGAN ILMU</title><content type='html'>Imam Ibnu Qoyyim mengatakan: Tegaknya agama itu dengan ilmu dan jihad.oleh karena itu jihad ada dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama:&lt;/strong&gt;Jihad dengan tangan dan lisan,jihad dengan ini banyak yang mampu berpartisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua:&lt;/strong&gt;Jihad dengan hujah dan ilmu,jihad ini khusus karena hanya orang-orang yang berilmu yang mampu melakukannya,jihad jenis ini merupakan jihad yang paling utama,karena besarnya manfaat ,kerasnya tantangan dan banyak musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh berfirman: &lt;em&gt;Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir,dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran dengan jihad yang besar&lt;/em&gt; al-Furqon 25:52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah dimaklumi bahwa jihad kepada orang munafiq adalah dengan hujah dan al-Quran &lt;em&gt;miftah daar sa'adah&lt;/em&gt;Ibnul Qoyyim 1/70.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-5852727049721303197?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/5852727049721303197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=5852727049721303197' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/5852727049721303197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/5852727049721303197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/02/jihad-dengan-ilmu.html' title='JIHAD DENGAN ILMU'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-4203610113452131127</id><published>2008-02-22T15:55:00.001-08:00</published><updated>2008-02-23T16:58:57.645-08:00</updated><title type='text'>JIHAD KECIL?!</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kita kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mungkar&lt;/strong&gt; Hadits ini sangat populer sekali dan sering disampekan para da'i,namun tidak shohih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh al-Iroqi berkata:"sanadnya lemah"&lt;em&gt;takhrij Ihya' 2/6&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:"Hadits ini diriwayatkan dari jalan Isa bin Ibrohim dan yahya Laits bin Abu sulaim,pada hal seluruhnya adalah orang-orang yang lemah"&lt;em&gt;.Tahkrij al-Kasyaf 4/1140/33&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:"Hadits ini sangat masyur dan banyak beredar padahal itu hanya perkataan ibrohim bin Abu ablah,&lt;em&gt;seorang tabi'in dari Syam&lt;/em&gt; yang diriwayatkan oleh Nasa'i dalam &lt;em&gt;al-kunna Ad-Durar as-Suyuth&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul ISlam Ibnu Taimiyah berkata: Hadits ini tidak ada asalnya,tidak ada seorang ahli haditspun yang meriwayatkannya.Jihad melawan orang kafir merupakan amalan ketaatan yang paling utama bagi manusia&lt;em&gt;Majmu' fatawa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matan Hadits ini yang perlu ditinjau ulang,karena bagaimana jihad melawan orang kafir yang merupakan amalan yang sangat utama dalam islam disebut jihad yang sangat kecil,pada hal betapa banyak ayat dan Hadits yang menganjurkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-4203610113452131127?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/4203610113452131127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=4203610113452131127' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4203610113452131127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4203610113452131127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/02/jihad-kecil_22.html' title='JIHAD KECIL?!'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-6042938238335000436</id><published>2008-02-15T16:00:00.000-08:00</published><updated>2008-02-15T16:05:06.944-08:00</updated><title type='text'>THOLA'AL BADRU 'ALAINA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Telah muncul Purnama Kepada Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Daerah Tsaniyatul Wada'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajiblah bagi Kita Untuk Bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi masih Ada Orang Yang Berdo'a Kepada Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Orang Yang Diutus Kepada Kami &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Telah Datang Dengan PErkara Yang DiTaati&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senandung syair yang sangat populer dinegri ini,bahkan kalau tidak bisa membawakan syair ini belm bisa dikatakan seorang santri,kurang lebihnya seperi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kapan munculnya syair yang sangat ppuler ini?kisah ini muncul ketika penduduk kota madinahmenyambut kedatangan Rosululloh dan abu bakr yang melakukan perjalanan yang melelahkan ditengah intaian kaum Quraisy,MAka akhirnya Alooh menyelamatkan sampai kekota Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi kisah yang lain penduduk kota Madinah dari kaum laki-laki,wanita dan anak-anak setiap harinya keluar rumah menuju pingiran kota untukmenunggu beliau,sehingga suatu ketika dari kejauhan nampak debu-debu berterbangan yang semakin lama semakin dekat,alangkah bahagianya mereka tatkala mengetahui yang datang adalah Rosululloh,sosok agung yang mereka tunggu-tunggu lalu mereka menyenandungkan bait syair diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorangpun yang tak mengenal kisah ini,semua kitab sejarah menceritakan kedatangan Rosululloh kekota Madinah,bahkan senandung syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syair diatas dikatakan Rosululloh datang lewat dari daerah&lt;em&gt;Tsaniyatul Wada'&lt;/em&gt; dari ini saja sudah ada kesalahan, &lt;em&gt;Tsaniyatul Wada'&lt;/em&gt;adalah sebuah daerah yang berada disebelah utara kota madinah,sedangkan Makkah berada disebelah selatan kota MAdinah,dan orang makkah yang akan menuju kota Madinah tidak akan pernah melewati daerah &lt;em&gt;Tsaniyatul Wada'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian perowi salah tatkala meriwayatkan kisah ini terjadi saat kedatangan beliau dari Makkah ke Madinah,ini adalah kesalahan yang nyata karena daerah &lt;em&gt;Tsaniyatul Wada"&lt;/em&gt;berada diarah Syam,Daerah ini tidak akan pernah dilalui oleh orang yang datang dari Makkah kemadinah,Dan tidak akan dilewati kecuali oleh orangyang berangkat dari Madinah menuju Syam,Inilah yang diisyaratkan oleh &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Imam Ibnul qoyyim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Zadul Ma'ad&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;InsyAlloh....&lt;em&gt;bersambung&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-6042938238335000436?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/6042938238335000436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=6042938238335000436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/6042938238335000436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/6042938238335000436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/02/tholaal-badru-alaina.html' title='THOLA&apos;AL BADRU &apos;ALAINA'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-3941374940886603802</id><published>2008-01-30T15:54:00.000-08:00</published><updated>2008-01-30T15:56:54.072-08:00</updated><title type='text'>HABIS BERKUMPUL DENGAN ISTRI KOK MENURUNKAN JENAZAH!</title><content type='html'>Mungkin sudah tak terhitung,saat kita ikut mengantarkan jenazah sampai ketempat pemakaman,dan dari pengalaman anna (saya) saat prosesi penurunan jenazah keliang lahat kubur sering dilupakan,Siapa yang tak boleh atau tak berhak masuk keliang kubur untuk menurunkan jenazah dan menguburkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan karena merasa masih kerabat atau keluarga dengan sang jenazah,kita melupakan rambu-rambu,siapa yang tak boleh turun keliang kubur dan mengubur jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku jangan anda sekali-kali masuk keliang kubur,untuk menurunkan jenazah dan menguburkannya,bila anda telah &lt;strong&gt;berkumpul dengan istri anda&lt;/strong&gt; ( berhubungan badan).&lt;br /&gt;Apakah ini ada dasarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas berkata:&lt;strong&gt; kami mengantarkan jenazah putri Rosululloh ketia dikuburkan,Saat itu Rosululloh duduk dipekuburan,aku melihat matanya mengeluarkan air mata,lalu Beliau Bersabda:Apakah diantara kalian ada yang tidak berkumpul dengan istrinya malam ini?Lalu Abu Tholhah berkata:"saya"Rosululloh bersabda:turunlah kekuburnya,lalu dia turun dan menguburnya. (HR.bukhori 3/122,162)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hadits lain Rosululloh bersabda: &lt;strong&gt;seseorang yang mengumpuli istrinya dimalam ini tidak boleh masuk keliang kubur (HR.Ahmad 3/229-270)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dalil-dalil diatas masihkah kita selonang-selonong disaat pemakaman???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-3941374940886603802?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/3941374940886603802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=3941374940886603802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/3941374940886603802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/3941374940886603802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/01/habis-berkumpul-dengan-istri-kok.html' title='HABIS BERKUMPUL DENGAN ISTRI KOK MENURUNKAN JENAZAH!'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-2608753312265964676</id><published>2008-01-08T15:53:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T15:55:49.783-08:00</updated><title type='text'>KATANYA SAFI'IYAH TAPI KOK?!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BERSHOLAWAT DENGAN KATA "SAYYIDINA"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bersholawat dengan tambahan kata &lt;strong&gt;sayyidina&lt;/strong&gt; disyari'atkan atau masuk dalam kategori perkara baru yang diada adakan? kata &lt;strong&gt;sayyidina&lt;/strong&gt; yang artinya peghulu kami,tdak pernah sisyari'atkan bahkan ini termasuk perkara baru dalam agama,lebih-lebih ketika diucapkan dalam sholat,hal ini karena beberapa hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Para sahabat adalah manusia yang paling cinta dan menghormati Rosululloh,akan tetapi mereka tidak mengucapkan &lt;strong&gt;sayyidina&lt;/strong&gt; dalam ucapan sholawat mereka,ini berarti apa bila kita mengaku cinta dan menghormati Rosululloh,maka kita harus mengikuti jejak para sahabat yang sangat cinta pada Rosululloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Apa bila maksud perkataan atau ucapan &lt;strong&gt;sayyidina &lt;/strong&gt;penghormatan kepada Rosululloh,berarti harus ditambah kalimat lain sebagai peghormatan seperti&lt;strong&gt; uswatuna&lt;/strong&gt; (teladan kami) &lt;strong&gt;musthofana&lt;/strong&gt; (pilihan kami) &lt;strong&gt;habibina&lt;/strong&gt; ( kekasih kami ) dan lain sebagainya.yang semuanya tidak pernah dicontohkan Rosululloh dan para sahabat yang mengikuti beliau,sehinga agama Islam ini menjadi rusak,sedangkan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tidak satupun dari imam madzab mengajarkan tambahan &lt;strong&gt;sayyidina&lt;/strong&gt; dalam sholawat,bahkan Imam Safi'i dalam kitab-kitabnya ( seperti dalam muqodimah kitab al-um) menulis sholawat dengan kalimat &lt;strong&gt;"Allohumma sholli 'ala muhammad"&lt;/strong&gt; tanpa ditambah kalimat &lt;strong&gt;sayyidina&lt;/strong&gt; ,maka barang siapa mengaku pengikut madzab Safi'i hendaknya mengikuti petunjuk beliau yang sesuai petunjuk Rosululloh,sebagaimana yang dilakukan penerus madzab Safi'i yaitu: Imam ibnu hajar al-Asqolani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allohu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-2608753312265964676?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/2608753312265964676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=2608753312265964676' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/2608753312265964676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/2608753312265964676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2008/01/katanya-safiiyah-tapi-kok.html' title='KATANYA SAFI&apos;IYAH TAPI KOK?!'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-518025929735286217</id><published>2007-12-22T16:11:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:17:37.032-08:00</updated><title type='text'>ADAB BERDIALOG SEORANG MUSLIM</title><content type='html'>oleh: abu abid mm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam dan seraya berkata"Maaf aku kurang faham" Menjadikan dalam hati kita bertanya"dia benar-benar tidak tahu apa dia hati-hati dalam setiap memberi jawaban?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku ketika kita harus memilih antar menjawab dan tidak,perlu saudaraku ketahui mengingkari kemungkaran ada tahap-tahapan dan tingkatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama:Apabila kemungkaran tersebut hilang dan berganti sebaliknya ( kebaikan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua:Apabila kemungkarang tersebut mengecil sekalipun tidak hilang seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:Apabila kemungkaran tersebut berganti dengan kemungkaran semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat:Apabila kemungkaran tersebut berganti dengan kemungkarang yang lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku perlu kita ketahui hukum-hukum tingkat-tingkatan tadi,untuk tingkatan pertama dan kedua hukumnya sangat disyari'atkan,dan untuk tingkatan ketiga diperlukan pertimbangan yang sangat matang untuk melakukannya,sementara untuk tingkatan keempat hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku kita semua pasti ingin menang dalam berdebat/diskusi,saudaraku seharusnya kita selalu memegang tiga rahasia bila kita ingin selalu menang,ketiga rahasia itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu:Bergembiralah engkau bila lawanmu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua:Bersedihlah engkau bila lawanmu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga:Selalu berusahalah engkau untuk tidak menyakiti hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanalloh alangkah cerdasnya kita apa bila kita menerapkan tiga rahasia ini,dan selalu menjaga dalam berdialog dalam urusan dien (agama) untuk tidak mengedepankan akal kita,selalu berpegang teguhlah pada Al-Quran dan Assunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah wahai saudaraku kembalilah kepada manhaj Rosululloh dan para ulama Robbani dalam berdakwah yang penuh dengan hikmah demi merajut kembali ukuwah yang sudah kadung terkoyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-518025929735286217?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/518025929735286217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=518025929735286217' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/518025929735286217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/518025929735286217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/12/adab-berdialog-seorang-muslim.html' title='ADAB BERDIALOG SEORANG MUSLIM'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-6848418760081925385</id><published>2007-12-17T16:00:00.000-08:00</published><updated>2007-12-17T16:02:05.141-08:00</updated><title type='text'>SYAIR AQIDAH MUSLIM</title><content type='html'>Jika pengikut Ahmad adalah wahabi,&lt;br /&gt;Maka aku akui bahwa diriku wahabi.&lt;br /&gt;Kutiadakan sekutu bagi Tuhan,&lt;br /&gt;Maka tak ada Tuhan bagiku selain Yang Maha Esa&lt;br /&gt;Dan Maha Pemberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kubah yang bisa diharap,&lt;br /&gt;Tidak pula berhala begitu pula kuburan&lt;br /&gt;Tidaklah sebab diantara penyebab.&lt;br /&gt;Tidak,sama sekali tidak,tidak pula batu,&lt;br /&gt;Pohon,mata air patung-patung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga,aku tidak mengalungkan jimat,&lt;br /&gt;Temali,rumah kerang atau taring.&lt;br /&gt;Untuk mengharap manfaat atau untuk menolak bala.&lt;br /&gt;Alloh yang memberiku manfaat&lt;br /&gt;Dan menolak bahaya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bid'ah dan segala perkara yang diada-adakan dalam agama,&lt;br /&gt;Maka orang-orang berakal mengingarinya&lt;br /&gt;Aku berharap semoga kutakkan mendekatinya&lt;br /&gt;Tidak pula rela secara agama,ia tidak benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-6848418760081925385?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/6848418760081925385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=6848418760081925385' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/6848418760081925385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/6848418760081925385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/12/syair-aqidah-muslim.html' title='SYAIR AQIDAH MUSLIM'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1195198145216827424</id><published>2007-12-12T15:52:00.000-08:00</published><updated>2007-12-12T15:55:12.557-08:00</updated><title type='text'>PENAKWILAN SIFAT-SIFAT ALLOH ( BANTAHAN )</title><content type='html'>Oleh : abu abid mm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Menyikapi kejadian akhir-akhir ini yang paling hangat dibicarakan ditempat anna bekerja,Sebuah pertanyaan yang tidak asing lagi ditelinga seorang muslim "Dimana Alloh?Tapi kali ini kita tidak akan membahas pertanyaan ini karena udah jelas jawabannya.Alloh ber-istiwa' diatas Arsy-Nya.Sedikit anna coba membantah orang-orang yang jahil yang dengan akalnya melakukan penakwilan ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah Wal Jama'ah selalu menyakini bahwa sifat-sifat Alloh tidak boleh disamakan dengan sifat-sifat makhluk,tidak boleh ditanyakan bagaimana keadaanya,tidak boleh menakwilkan dengan sesuatu yang keluar dari makna dhohir sebagaimana yang telah diyakini salafus shalih,dan tidak boleh pula mengingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui "Tauqid asma wash sifat adalah mengesakan Alloh pada apa yang telah Dia namakan diri-Nya sendiri dengannya atau dengan apa yang telah dinamakan Rosululloh dan mengesakan Alloh pada apa yang dia sifatkan terhadap diriNya atau yang telah Rosululloh sifatkan untuk_Nya,tanpa mempertanyakan bagaimana ( kaifiyah ) atau menyerupakannya dengan makhluk,memalingkan maknanya dan mengingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin anna mendengar ada yang menakwilkan makna istiwa' dengan arti istaula ( menguasai ). anna berharap bila yang bersangkutan membaca coretan ini  jangan gunakan akal dalam urusan dien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas penakwilan diatas bertentangan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits.Alooh Berfirman yang artinya:Ar Rahman ber-istiwak diatas Arsy-Nya (thaha 5)dan masih banyak lagi hujah-hujah dari Al-Quran dan Al-Hadits.yang menerangkan bahwa Alloh beristiwa' diatas arsy_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi kalau anna melihat fenomena yang terjadi disekeliling anna ini tak lebih terlalu bersemangatnya mereka berdakwah dengan hujah sampaikanlah walau satu ayat,yang jadi pertanyaan seberapa benar/paham pemahaman kita tentang ayat yang kita sampekan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wollohu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1195198145216827424?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1195198145216827424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1195198145216827424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1195198145216827424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1195198145216827424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/12/penakwilan-sifat-sifat-alloh-bantahan.html' title='PENAKWILAN SIFAT-SIFAT ALLOH ( BANTAHAN )'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1484363951730310527</id><published>2007-12-10T22:02:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T22:05:25.298-08:00</updated><title type='text'>KUBUR YANG MENANTI</title><content type='html'>Judul : Kubur yang Menanti&lt;br /&gt;Penulis : Asyraf bin 'Adirrahim&lt;br /&gt;Penerjemah : Beni Sarbeni&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama - Mei 2005&lt;br /&gt;Halaman : xviii + 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubur merupakan barzakh (sebuah tembok pemisah) antara dunia dan akhirat. Ia &lt;br /&gt;juga merupakan jenjang pertama bagi kehidupan akhirat. Keimanan terhadap &lt;br /&gt;adanya adzab dan nikmat kubur merupakan bagian dari aqidah Ahlussunnah wal &lt;br /&gt;Jama'ah. Hadits-hadits yang menjelaskan adanya adzab kubur mencapai derajat &lt;br /&gt;mutawatir. Dan, pengingkaran terhadap akidah ini merupakan kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Rabi' bin Hadi 'Umair al &lt;br /&gt;Madkhali dalam kata pengantarnya, dapat dijadikan sebagai bahan pengingat &lt;br /&gt;agar tidak tenggelam dalam hiruk pikuknya urusan dunia. Di dalamnya &lt;br /&gt;dijelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang berkaitan dengan kubur. &lt;br /&gt;Diantaranya tentang keimanan atas siksa dan nikmat kubur. Kemudian pada &lt;br /&gt;bagian kedua, dijelaskan tentang sebab-sebab seseorang terkena adzab kubur. &lt;br /&gt;Dan pada bagian ketiga dijelaskan sebab-sebab yang dapat menyelamatkan &lt;br /&gt;seseorang dari siksa kubur; diantaranya yang terpenting adalah mewujudkan &lt;br /&gt;ketauhidan kepada Allah Jalla wa 'Ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini membuat kita merenung, apa yang telah kita perbuat untuk &lt;br /&gt;hari esok.&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah &lt;br /&gt;setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok &lt;br /&gt;(Akhirat)." (QS. Al Hasyr: 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya kutipkan sebagian dari buku tersebut dengan meringkasnya. &lt;br /&gt;Footnote dan takhrij lengkap dari hadits, tidak saya sertakan, semata-mata &lt;br /&gt;untuk ringkasnya tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH&lt;br /&gt;TENTANG KUBUR]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Adzab Kubur&lt;br /&gt;Mereka mengimani bahwa kuburan itu merupakan taman dari taman-taman Surga &lt;br /&gt;atau merupakan lubang dari lubang-lubang Neraka. Dan sesungguhnya siksa &lt;br /&gt;kubur itu merupakan siksa alam Barzakh, maka setiap mayit yang berhak &lt;br /&gt;mendapatkan siksa, niscaya dia akan mendapatkan siksa tersebut, baik dikubur &lt;br /&gt;ataupun tidak, dimakan hewan buas atau terbakar sehingga menjadi debu, &lt;br /&gt;ditaburkan di atas udara, disalib atau tenggelam di tengah lautan. Semuanya &lt;br /&gt;akan mendapatkan siksaan seperti orang yang dikubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1484363951730310527?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1484363951730310527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1484363951730310527' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1484363951730310527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1484363951730310527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/12/kubur-yang-menanti.html' title='KUBUR YANG MENANTI'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-492848149994250396</id><published>2007-11-30T15:55:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T16:49:39.872-08:00</updated><title type='text'>JANGAN BELI SURGA DENGAN JENGGOT( Bantahan )</title><content type='html'>Jawa Pos.Jumat 30 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan atas apa yang dikatakn Agus Maftuh dalam Bedah Buku Komunitas Tabayun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangapai pernyataan Pak dosen UIN jogjakarta yang mengatakan Bahwa memelihara jenggot adalah hanya kebiasaan orang arab,lebih tepatnya kebiasaan nabi memelihara jenggot pada hakikatnya lebih terkait dengan budaya orang arab.Jelas perkataan yang ganjil dan batil dan ini penolakan secara langsung terhadap Hadits rosul yang artinya"pendekanlah kumis dan peliharalah jenggot" (Bukhori 4/39 dan Muslim 1/22.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak ada satupun ulama yang mu'tabar yang berpendapat bahwa perintah ini khusu bagi orang-orang arab,bahkan para ulama sepakat bahwa mencukur jenggot merupakan perbuatan mutslah yang terlarang.&lt;br /&gt;syaikhul islam ibnu taimiyyah berkata "Diharamkan mencukur jenggot berdasarkan hadits yang shahih dan tidak ada seorang ulamapun yang membolehkannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari apa yang diucapkan pak dosen ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pak dosen ini memaknai Hadits secara kontekstual dan kandungan hadist tersebut bersifat lokal.Dan perlu diketahui pemikiran semacam ini sangat mirip dengan racun orang-orang shufiyyah,jahmiyah dan mutazilah yang membagi-bagi nash-nash Al-Quran dan sunah kepada hakekat dan majaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu kita ketahui para sahabat,para salaf,dan para ulama tidak satupun yang menyebutkan pembagian tersebut bahwa ajaran Islam dan Hadits nabi menjadi universal,tenporal lokal,Apa bapak dosen yang terhormat ini lupa bahwa Alloh Berfirman dalam QS al-A'raf[7]: 158 yang artinya: Katakanlah hai manusia,sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jelas makna ayat diatas bahwa Nabi Muhammad adalah rosul bagi semua manusia dan masih banyak lagi dijelaskan dalam ayatNya,seperti FirmanNya "Tidaklah Kami utus engakau melainkan untuk seluruh manusia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rasululloh ini mengakhiri bantahan buat bapak doen yang terhormat,Rasululloh bersabda "adalah nabi yang sebelumku diutus hanya kepada kaumnya,sedangkan aku kepada manusia semua (muttafaq'alaih dari hadits jabir bin abdulloh)&lt;br /&gt;Yang jadi ganjalan dalam hati saya pak dosen yang terhormat ini dan golongannya,lebih tepatnya para pengekornya selalu mengatakan organisasinyalah yang paling Ahlussunnah Waljama'ah tapi mengapa ingkar dengan sunah Rasululloh.Wallohu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*penulis abu abid CS Instrumen II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-492848149994250396?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/492848149994250396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=492848149994250396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/492848149994250396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/492848149994250396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/11/jangan-beli-surga-dengan-jenggot.html' title='JANGAN BELI SURGA DENGAN JENGGOT( Bantahan )'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-8113081901568070800</id><published>2007-11-17T16:47:00.000-08:00</published><updated>2007-11-17T16:56:54.253-08:00</updated><title type='text'>MEMBONGKAR  KERANCUAN DALAM TAUHID</title><content type='html'>Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : “jika anda telah mengerti apa yang telah aku katakan dengan pengertian yang meresap ke dalam hati,. Telah mengerti arti syirik yang telah dinyatakan oileh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dalam firman-Nya (yang artinya) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (An-Nisa’: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah mengerti pula din (agama) Allah yang dibawa oleh para rasul dari rasul yang paling pertama hingga rasul terakhir, dan telah mengerti pula kebodohan yang dialami oleh kebanyakan orang tentang ini, maka semua pengertian anda itu akan memberi dua faidah kepada anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kegembiraan karena mendapat karunia serta Allah sebagaimana firman-Nya (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Rasa takut yang besar sebab apabila anda telah memahami bahwa seseorang bisa menjadi kafir disebabkan sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya, sedangkan ia mengucapkannya karena kebodohannya, padahal kalimat kufur tersebut tidak termaafkan sebab kejahilannya itu, atau terkadang seseorang mengucapkan kata-kata kufur sedangkan ia menyangka bahwa perkataannya itu merupakan perkataan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Apalagi jika anda telah memahami berdasarkan petunjuk Allah -kisah tentang (kebodohan) kaumnya Musa `alaihis salam yang berkata kepada beliau seraya berkata- padahal mereka adalah orang-orang shalih dan berilmu- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala) yang mereka miliki” (Al-A`raaf: 138)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada saat ini (ketika anda telah memahami semua ini –pen), maka rasa takut anda akan menjadi sangat besar dan semangat anda untuk membersihkan diri dari hal-hal semacam di atas pun menjadi besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya apabila anda telah memahami semua perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas, anda telah memahami makna kalimat “la ilaha illallahu” dengan sebenar-benarnya dan anda telah mengerti kebodohan banyak orang terhadap kalimat tersebut, baik kebodohan yang bersifat sederhana maupun kebodohan yang keterlaluan. Maka pemahaman anda itu akan memberi anda dua faidah besar buat anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kegembiraan karena anda mendapat karunia Allah. Hal ini karena dua sisi nikmat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahwa Allah telah membukakan dan menganugrahkan pemahaman kepada anda hingga anda dapat memahami makna yang benar dari `la ilaha illallahu’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bahwa anda telah terselamatkan dari kesesatan kebanyakan orang disebabkan kesalahan mereka dalam memahami kalimat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan semacam ini yang termasuk diperintahkan Allah dalam firman-Nya (yang artinya:) Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kegembiraan seseorang karena mendapat nikmat Allah adalah ibadah, dan kegembiraan ini termasuk hal yang terpuji seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, satu kegembiraan di saat berbuka, dan satu kegembiraan lagi disaat bertemu dengan Rabbnya (dikeluarkan oleh Bukhari: 4/144- Fathul Bari dan Muslim : 8/278)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut yang amat besar apabila anda sampai jatuh ke dalam kekufuran kaum musyrikin. Sebab seseorang terkadang mengucapkan kata-kata kufur, padahal kekufuran tersebut tidak termaafkan hanya karena ketidak mengertiannya bahwa itu kufur. Maka jadilah ia orang yang kafir karena kata-kata yang diucapkannya itu sebagaimana telah diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya) “Sesunggunhnya seseorang berkata dengan suatu kalimat berupa kebencuan terhadap Allah, ia menganggap perkataannya itu tidak mengapa, tetapi dengannya ia terhempas ke dalam neraka (jauhnya) begini dan begini (dalam riwayat lain: (jauhnya/dalamnya) sejauh timur dan barat)(dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Fathul bari: 11/314, dan Muslim hadits no. 17/117 dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang selamat.&lt;br /&gt;Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingatkan agar hendaknya seorang muslim merasa takut bila dirinya memiliki persangkaan seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin berkenaan dengan makna tauhid; yaitu bahwa tauhid dipahami sebagai: “Hanya Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur”. Oleh karena itu beliau mengingatkan agar hendaknya manusia terus-menerus takut, kemudian disusul dengan selalu mengingat kisahnya kaum nabi Musa `alaihis salam ketika mereka berkata kepada Musa (yang artinya) “Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala) yang mereka miliki” (Al-A’raaf: 138)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musa menjawab (yang artinya):&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kalian ini orang-orang yang bodoh”&lt;br /&gt;” sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang mereka kerjakan” (Al-A’raaf: 139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam ayat diatas, Musa menjelaskan bahwa permintaan kaumnya agar Musa membuatkan berhala sebagaimana kaum musyrikin mempunyai berhala-berhala merupakan suatu kebodohan. Maka kalau peristiwa itu diingat, niscaya akan menimbulkan rasa takut di hati seseorang apabila dirinya sampai terjatuh ke dalam kesesatan serta kejahilan karena berprasangka bahwa makna `la illaha illallahu’ adalah “tidak ada Pemberi rizki, Pencipta dan pengatur kecuali Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dia yang dingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang banyak dialami oleh orang-orang ahlul kalam, yaitu orang-orang yang banyak bicara berdasarkan logika tentang Tauhid Rububiyah. Mereka beranggapan bahwa `la illaha illallahu adalah “ tiadaPencipta dan tidak ada Yang Maha Kuasa untuk mencipta kecuali Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meraka menafsiri kalimat yang agung ini dengan pebafsiran yang salah dan batil, penafsiran yang tidak perbah dikenal seorangpun di kalangan kaum muslimin, bahkan orang-orang musyrik arab dahulunya tidak dikenal penafsiran ini, bahkan orang-orang musyrik Arab dahulu jeuh lebih memahami kaliamt “la illaha illallahu” dibandingkan dengan orang-orang ahlu ilmu kalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah selanjutnya berkata: “Ketahilah bahwa dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wata’ala tidak mengutus seorang nabipun untuk membawa tauhid ini, melainkan Dia ciptakan musuh-musuh yang menentang nabi-Nya tersebut, sebagaimana firman Allah (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan(dari jenis) Jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manus ia) . Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (al-An’am: 122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak jarang musuh-musuh nabi Allah itu memiliki banyak ilmu, banyak kitab dan banyak hujjah, seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul ( yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka….(al-Mu’min:83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini Rahimahullah mengingatkan adanya satu pelajaran besar, yakni satu diantara hikmah Allah Ta’ala yaitu bahwa setiap kali Dia mengutus nabi-Nya, maka Dia ciptakan pula musuh-musuh penentangnya yang terdiri dari manusia dan jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya musuh ini berguna untuk menyaring dan memperjelas kebenaran, sebab setiap kali ada penentang, maka hujjah (bukti kebenaran ) nabi pun akan semakin kuat. Sebaliknya, apabila nabi diutus demikian saja tanpa penentang, akhirnya kebenaran (al haq) yang menjadi misinya tidak akan menjadi jelas, justru dengan adanya penentang itulah akan tejadi penentangan yang bakal mempertegas dan memperjelas al-haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintangan yang ditetapkan oleh Alah untuk para nabi-Nya ini juga ditetapkan bagi para pengikut mereka. Setiap para pengikut nabi pasti akan menghadapi penentang atau musuh-musuh seperti apa yang pernah dihadapi oleh para nabi, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam surat al-An’am ayat 112 diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Allah (yang artinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjsadi pemberi petunjuk dan penolong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah firman Allah pada ayat diatas yang artinya berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjk dan penolong”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ayat diatas diperhatikan, orang-orang yang berdosa (penjahat) yang memusuhi para nabi itu, melakukan permusuhannya kepada para rasul melalui dua jalan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Peragu-raguan (tasykik)&lt;br /&gt;2. Permusuhan.&lt;br /&gt;Adapun yang berkenaan dengan jalur tasykik (peragu-raguan), maka untuk mengatasinya Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;“Cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong “&lt;br /&gt;Jadi Allah Ta’ala pasti senantiasa memberi petunjuk kepada para rasul dan para pengikut-pengikutnya, dan pasti senantiasa memberi pertolongan kepeda mereka untuk mengalahkan musuh-musuhnya sekalipun musuh itu merupakan musuh yang paling kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu yang paling penting untuk diketahui ialah, bahwa seringkali musuh-musuh para rasul itu memiliki ilmu yang banyak, hingga dengan imunya mampu menjadikan kebenaran dan kebatilan kabur di mata manusia. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah (Q.S al-Mu’min:83) (yang artinya) :&lt;br /&gt;Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mmereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah yangb selalu mereka perolok-olokkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan (kebanggaan)yang termaktub dalam ayat ini jelas tercela, sebab ia merupakan kegembiraan yang tidak diridhai oleh Allah. Yang jelas berdasarkan ayat ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin menunjukkan agar seyogyanya setiap muslim mengetahui bahwa banyak diantara musuh Allah yang memiliki ilmu. Dengan pengetahuan ini, seorang muslim hendaknya bersiap diri menggalang bekal untuk menghadapi mereka.&lt;br /&gt;Begitu pula petunjuk yang diberikan rasul shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau mengutus Mu’adz ke Yaman. Beliau bersabda (yang artinya) :&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari kalangan ahli kitab (Bukhari 7/661 dan Muslim : no. 19).&lt;br /&gt;Artinya: Nabi menginginkan agar Mu’adz bersiap-siap menghadapi mereka yang tentunya banyak memiliki hujah, karena mereka adalah ahlul kitab.&lt;br /&gt;Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “bila anda telah mengerti semua itu dan telah memahami bahwa jalan menuju Allah itu pasti dihadang oleh musuh yang ahli bicara, ahli ilmu dan pandai berhujjah, maka kewajiban anda ialah mempelajari dinullah (secara baik) supaya nanti bisa menjadi senjata yang akan anda gunakan untuk memerangi para syaitan yang dedengkotnya dahulu pernah berkata kepada Allah (berisi ancaman bagi hambanya pen.) yaitu (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis menjawab karena engkau telah menghukum saya tersebut, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur(taat) (al-A’raf: 16-17).&lt;br /&gt;Tetapi manakala anda telah menghadapkan muka wajah anda kepada Allah, dan telah mendengarkan hujjah-hujjah dan penjelasan Allah maka anda tak perlu lagi merasa takut dan sedih, (sebab) Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya):&lt;br /&gt;Sesungguhnya tipu daya syaitan adalah lemah. (An-Nisa’: 76)&lt;br /&gt;Yakni apabila anda telah memahami bahwa musuh-musuh Allah tersebut mempunyai banyak kitab dan ilmu pengetahuan yang dengannya bisa digunakan untuk merancukan antara hak dan batil maka anda harus bersiap sedia menghadapi mereka dengan dua hal :&lt;br /&gt;Pertama: seperti diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, anda harus memiliki hujjah syar’iyyah dan aqliyah agar bisa melibas hujjah serta kebatilan mereka.&lt;br /&gt;Kedua: Anda harus mengenal kebatilan mereka, supaya anda dapat mengalahkan mereka.&lt;br /&gt;Selanjutnya, seorang muslim tidak perlu takut menghadapi hujjah-hujjah mereka (para musuh tauhid), karena hujjah mereka adalah batil dan itu merupakan tipu daya setan,sedangkan tipu daya setan itu lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan bahwa seorang awam dari kalangan orang yang bertauhid akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin itu,dasarnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya):.&lt;br /&gt;”Dan sesungguhnya tentara Kami,betul-betul pasti menang. (Ash-Shaffat : 173).&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan dengan satu orang awam dari kalangan orang-orang bertauhid adalah orang yang mengikrarkan tauhid dengan segenap macamnya yang tiga, yaitu tauhid Rububiyah Asma’ was-sifat serta Uluhiyah.(Orang awam menurut pandangan kaum tarekat sufiyah adalah orang yang seperti disebutkan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini, yaitu orang yang mengikrarkan tiga Tauhid :Uluhiyah, Rububiyah dan asma’ was-sifat. Sebab menurut mereka: tauhid terbagi menjadi tiga peringkat diantaranya (peringkat yang paling rendah): tauhidnya orang-orang awam, yaitu tauhidnya orang yang mengikrarkan tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ Was-Sifat&lt;a title="" href="http://www.salafyoon.net/#_ftn1"&gt; [1] &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang awam yang bertauhid ini pasti akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin, sebab ulama musyrikin tersebut tidak sempurna dalam mentauhidkan Allah, mereka hanya mentauhidkan Rububiyah Allah saja.&lt;br /&gt;Mengimati tauhid rububiyah semata jelas tidak benar, bahkan pada hakekatnya itu bukanlah tauhid yang sebenarnya. Buktinya Nabi Shalallahu `Alaihi Wa Sallam telah telah memerangi musyrikin yang secara rububiyah telah mentauhidkan Allah, namun tauhid semacam ini tidak berguna dan tidak menyebabkan darah serta harta mereka terpelihara&lt;br /&gt;Dengan demikian satu orang awam dari kalangan awam dari kalangan orang yang bertauhid masih lebih baik dari mereka. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman (yang artimya) :&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya tentara kami betul-betul akan menang”(Ash-Shaffat: 173)&lt;br /&gt;(Jadi orang awam yang bertauhid itu masih merupakan tentara Allah -pen), Tentara Allah ini menang berdasarkan hujjah serta penjelasannya sebagaimana ia juga menang dengan pedang serta anak panahnya. Tentara Allah berjihad fi sabilillah dengan dua cara:&lt;br /&gt;Pertama: Dengan hujjah dan penjelasan; hal ini dilancarkan katika menghadapi kaum munafiqin, orang-orang yang menyembunyikan permusuhan kepada kaum muslimin.&lt;br /&gt;Kedua: berjihad dengan pedang dan anak panah. Ini dilancarkan kepada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menyatakan kekufuran dan permusuhannya.&lt;br /&gt;Dua bentuk jihad ini sesuai denga firman Allah (yang artinya):&lt;br /&gt;Maka mereka merasakan akibat yang buruk akibat perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. (Ath-Thalaq: 9)&lt;br /&gt;Terkadang jihad dengan hujjah dan penjelasan juga dilakukan kepad kaum kuffar yang terang-terangan menyatakan kekafirannya, sebab orang-orang kafir terseb ut tidak diperangi dengan pedang sebelum tegak alasan untuk itu (belum ada hujjah untuk itu atas mereka).&lt;br /&gt;Jundullah (tentara Allah) adalah hamba-hamba Allah yang membela Allah dan rasul-Nya. Akhirnya Syaikh rahimahullah mengingatkan bahwa yang dikhawatirkan adalah apabila ada seorang yang bertauhid tetapi ia tidak memiliki kesiapan senjata (hujjah), hingga dikhawatirkan ia akan kalah manakala menghadapi hujjah lawan sehingga menimbulkan fitnah.&lt;br /&gt;Oleh karena itula seyogyanya setiap muslim yang bertauhid senantiasa siap sedia mempersenjatai dirinya dengan ilmu agamanya yang mapan. Wallahu `alamu bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://www.salafyoon.net/#_ftnref1"&gt;[1] &lt;/a&gt;Lihat catatan kaki Ta’liqat `Ala Kitab Kasyfusy Syubhat, hal: 27.&lt;br /&gt;Disadur dari At-Ta’liqot `Ala Kitab Kasyfisy-Sybhat Li Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, ta’liq syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-8113081901568070800?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/8113081901568070800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=8113081901568070800' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/8113081901568070800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/8113081901568070800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/11/membongkar-kerancuan-dalam-tauhid.html' title='MEMBONGKAR  KERANCUAN DALAM TAUHID'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-2854826105980526616</id><published>2007-11-17T16:40:00.000-08:00</published><updated>2007-11-17T16:46:54.687-08:00</updated><title type='text'>PERANG ANTARA TAUHID DENGAN SYIRIK</title><content type='html'>Perang antara tauhid dengan syirik telah terjadi sejak lama. Sejak zaman Nabi Nuh Alaihis Salam menyeru kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada berhala-berhala. Nabi Nuh berada di tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Beliau menyeru kaumnya kepada tauhid, tetapi penerimaan mereka sungguh di luar harapan. Secara jelas Al-Qur'an meng-gambarkan penolakan mereka, dalam firmanNya: "Dan mereka berkata, 'Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghust, ya'uq dan nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia)." (Nuh: 23-24) Tentang tafsir ayat ini, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas , dia berkata: Ini adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaumnya agar mereka membuat patung orang-orang shalih tersebut di tempat-tempat duduk mereka, dan agar memberinya nama sesuai dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukan perintah setan tersebut. Pada awalnya, patung-patung itu tidak disembah. Tetapi ketika mereka semua sudah binasa dan ilmu telah diangkat, mulailah patung-patung itu disembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya datanglah para rasul sesudah Nabi Nuh. Mereka menyeru kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan agar meninggalkan apa yang mereka sembah selain Allah, sebab mereka tidak berhak untuk disembah. Renungkanlah Al-Qur'anul Karim yang menceritakan tentang keadaan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?." (Al-A'raaf: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Shalih berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia." (Huud: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Shalih berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia." (Huud: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia." (Huud: 84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku." (Az-Zukhruf: 26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap dakwah para nabi tersebut, kaum musyrikin meresponnya dengan penentangan dan pengingkaran terhadap apa yang mereka bawa. Orang-orang musyrik itu memerangi para rasul dengan segala kemampuan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam misalnya, sebelum diutus sebagail rasul, beliau terkenal di kalangan orang-orang Arab dengan julukan "ash-shaa-diqul amiin" (yang jujur dan dapat dipercaya). Tetapi tatkala beliau mengajak kaumnya menyembah kepada Allah dan mengesakanNya, serta menyeru agar meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang mereka, serta merta mereka lupa dengan sifat jujur dan amanah beliau. Lalu mereka menghujaninya dengan berbagai julukan buruk. Di antaranya ada yang menjuluki beliau dengan "ahli sihir lagi pendusta". Al-Qur'an mengisahkan penolakan mereka terhadap dakwah tauhid dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak dusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Se-sungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengheran-kan." (Shaad: 4-5) "Demikianlah tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan. "Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenar-nya mereka adalah kaum yang melampaui batas." (Adz-Dzaari-yaat: 52-53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah itulah sikap segenap rasul dalam dakwahnya kepada tauhid. Dan sebagaimana gambaran ayat-ayat di atas itulah sikap kaum mereka yang pendusta lagi mengada-mengada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kita saat ini, jika seorang muslim mengajak sesama saudara muslim lainnya kepada akhlak, kejujuran dan amanah, ia tidak akan menemukan orang yang menentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya jika ia mengajak mereka kepada tauhid yang kepadanya para rasul menyeru yaitu berdo'a (memohon) hanya semata-mata kepada Allah dan tidak memohon kepada selainNya, baik kepada para nabi atau wali, karena sesungguhnya mereka hanyalah hamba Allah, niscaya orang-orang segera menentangnya dan menuduhnya dengan berbagai tuduhan dusta. Mungkin mereka akan dituduh wahabi, dengan maksud untuk membendung manusia dari dakwah kepada tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sang da'i mengetengahkan ayat yang didalamnya terdapat ajakan kepada tauhid, mereka tak segan-segan menuduh dengan mengatakan, "Ini ayat wahabi". Manakala sang da'i membawakan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah dan jika kamu mohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka serta merta sebagian mereka akan mengatakan, "Itu hadits wahabi." Bila seseorang shalat dengan meletakkan tangan di atas dada, atau menggerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud , sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, maka sebagian orang akan mengatakan sebagai orang wahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata wahabi seakan menjadi simbol bagi setiap orang yang mengesakan Allah, yang hanya menyembah Tuhan Yang Satu, dan mengikuti sunnah nabiNya. Sesungguhnya wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi). Ia adalah salah satu dari nama-nama Allah Yang Paling Baik. Berarti Dialah yang memberikan kepadanya tauhid, yang merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi orang-orang yang mengesakan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para du'at kepada tauhid hendaknya sabar dan meneladani Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, yang kepadanya Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Al-Muzammil: 10) "Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka." (Al-Insaan: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang Islam hendaknya menerima dakwah kepada tauhid, serta mencintai pada da'inya. Karena sesungguhnya tauhid adalah dakwah para rasul secara keseluruhan, juga dakwah Rasul kita Muhammad. Maka barangsiapa mencintai Rasul Shallallahu'alaihi wasallam, niscaya dia akan mencintai dakwah kepada tauhid dan barangsiapa membenci kepada dakwah tauhid, maka berarti ia telah membenci Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-2854826105980526616?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/2854826105980526616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=2854826105980526616' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/2854826105980526616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/2854826105980526616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/11/perang-antara-tauhid-dengan-syirik.html' title='PERANG ANTARA TAUHID DENGAN SYIRIK'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-4231717284606959441</id><published>2007-11-06T17:38:00.000-08:00</published><updated>2007-11-06T17:39:52.401-08:00</updated><title type='text'>Yahudi dan Nasrani adalah Orang Kafir</title><content type='html'>Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya: (bagaimana pendapat beliau) tentang perkataan seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa bahwa (kita) tidak boleh mengkafirkan Yahudi dan Nashrani?&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;Ucapan yang keluar dari orang ini adalah ucapan sesat. Bahkan bisa jadi ia merupakan kekafiran, karena Allah telah mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani dalam kitab-Nya:&lt;br /&gt;“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31)&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik (menyekutukan Allah) dan Allah menerangkan dalam banyak ayat lain yang dengan tegas mengkafirkan mereka.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” (Al-Maidah: 17, 72)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)&lt;br /&gt;“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam.” (Al-Maidah: 78)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)&lt;br /&gt;Ayat-ayat lain dalam masalah ini jumlahnya cukup banyak, demikian pula hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang mengingkari kafirnya Yahudi dan Nashrani yang tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebaliknya malah mendustakannya, berarti ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan mendustakan Allah adalah kekafiran. Barangsiapa yang ragu terhadap kekafiran Yahudi dan Nashrani maka tidak ada keraguan tentang kafirnya dia.&lt;br /&gt;Subhanallah, bagaimana orang ini merasa ridha untuk mengatakan bahwa kita tidak boleh mengatakan kafir kepada Yahudi dan Nashrani, padahal mereka mengatakan bahwa Allah itu adalah tuhan ketiga dari tuhan yang (jumlahnya) tiga?! Padahal Pencipta mereka telah mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.&lt;br /&gt;Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nashrani padahal mereka mengatakan bahwa Al-Masih adalah putra Allah dan mengatakan tangan Allah itu terbelenggu? Juga mengatakan bahwa Allah faqir dan mereka kaya. Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nasrani padahal mereka mensifati Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sifat-sifat jelek yang semuanya adalah aib, celaan dan cercaan?&lt;br /&gt;Saya mengajak orang ini untuk bertaubat kepada Allah dan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)&lt;br /&gt;Jangan ia ber-mudahanah (megorbankan prinsip agama demi menjaga perasaan mereka -pent) dengan Yahudi dan Nashrani dalam hal kekafiran mereka. Dan hendaknya ia menerangkan kepada setiap orang bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan penghuni neraka. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: bersabda:&lt;br /&gt;“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah dari umat ini baik Yahudi atau Nashrani mendengar tentang aku, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)&lt;br /&gt;Maka wajib atas orang yang mengucapkan ini (yaitu ucapan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak kafir) untuk bertaubat kepada Allah dari ucapan dan kebohongan yang besar ini, dan agar mengatakan terang-terangan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan para penghuni neraka. Dan yang wajib bagi mereka adalah mengikuti Nabi yang ummi yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam karena (nama) beliau sesungguhnya telah tertulis di sisi mereka dalam kitabTaurat dan kitab Injil.&lt;br /&gt;“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)&lt;br /&gt;Itu adalah kabar gembira dari Nabi ‘Isa bin Maryam 'alaihimassalam. ‘Isa bin Maryam 'alaihimassalam telah berkata sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala kisahkan dalam Al Qur’an:&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa Putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaff: 6)&lt;br /&gt;Tatkala datang kepada mereka (seseorang) yang dikabarkan ia adalah Ahmad, dengan membawa al-bayyinat (keterangan-keterangan), mereka mengatakan: “Ini adalah sihir yang nyata.” Dengan ini kamu membantah pengakuan orang Nashrani yang mengatakan: “Sesungguhnya yang dikabarkan oleh ‘Isa adalah Ahmad bukan Muhammad.”&lt;br /&gt;Maka kita katakan, “Sesungguhnya Allah berfirman yang artinya: “Maka tatkala datang kepada mereka.” Dan tidak ada yang datang setelah ‘Isa 'alaihissalam kecuali Muhammad dan Muhammad adalah Ahmad akan tetapi Allah mengilhami Nabi ‘Isa 'alaihissalam untuk menyebut Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan nama Ahmad. Karena Ahmad adalah ism tafdhil dari kata hamd. Jadi dia adalah orang yang sangat memuji Allah dan beliau adalah orang yang sifatnya paling terpuji.&lt;br /&gt;Sungguh aku katakan, barangsiapa yang menganggap bahwa di muka bumi ini ada agama yang diterima oleh Allah selain Islam, maka dia kafir dan tiada keraguan tentang kekafirannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya:&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)&lt;br /&gt;Atas dasar ini - saya ulangi yang ketiga kalinya - orang yang mengatakan hal ini agar bertaubat kepada Allah dan menerangkan kepada seluruh manusia bahwa Yahudi dan Nashrani adalah orang-orang kafir karena hujjah telah tegak pada mereka dan telah sampai kepada mereka risalah akan tetapi mereka kafir karena membangkang. Sungguh Yahudi telah disifati bahwa sebagai orang-orang maghdhub ‘alaihim (orang yang dimurkai) karena mereka mengetahui kebenaran namun menyelisihinya. Dan Nashara disifati dengan dhallun (sesat) karena menginginkan kebenaran tapi tersesat. Sekarang semua telah tahu yang benar akan tetapi mereka menyelisihinya, maka mereka semua berhak untuk menjadi orang-orang yang dimurkai.&lt;br /&gt;Aku mengajak mereka, Yahudi dan Nashrani, untuk beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan agar mengikuti Muhammad, karena inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan:ِ&lt;br /&gt;“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…” (Al-A’raf: 156-157)&lt;br /&gt;“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)&lt;br /&gt;Hendaknya mereka mengambil dua pahala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;“Tiga golongan yang mereka mendapatkan dua pahala, (salah satunya yaitu) seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman dengan Nabinya dan beriman dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam …” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Kitabul ‘Ilm, no. 95)&lt;br /&gt;Kemudian setelah keterangan ini aku mendapatkan ucapan penulis kitab Al-Iqna’ dalam Bab Murtad, beliau mengatakan setelah ucapannya yang sebelumnya: “… (seseorang) yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nashara, ragu terhadap kekafiran mereka, atau menganggap ajaran mereka adalah benar, maka dia kafir.”&lt;br /&gt;Dinukilkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ucapan beliau: “Barangsiapa yang meyakini bahwa gereja-gereja adalah rumah Allah, bahwa Allah diibadahi di sana, dan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashara adalah ibadah dan (merupakan bentuk) ketaatan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, atau ia suka dengan hal itu, ridha terhadapnya, membantu mereka untuk melakukannya dan menegakkan mereka, dan (menganggap) bahwa itu merupakan bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Allah atau ketaatan kepada-Nya, maka dia kafir.”&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan dalam kesempatan yang lain: “Barangsiapa yang menyakini bahwa mengunjungi ahludz dzimmah (orang kafir yang hidup di negeri muslim) di gereja-gereja mereka adalah merupakan qurbah kepada Allah, maka ia murtad.” Ini menguatkan apa yang kami katakan di awal jawaban dan ini merupakan perkara yang tidak ada kesamaran padanya. Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;Menghadiri Hari Raya non Muslim&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum berbaurnya muslimin dengan non muslim dalam acara hari raya mereka?&lt;br /&gt;Jawab: Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram, karena dalam perbuatan itu mengandung tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan, sedangkan Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (Al Maidah: 2)&lt;br /&gt;Dan karena perayaan perayaan ini jika bertepatan dengan acara-acara keagamaan mereka maka ikut serta dalam hal itu berarti membenarkan agama mereka dan ridha dengan apa yang mereka ada padanya dari kekafiran. Adapun jika perayaan itu bukan karena bertepatan dengan acara keagamaan mereka, seandainya ini dilakukan oleh muslimin saja hal itu tidak boleh, bagaimana bila dilakukan oleh orang kafir?! Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa tidak boleh bagi kaum muslimin untuk ikut bersama non muslim dalam acara hari raya mereka, karena hal itu berarti persetujuan dan ridha terhadap agama mereka yang batil. Juga terkandung di dalamnya adanya saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan.&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang seseorang non muslim yang menghadiahkan kepadamu sebuah hadiah berkaitan dengan hari raya mereka, apakah kamu boleh menerimanya atau tidak boleh?&lt;br /&gt;Di antara ulama ada yang mengatakan tidak boleh menerima hadiah dari mereka pada acara hari raya mereka, karena ini adalah tanda kerelaan. Sebagian ulama yang lain ada yang mengatakan tidak mengapa untuk menerimanya. Bagaimanapun, jika di sana tidak ada larangan yang syar’i yang menjadikan orang yang memberimu hadiah meyakini bahwa kamu ridha terhadap ajaran agama mereka, maka tidak mengapa kamu menerimanya. Kalau tidak seperti itu, maka lebih utma untuk tidak menerimanya.&lt;br /&gt;Ada baiknya kita menyebutkan apa yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam dalam kitab Ahkam Ahlidzimmah (1/205): “Dan adapun memberikan ucapan selamat dengan syi’ar-syi’ar kekafiran yang khusus maka hal ini haram dengan kesepakatan ulama. Seperti memberikan ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seraya mengatakan: ‘Ied yang berkah’, atau memberikan ucapan selamat karena hari raya mereka dan sejenisnya, maka ucapan ini kalaupun dianggap tidak menyebabkan kafir, maka ini (memberi ucapan selamat pada hari raya mereka -red) termasuk sesuatu yang haram. Dan hal itu seperti halnya memberikan ucapan selamat atas sujud mereka kepada salib… dan banyak orang yang tidak menghargai agamanya jatuh dalam perbuatan itu.&lt;br /&gt;Memberi Salam Kepada Non Muslim&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah kemudian ditanya tentang hukum memberi salam kepada non muslim.&lt;br /&gt;Maka beliau rahimahullah menjawab: Memulai salam kepada mereka haram, tidak boleh dilakukan karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Jangan kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dengan salam dan jika kalian bertemu mereka di jalan maka arahkan mereka ke (tempat) yang tersempit.” (Shahih, HR. Muslim)&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain beliau –Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah – mengatakan: Jika ada orang kafir memberi salam kepada seorang muslim dengan salam yang jelas “Assalamu ‘alaikum,” maka kamu menjawab: “‘Alaikassalam” (atau “Wa ‘alaikumus salam” -pent) berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An-Nisa: 86)&lt;br /&gt;Adapun jika tidak jelas ucapan salamnya maka kamu jawab: “Wa ‘alaik.” Demikian juga jika jelas mengatakan: “Assamu ‘alaikum,” yang artinya kematian atas kamu, maka dijawab: “Wa ‘alaik” (semoga atas kamu juga).&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;(Diterjemahkan dari kumpulan fatwa beliau Majmu' Fatawa jilid ketiga pada pembahasan Al-Wala' wal Bara' oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc.)::Majalah Asysyariah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-4231717284606959441?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/4231717284606959441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=4231717284606959441' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4231717284606959441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4231717284606959441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/11/yahudi-dan-nasrani-adalah-orang-kafir.html' title='Yahudi dan Nasrani adalah Orang Kafir'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-987335655024975346</id><published>2007-11-06T17:34:00.000-08:00</published><updated>2007-11-06T17:38:25.566-08:00</updated><title type='text'>Hermeneutika dan Fenomena Taklid Baru</title><content type='html'>Oleh : Adian Husaini Hermeneutika kini telah menjadi begitu populer di Indonesia dan diajukan oleh berbagai pihak sebagai alternatif pengganti metode tafsir ‘klasik’ dalam memahami Al-Quran.Sejumlah nama pemikir modernis, neo-modernis, atau post-modernis –seperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoen, al-Jabiri, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zeid, Farid Essac, dan lainnya– kini menjadi idola baru dalam memahami al-Quran dan Sunnah Rasul. Mereka begitu populer dan dikagumi di berbagai institusi pendidikan dan ormas Islam, menggantikan tokoh-tokoh pemikir besar Islam, seperti Syafii, Maliki, Hanafi, Ahmad bin Hanbal, al-Ghazali, Ibn Taimiyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan yang lainnya. Kaum Muslimin Indonesia kini digerojok dengan ratusan –mungkin ribuan– buku, makalah, dan artikel tentang hermeneutika, dengan satu pesan yang sama: “Tinggalkan (paling tidak, kritisi!) tafsir lama. Jangan percaya begitu saja pada penafsirnya, bahwa mereka adalah tulus dan tidak punya maksud apa-apa. Mereka juga manusia, mereka punya kepentingan, punya wawasan yang terpengaruh oleh faktor sosial budaya ketika itu”. Prof Amin Abdullah, misal&amp;shy;nya, menulis dalam satu buku hermeneutika: “Metode penaf&amp;shy;siran Al-Quran selama ini senantiasa hanya memper&amp;shy;hatikan hubungan penafsir dan teks Al-Quran tanpa pernah meng&amp;shy;eksplisit&amp;shy;kan kepenti&amp;shy;ngan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi, sebab para mufasir klasik lebih menganggap tafsir Al-Quran sebagai hasil kerja-kerja kesalehan, yang dengan demikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya. Atau barangkali juga karena trauma mereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertaru&amp;shy;ngan politik yang maha dahsyat pada masa-masa awal Islam. Terlepas dari alasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam.” Dalam buku yang sama juga disebutkan bahwa, Hassan Hanafi menawarkan cara baru dalam membaca al-Quran. Metode Hassan Hanafi, seperti juga Arkoen, dikatakan telah menghindarkan diri dari penafsiran yang subjektif dan menjadikan teks sebagai sekedar justifikasi dan dalih bagi kepentingan penafsir. Kini sudah saatnya ada panduan metodologis yang dapat menjadi “pencerahan” bagi mufasir-mufasir muda Muslim dalam menjembatani antara al-Quran dan kemanusiaan. Ditulis juga dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. ” (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembe&amp;shy;basan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10). Umat Islam tentu tidak boleh apriori dengan satu informasi. (QS Al-Hujurat:6). Jika dikatakan kaum Muslim perlu menggunakan herme&amp;shy;neutika sebagai pengganti tafsir klasik, karena sebagian besar tafsir klasik dianggap melanggengkan status quo, menyebabkan kemunduran, dan sebagainya, maka perlu dipertanyakan, tafsir yang mana? dan “sebagian besar” itu berapa banyak? Sekarang ada ribuan tafsir Al-Qur`an. Yang mana yang sudah dibaca para pengritik tafsir lama itu? Tafsir al-Azhar ditulis Hamka dalam penjara. Begitu juga Tafsir Fii Zhilal al-Quran. Bahkan penulis&amp;shy;nya, Sayyid Quthub, akhirnya meninggal digantung penguasa. Selama ratusan tahun, dunia Islam menge&amp;shy;nyam kemajuan dan perkem&amp;shy;bangan di berbagai bidang ilmu pengetahuan, padahal tidak menggunakan metode herme&amp;shy;neutika yang gencar dipromo&amp;shy;si&amp;shy;kan belakangan ini. Imam Ahmad, Ibn Taymiyah, dan lainnya adalah para penentang penguasa, dan telah menunjuk&amp;shy;kan diri sebagai ilmuwan besar dalam sejarah Islam. &lt;br /&gt;Fenomena Taqlid baru&lt;br /&gt;Sebenarnya praktek “belah bambu” semacam ini meru&amp;shy;pakan gejala yang mempri&amp;shy;hatinkan dalam dunia ilmiah dan akademis. Klaim bahwa Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Arkoen, Nasr Hamid, dan sebagainya “bebas dari kepentingan” dibandingkan dengan mufassir klasik, sangatlah tidak ilmiah. Tanpa bersikap apriori, pemikiran Hassan Hanafi dan lain-lain itu perlu dikaji dengan kritis. Namun, seyogyanya, tidak disertai dengan memberikan prasangka kepada pemikir-pemikir Muslim besar lain sebelumnya, sebelum mem&amp;shy;baca karya mereka sendiri. Malah, yang lebih mempri&amp;shy;hatinkan, analisis-analisis Jabiri, Nasr Hamid ter&amp;shy;hadap pemikiran al-Syafii, al-Ghazali, dan sebagai&amp;shy;nya, terkadang diimani begitu saja, bahkan dijadikan rujukan tanpa mengecek dan membaca kitab-kitab para imam itu secara langsung. Padahal, kitab-kitab para imam besar itu berjumlah ratusan. Tapi kemudian dirumuskan dan disimpulkan dalam satu atau dua kalimat oleh analis. Sikap seperti ini adalah sebuah bentuk taklid buta. Jadi, ketika mereka menolak taklid kepada para imam besar, di saat yang sama mereka justru melakukan taklid kepada pemikir modernis atau post-modernis, Muslim atau non-Muslim. Dalam hal hermeneutika juga demikian. Berbagai buku tentang hermeneutika dan aplikasinya dalam pemikiran Islam, menunjukkan adanya fenomena rujukan (taklid) pada pemikiran Scleiermacher dan Dilthey, untuk hermeneutika teoritis; taklid kepada orang seperti Gadamer untuk herme&amp;shy;neutika filosofis; atau taklid kepada Jurgen Habermas untuk metode hermeneutika kritis. Metode-metode tafsir mereka itulah yang dianggap lebih tepat untuk menafsirkan al-Quran, ketimbang metode para ulama tafsir. Sebenarnya para ulama Islam sejak dulu telah mengem&amp;shy;bangkan sikap kritis, tidak apriori terhadap pemikiran-pemikiran asing. Namun, mereka tidak menempatkan dan memahami Islam dalam kerangka dan sistem episte&amp;shy;mo&amp;shy;logis yang berbeda dengan Islam. Sebab, Islam bukan hanya al-Quran dan Sunnah, tetapi juga cara memahami (epistemologis) kedua sumber utama Islam itu. “Cara memahami” adalah hal yang sangat vital. Di sinilah perlunya masalah herme&amp;shy;neutika didudukkan dengan serius. Sebab, istilah dan metodologi ini bukan berasal dari tradisi Islam. Sebagai contoh, hermeneutika teoritis menekankan faktor “kecuri&amp;shy;gaan” terhadap penafsir awal, sedangkan hermeneutika kritis justru menekankan kecuriga&amp;shy;an terhadap teks itu sendiri. &lt;br /&gt;Tafsir nyeleneh ala Hermeneutika&lt;br /&gt;Sebagian perumus teori hermeneutika, mengajukan gagasan “pemisahan teks dari pengarangnya” sebagai upaya untuk memahami teks dengan lebih baik. Bahkan, orang seperti Scleiermacher meng&amp;shy;aju&amp;shy;kan gagasan tentang kemungkinan penafsir dapat memahami lebih baik dari pengarangnya. Jika gagasan ini diterapkan untuk al-Quran, siapakah yang mampu mema&amp;shy;hami Al-Quran lebih baik dari Allah SWT atau Rasul-Nya? Inilah yang disesalkan banyak cendekiawan Muslim terhadap gagasan Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa al-Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafy). Dengan menganggap Al-Quran semata-mata adalah produk budaya, karya sastra biasa, atau sekedar teks linguistik seperti teks-teks lainnya, maka itu berarti telah memisahkan al-Quran dari “Pengarangnya”, yaitu Allah SWT. Padahal, sebagai kalam Allah, Al-Quran adalah tanzil. Redaksinya pun berasal dari Allah SWT. Dia memang bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab biasa. Dia adalah wahyu. Karena wahyu, maka manusia yang paling mema&amp;shy;hami maknanya adalah Rasul-Nya dan orang-orang yang sezaman dengannya (para sahabat). Jika teks Al-Qur`an dice&amp;shy;rabut dari penjelasan Rasu&amp;shy;lullah SAW dan diletakkan dalam konteks paradigma “Marxis”, maka maknanya tentu bisa berubah secara mendasar. Jika Allah meng&amp;shy;haramkan babi, lalu dianalisis secara sosial-budaya ketika itu, maka akan bisa disimpul&amp;shy;kan secara hermeneutis, bahwa babi haram karena dagingnya enak dan tidak ada di Arab. Sekedar interupsi, Hamka pernah bercerita, pada tahun 1963 seorang pelajar SMP di Semarang mengirim surat kepadanya. Si pelajar bercerita bahwa gurunya, seorang pemeluk setia agama Katolik, menerangkan dalam kelas tentang sebab diharamkannya daging babi. Kata guru itu, Nabi Muhammad sangat suka makan daging babi, sebab terlalu enak. Pada suatu hari pelayan beliau mencuri perse&amp;shy;diaan daging babi yang akan beliau makan. Ketika datang waktu makan, beliau minta persediaan daging yang sangat enak itu. Si pelayan mengaku salah, telah mencuri dan memakan daging babi itu. Mendengar itu, Nabi Muham&amp;shy;mad sangatlah marah karena dagingnya dicuri. Saking marah&amp;shy;nya, mulai hari itu dijatuhkanlah hukuman: “Haram atas umatku makan daging babi”. Lihat, Hamka, Studi Islam, 1985:245-246); Selain itu, hukum potong tangan akan dikatakan sebagai hukum yang hanya cocok untuk masyarakat baduy gurun di Arab; alasan muslimah haram kawin dengan laki-laki non-muslim karena masya&amp;shy;rakat&amp;shy;nya didominasi laki-laki; jilbab hanya wajib untuk daerah Arab karena iklimnya panas dan berdebu; khamr haram hanya di daerah panas; homoseksual haram karena ketika itu belum ada HAM; dan sebagainya. Berbagai pemahaman nyeleneh seperti di atas, akan terus bermunculan apabila hermeneutika digunakan dalam menginterpretasikan Al-Qur’an. hermeneutika ilmu sesat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-987335655024975346?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/987335655024975346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=987335655024975346' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/987335655024975346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/987335655024975346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/11/hermeneutika-dan-fenomena-taklid-baru.html' title='Hermeneutika dan Fenomena Taklid Baru'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1547918695315607336</id><published>2007-11-06T17:25:00.000-08:00</published><updated>2007-11-06T17:30:25.609-08:00</updated><title type='text'>Pluralisme ajaran sesat</title><content type='html'>Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inklusivisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiallahu 'anhu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:&lt;br /&gt;“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini2 baik orang Yahudi maupun orang Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”&lt;br /&gt;Hadits yang mulia di atas diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya no. 153 dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi “Wujubul Iman bi Risalatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ila Jami’in Nas wa Naskhul Milali bi Millatihi” (Wajibnya seluruh manusia beriman dengan risalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan terhapusnya seluruh agama/ keyakinan yang lain dengan agamanya).&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan terhapusnya seluruh agama dengan diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seluruh manusia (dan jin) yang menemui zaman pengutusan beliau sampai hari kiamat wajib untuk menaati beliau. Di sini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya menyebut Yahudi dan Nashrani karena mereka berdua memiliki kitab (yang diturunkan dari langit). Hal ini diinginkan sebagai peringatan bagi selain keduanya, sehingga lazimnya apabila mereka (Yahudi dan Nashrani) saja harus tunduk dan menaati beliau, maka selain keduanya yang tidak memiliki kitab lebih pantas lagi untuk tunduk. (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 2/188, Darur Rayyan 1407 H)&lt;br /&gt;Agama ini mengajarkan kepada umat Islam untuk mengatakan bahwa agama selainnya adalah kafir, sehingga dalam keyakinan Islam, agama lain tidak bisa dibenarkan keberadaannya. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan salah satu tujuan diutusnya Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menghapuskan agama selain Islam, sehingga yang ada hanyalah Islam, walaupun Islam masih memberikan batasan-batasan hukum kepada yang lainnya yang dikenal dengan hukum bagi ahludz dzimmah.&lt;br /&gt;Islam sendiri membagi muamalah antara penganutnya dengan orang kafir menjadi empat: kafir harbi, kafir musta’min, kafir mu’ahad dan kafir dzimmi, sehingga setiap golongan diperlakukan sesuai dengan golongannya. Inilah toleransi positif dan benar yang sesuai dengan ketetapan agama Allah serta tidak diragukan kebenarannya, sehingga batillah seruan para thaghut pluralis yang menyatakan bahwa toleransi seperti ini, tanpa ada dalil dari Kitabullah dan Sunnah, sebagai toleransi dalam penafsiran negatif sebagaimana tertera dalam buku mereka Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keberagaman, hal. 13, Penerbit Buku Kompas, 2001. Maka sebagai konsekuensi toleransi ini, mereka harus menerima pengkafiran kaum muslimin terhadap agama lain dan penganutnya.&lt;br /&gt;Agama Islam Menghapus Seluruh Ajaran Agama Sebelumnya&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus para nabi dan rasul untuk menegakkan hujjah-Nya di muka bumi, sehingga tidak ada alasan bagi para hamba bila enggan beriman setelah itu. Dan tidak ada satu umat pun melainkan telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira, sejak rasul yang pertama, Nuh 'alaihissalam, dan ditutup oleh Nabi dan Rasul yang terakhir Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seruan semua utusan Allah tersebut adalah satu, yaitu:&lt;br /&gt;“Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)&lt;br /&gt;Agama para nabi dan rasul tersebut satu yaitu Islam, karena pengertian Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah dengan apa yang Dia syariatkan sejak Allah mengutus para rasul sampai datangnya hari kiamat. Sebagaimana Allah sebutkan hal ini dalam banyak ayat, yang semuanya menunjukkan bahwasa syariat-syariat terdahulu (umat sebelum kita) seluruhnya adalah Islam (tunduk) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seperti firman Allah menyebutkan doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam:&lt;br /&gt;“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk berserah diri kepadamu (muslim) dan jadikanlah anak turunan kami sebagai umat yang tunduk berserah diri (muslim) kepadamu.” (Al-Baqarah: 128)&lt;br /&gt;Adapun Islam dengan makna yang khusus adalah agama yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menghapuskan seluruh ajaran nabi dan rasul terdahulu, sehingga orang yang mengikuti beliau berarti telah berislam, sedangkan yang menolak beliau bukan orang Islam. Pengikut para rasul adalah muslimin di zaman rasul mereka. Maka Yahudi adalah muslimin di zaman Nabi Musa 'alaihissalam, dan Nashrani adalah muslimin di zaman Nabi ‘Isa 'alaihissalam, jika mereka benar-benar mengikuti syariat rasul mereka. Adapun setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, lalu mereka tidak mau beriman kepada beliau maka mereka bukan muslimin (baca: orang Islam). (Syarh Tsalatsatil Ushul, Al-Imam Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 20-21, Dar Ats-Tsurayya, 1417 H)&lt;br /&gt;Agama Islam inilah yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Dia tidak menerima agama selainnya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah agama Islam.” (Ali Imran: 19)&lt;br /&gt;“Siapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak akan diterima agama itu darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)&lt;br /&gt;Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya selain agama Islam, dengan mengikuti para rasul dalam pengutusannya pada setiap masa, sampai ditutup oleh Nabi dan Rasul yang akhir Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Allah menutup seluruh jalan kepada-Nya kecuali dari sisi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan begitu, siapa pun yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan beragama selain syariat yang beliau bawa dan ajarkan, maka tidak diterima agama tersebut darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/19, Maktabah Taufiqiyah, tanpa tahun)&lt;br /&gt;Agama Islam inilah yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan umat beliau, dan Allah nyatakan sebagai agama yang diridhai-Nya:&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)&lt;br /&gt;Dalam ayat yang mulia di atas, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang cocok diterapkan di setiap zaman, setiap tempat dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan. Islam adalah agama dan negara (daulah), di dalamnya terdapat manhaj yang haq dalam bidang hukum, pengadilan, politik, kemasyarakatan dan perekonomian serta segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dunia mereka, dan dengan Islam nantinya mereka akan bahagia di kehidupan akhirat. (Dinul Haq, Abdurrahman bin Hammad Alu Muhammad, hal. 35, diterbitkan oleh Wazaratusy Syu’unil Islamiyah Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, 1420 H)&lt;br /&gt;Dengan demikian, wajib bagi setiap orang yang mengaku mengikuti agama para rasul, apakah itu Yahudi ataupun Nashrani, untuk beriman dan tunduk kepada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bila mereka enggan dan berpaling, berarti mereka adalah orang-orang kafir walaupun mereka mengaku beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa 'alaihimassalam. Dan pada hakikatnya mereka tidak dipandang beriman kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa 'alaihimassalam sampai mereka mau beriman kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Dinul Haq, hal. 33)&lt;br /&gt;Pemaksaan Para Thaghut Pluralisme- Inklusivisme agar Agama Lain Juga Diterima sebagai Suatu Kebenaran&lt;br /&gt;Agama Islam adalah kebenaran mutlak, adapun selain Islam adalah kekufuran. Siapa pun yang enggan untuk beragama dengan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia kafir. Namun kebenaran mutlak ini ditolak oleh para thaghut pluralis dan inklusif Paramadina, JIL dan yang lainnya dengan memaksakan agar Islam jangan merasa benar sendiri tapi perlu melihat kebenaran pada agama lain. Seperti tulisan Budhy Munawar Rahman, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, yang dimuat dalam situs www.Islamlib.com, 13 Januari 2002, berjudul Memudarnya Kerukunan Hidup Beragama, Agama-agama Harus Berdialog dan juga di harian Republika, 24 Juni 2000, berjudul Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama. Dalam tulisannya, ia memaksakan teologi pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam, dan juga terhadap ayat Allah yang menunjukkan agama yang Allah terima dan Allah ridhai hanyalah agama Islam (Ali Imran: 19 dan 85). Diajaknya orang-orang untuk membaca ayat ini dengan semangat inklusif, semangat agama universal dengan memaknakan Islam sebagai agama yang penuh kepasrahan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya asalkan berpasrah diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Demikian juga Muhammad Ali, dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang membuat tulisan di harian Republika (14 Maret 2002) berjudul Hermenetika dan Pluralisme Agama. Ia mengajak orang agar tidak memahami ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 19 dan 85 dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan jalan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui jalan Islam. Tapi ayat ini harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi inklusif.&lt;br /&gt;Juga Nurcholish Madjid, tokoh mereka yang sangat rajin mengumbar teologi sesatnya, ia menganggap banyak agama yang benar, tidak hanya Islam (Teologi Inklusif Cak Nur karya Sukidi, Kompas, 2001). Saat memberi kata pengantar buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hal. 6 (Penerbit Buku Kompas, 2001), Nurcholish mengucapkan kalimat yang seolah itu benar namun sebenarnya batil: “Kendatipun cara, metode atau jalan keberagamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah Yang Maha Esa.” Kalimat ini menunjukkan ia mengakui keberadaan semua agama dan menyejajarkannya satu sama lain sehingga Islam sama dengan Nashrani, Hindu, Buddha, Majusi, Shinto, Konghuchu!! Karena semua agama itu menuju Tuhan walau jalan yang ditempuh berbeda (Ulil Abshar Abdalla; Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, Kompas, 18 Nov. 2002 dan situs islamlib.com). Wal’iyadzu billah.&lt;br /&gt;Orang-orang ini enggan untuk mengibarkan bendera permusuhan dengan kaum kafirin dari kalangan Yahudi dan Nashrani, dan enggan pula menganggap salah agama selain Islam. Di antara sebabnya, ketika mereka berhadapan dengan ayat Allah:&lt;br /&gt;“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)&lt;br /&gt;Maka disimpulkan oleh Quraisy Shihab bahwa ayat di atas dikhususkan kepada orang-orang Yahudi dan umat Nashrani tertentu yang hidup pada zaman Nabi, dan bukan kepada umat Nashrani dan Yahudi secara keseluruhan (Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hal. 26). Sementara diijinkannya memerangi orang kafir bukan diperuntukkan terhadap umat Nashrani dan yang semacamnya yang termasuk Ahli Kitab.&lt;br /&gt;Buku Fiqih Lintas Agama Ingin Memberangus Islam&lt;br /&gt;Para thaghut ini sangat menentang syariat Islam karena menurut mereka akan mendiskreditkan penganut agama lain dan juga mereka beranggapan hukum Islam itu menzalimi kaum wanita, bertentangan dengan HAM, tidak manusiawi seperti hukum rajam, dibolehkannya perbudakan dan masalah waris (Islam Liberal Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Zuly Qodir, hal. 187-192, Pustaka Pelajar, 2003, dan tulisan-tulisan di www.islamlib.com). Kerja sesat mereka tidak sampai di situ. Dengan beraninya mereka membatalkan hukum Islam dengan logika mereka yang dangkal, kemudian lahirlah buku buhul-buhul setan karya mereka seperti Fiqih Lintas Agama (FLA) yang diterbitkan Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan yayasan kafirin The Asia Foundation yang berpusat di Amerika. Dalam buku yang sangat jauh dari ilmiah ini, mereka menggugat hukum Islam yang kata mereka terkesan eksklusif dan merasa benar sendiri. Mereka permainkan ayat-ayat Al-Qur’an (hal. 20-21, 49, 214, 249), menolak hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak sesuai dengan semangat pluralisme inklusivisme mereka (hal. 70-71), mencaci maki Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;yang membawakan hadits tersebut (hal. 70), mengecam para imam salaf seperti Al-Imam Syafi’i (hal. 5, 167-168) dan memanipulasi ucapan ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ditarik-tarik agar menyepakati kemauan mereka (seperti pada hal. 55). Bahkan mereka mengusung hak kafirin untuk menghadang syariat Islam dan membela orang kafir mati-matian, sehingga mereka pun menyatakan boleh mengucapkan salam kepada non muslim (hal. 66-78), boleh mengucapkan selamat Natal dan selamat hari raya agama lain (hal. 78-85), boleh menghadiri perayaan hari-hari besar agama lain (hal. 85-88), bolehnya doa bersama antar pemeluk agama yang berbeda (hal. 89-107), bolehnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir (hal. 153-165), bolehnya orang kafir mewarisi harta seorang muslim (waris beda agama) (hal. 165-167), serta sejumlah kesesatan dan kekufuran berfikir lainnya. Betapa para thaghut penulis buku yang sesat ini memperjuangkan mati-matian teologi pluralisme, ajaran mempersamakan semua agama, seolah teologi ini tak dapat ditawar, sehingga syariat Islam yang tidak toleran dengan teologi ini berusaha mereka kebiri.&lt;br /&gt;Betapa tidak tolerannya buku sesat ini terhadap aqidah Islamiyyah yang menetapkan kebenaran hanya pada agama Islam, sementara di luar Islam adalah agama kekafiran. Betapa tidak tolerannya buku buhul-buhul setan ini terhadap ketetapan syariat Islam, bahkan berupaya memberangus dan membumihanguskan syariat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya buku ini sangat toleran kepada musuh-musuh Islam!!! Untuk menggiring kaum muslimin agar menerima agama di luar Islam dan tidak memandang Yahudi dan Nashrani sebagai musuh, mereka mengatakan: “Segi persamaan yang sangat asasi antara semua kitab suci adalah ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berbeda dengan persoalan kaum musyrik yang pada zaman Nabi tinggal di kota Makkah. Kepada mereka inilah dialamatkan firman Allah: “Katakan (Muhammad): Aku tidak menyembah yang kamu sembah dan kamu pun tidak menyembah yang aku sembah…” Ayat yang sangat menegaskan perbedaan konsep “sesembahan” ini ditujukan kepada kaum musyrik Quraisy dan bukan kepada ahli kitab.” (FLA, hal. 55-56)&lt;br /&gt;Demikianlah lolongan para thaghut tersebut, yang pada intinya ingin menyatakan bahwa kebenaran tidak hanya pada Islam saja sehingga jangan merasa benar sendiri. Lolongan ini sebetulnya hanya mengikuti dan melanjutkan pendahulunya, Harun Nasution, yang telah lebih dulu menyatakan dengan lolongannya: “Mencoba melihat kebenaran yang ada di agama lain.” (Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, hal.275, Mizan, 1998). Sehingga perlu dan wajib bagi kita untuk membungkam lolongan mulut kotor para thaghut pluralis ini yang sudah memakan banyak korban akibat mendengarkan lolongan mereka, dengan kita mendatangkan kebenaran dari Islam berupa nash-nash yang di dalamnya mengandung kebenaran dan hujjah.&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani Kafir Selama-lamanya&lt;br /&gt;Adapun Yahudi dan Nashrani tidak kita sangsikan bahwa mereka adalah orang-orang kafir sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam, padahal Al-Masih sendiri berkata: Wahai Bani Israil, beribadahlah kalian kepada Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga kepadanya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah adalah salah satu dari tuhan yang tiga (trinitas), padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain sesembahan yang satu. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Yahudi:&lt;br /&gt;“Dan orang-orang Yahudi berkata: Hati kami tertutup. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang mau beriman. Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yaitu berita dari Taurat akan datangnya Rasul terakhir beserta ciri-cirinya), padahal sebelumnya mereka biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah lah atas orang-orang yang ingkar tersebut. Alangkah buruknya perbuatan mereka yang menjual diri mereka sendiri dengan mereka mengkafiri apa yang telah diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka di atas kemurkaan yang telah mereka dapatkan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. Apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah, mereka berkata: Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami. Dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur’an adalah kitab yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian itu orang-orang yang beriman?”&lt;br /&gt;Demikian pula pernyataan Rasulullah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana hadits yang telah disebutkan di atas beserta penjelasannya.&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani memiliki kitab yang diturunkan dari langit (kitab samawi), Taurat dan Injil, sehingga mereka digelari ahlul kitab. Akan tetapi, karena mereka enggan beriman kepada Al-Qur’an dan enggan tunduk kepada syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka mereka kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir dari ahlul kitab dan musyrikin mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 1)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan kembali tentang kekafiran ahlul kitab dan bahwa mereka itu adalah penghuni jahannam:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul kitab dan musyrikin tempat mereka adalah di dalam neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)&lt;br /&gt;Adapun kitab mereka sendiri telah diubah-ubah dengan tangan mereka3 dan hal ini menambah kekufuran mereka, sehingga bagaimana mereka akan dapat beriman dengan keimanan yang benar terhadap kitab yang diturunkan kepada mereka? Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan:&lt;br /&gt;“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri (karangan mereka) lalu mereka katakan: Ini dari Allah, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani adalah Orang-orang yang Dimurkai Allah dan Disesatkan&lt;br /&gt;Orang-orang Yahudi dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Al-Maghdhubu ‘alaihim (yang dimurkai Allah) dan Nashrani sebagai Adh-Dhallun (yang tersesat), sebagaimana dinyatakan dalam ayat terakhir Surat Al-Fatihah:&lt;br /&gt;“Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)&lt;br /&gt;Diterangkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan dari sahabat ‘Adi ibnu Hatim4 radhiallahu 'anhu di dalam hadits yang panjang, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Yahudi itu adalah yang dimurkai dan Nashara adalah orang-orang yang disesatkan.”&lt;br /&gt;Imam ahli tafsir dan ahli hadits, Ibnu Abi Hatim, berkata: “Saya tidak mendapatkan perselisihan di antara ahli tafsir bahwasanya al-maghdhub ‘alaihim (di dalam ayat itu) adalah Yahudi dan adh-dhallun adalah Nashara, dan yang mempersaksikan perkataan para imam tersebut adalah hadits ‘Adi bin Hatim.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/40)&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kekafiran Yahudi pada prinsipnya karena mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka mengetahui kebenaran namun tidak mengikutinya, baik dalam ucapan atau perbuatan, ataupun sekaligus dalam ucapan dan perbuatan. Sementara kekafiran Nashrani dari sisi amalan mereka yang tidak didasari ilmu, sehingga mereka bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai macam ibadah tanpa didasari syariat dari Allah, serta berbicara tentang Allah tanpa didasari ilmu.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, hal.23, Darul Anshar 1423 H). Lihat pula keterangan dan pendalilan beliau yang lebih panjang mengenai dimurkainya Yahudi dan disesatkannya Nashrani dalam kitab tersebut (hal. 22-24).&lt;br /&gt;Demikian sesungguhnya keadaan Yahudi dan Nashrani, sehingga setiap kali shalat kaum muslimin meminta perlindungan dari mengikuti jalan keduanya (jalannya Yahudi dan Nashrani) ketika mereka membaca ayat di dalam surat Al-Fatihah tersebut.&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani adalah Kaum yang Terlaknat&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani telah dikafirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya melaknat mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Allah telah melaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil.”&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nashrani.” (HR. Al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 531)&lt;br /&gt;Dengan penjelasan di atas, bahwa Yahudi dan Nashrani adalah kaum yang kafir, dimurkai dan terlaknat, dapatkah agama Islam disamakan dengan agama Yahudi dan Nashrani, terlebih lagi dengan agama selain keduanya yang tidak memiliki kitab samawi (kitab dari langit)? Dan jelas agama Islam tidak boleh dibangun di atas teologi inklusif, bahkan harus dibangun di atas keyakinan eksklusif bahwa hanya Islam agama yang benar, adapun selainnya adalah salah!&lt;br /&gt;Surat Al-Kafirun Tidak Ditujukan kepada Musyrikin Arab Semata&lt;br /&gt;Mereka mengatakan bahwa isi surat Al-Kafirun hanya ditujukan kepada orang-orang musyrik, bukan kepada ahlul kitab. Demikianlah yang mereka inginkan agar bisa mengeluarkan ahlul kitab dari vonis kafir, sementara ulama dari kalangan ahli tafsir tidak ada yang mengatakan seperti ucapan mereka. Lalu dari mana mereka mendapatkan dalil dengan ucapan mereka tersebut? Surat Al-Kafirun tidak membatasi bahwa kekufuran hanya ditujukan kepada musyrikin Arab. Bahkan Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah “Katakanlah (Ya Muhammad) wahai orang-orang kafir…”, ini mencakup seluruh orang kafir di muka bumi, walaupun sasaran pembicaraan dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/397)&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan di dalam kitab Shahih beliau mengatakan ayat lakum dinukum adalah kekufuran dan ayat waliya din adalah Islam (Shahih Al-Bukhari bersama penjelasannya Fathul Bari, 8/902, Darul Hadits, 1419 H). Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Kekufuran itu agama yang satu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/398). Demikian pula pandangan Al-Imam Ahmad, Abu Hanifah dan Dawud. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Lil Imam Al-Qurthubi, 2/65, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, 1413 H)&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani Selamanya Tidak akan Ridha kepada Islam&lt;br /&gt;Demikianlah makna dzahir yang ada pada ayat 120 surat Al-Baqarah. Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha selama-lamanya terhadap Islam. Inilah yang Allah katakan tentang mereka tanpa ada perkecualian.&lt;br /&gt;Al-Imam Ath-Thabari tberkata ketika menafsirkan ayat tersebut: “Wahai Muhammad, orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu selama-lamanya, karena itu tinggalkanlah upaya untuk mencari keridhaan dan kesepakatan mereka. Sebaliknya hadapkanlah dirimu sepenuhnya untuk mencari keridhaan Allah di dalam mendakwahi mereka kepada kebenaran yang engkau diutus karenanya. Sesungguhnya apa yang engkau dakwahkan tersebut, sungguh merupakan jalan menuju persatuan (ijtima’) denganmu di atas kedekatan hati dan agama yang lurus. Tidak ada jalan bagimu untuk mencari keridhaan mereka dengan mengikuti agama mereka, karena agama Yahudi bertentangan dengan agama Nashrani, demikian pula sebaliknya, dan tidak mungkin kedua agama ini bisa bersatu dalam individu manusia pada satu keadaan. Yahudi dan Nashrani tidak mungkin bersatu untuk meridhaimu kecuali bila engkau bisa menjadi seorang Yahudi sekaligus Nashrani, akan tetapi tidak mungkin hal ini terjadi padamu selama-lamanya, karena engkau adalah individu yang satu dan tidak mungkin terkumpul padamu dua agama yang saling berlawanan dalam satu keadaan. Dengan demikian, bila tidak ada jalan yang memungkinkan untuk mengumpulkan kedua agama itu padamu dalam satu waktu, maka tidak ada jalan bagimu untuk mencari keridhaan kedua golongan tersebut. Bila demikian keadaannya, maka berpeganglah engkau dengan petiunjuk Allah yang dengannya ada jalan untuk menyatukan manusia.” (Jamiul Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an, Lil Imam Ath-Thabari, hal. 1/517, Darul Fikr, 1405 H).&lt;br /&gt;Adapun penyimpulan bahwa ini adalah pengkhususan bagi Yahudi dan Nashrani pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, perlu mendatangkan dalil khusus dari Kitabullah dan As Sunnah yang menyatakan hal itu. Sementara kita ketahui, Yahudi dan Nashrani pada zaman sekarang jauh lebih jelek daripada Yahudi dan Nashrani pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena penyimpangan mereka pada masa itu lebih sedikit dibandingkan pada hari ini, mereka semakin jauh dan semakin menyimpang dari agama mereka. Lihat perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan terhadap kitab mereka yang menjadi sebab jauhnya mereka dari kebenaran dalam Mukhtashar Kitab Idzharul Haq, oleh Al-Imam Syaikh Rahmatullah ibn Khalilir Rahman Al-Hindi yang diringkas oleh Dr. Muhammad Al-Malkawi, diterbitkan oleh Wazaratus Syu’unil Islamiyyah Al-Mamlakah Al-‘Arabiyyah As-Su’udiyyah, 1416 H .&lt;br /&gt;Di samping itu, anggapan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak diperangi karena mereka ahlul kitab dan yang diperangi adalah agama kekufuran yang lain adalah jelas anggapan yang salah dan batil. Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan jelas menyatakan:&lt;br /&gt;“Perangilah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta tidak beragama dengan agama yang benar, dari kalangan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani).” (At-Taubah: 29)&lt;br /&gt;Hilangnya Al-Wala wal Bara&lt;br /&gt;Dianutnya teologi pluralis inklusif oleh sebagian orang disebabkan tidak adanya Al-Wala dan Al-Bara pada diri mereka. Al-Wala adalah memberikan loyalitas, kecintaan dan persahabatan, sedangkan Al-Bara adalah lawannya yaitu menjauhi, menyelisihi, membenci dan memusuhi.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan rahimahullah (seorang ulama besar terkemuka, anggota Majlis Kibarul ‘Ulama, juga Komite Tetap Kajian Ilmiah dan Pemberian Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) berkata: “Termasuk pokok aqidah Islamiyyah yang wajib bagi setiap muslim untuk menganutnya adalah berwala dengan sesama muslim dan bara (memusuhi) musuh-musuh Islam. Ia mencintai dan berloyalitas dengan orang yang bertauhid dan mengikhlaskan agama untuk Allah dan sebaliknya membenci dan memusuhi orang yang berbuat syirik. Yang demikian ini merupakan millahnya (jalan) Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan orang-orang yang mengikuti beliau, sementara kita diperintah untuk mencontoh Nabi Ibrahim 'alaihissalam sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Sungguh telah ada bagi kalian contoh teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya kerika mereka mengatakan kepada kaum mereka (yang kafir musyrik): Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah: 4)&lt;br /&gt;Memiliki sikap Al-Wala dan Al-Bara merupakan agama Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai kekasih-kekasih (teman dekat), karena sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lainnya. Dan siapa di antara kalian yang berwala dengan mereka maka ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)&lt;br /&gt;Ayat di atas menyebutkan keharaman untuk berwala dengan ahlul kitab secara khusus, sementara keharaman berwala dengan orang kafir secara umum, Allah nyatakan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuh kalian sebagai kekasih, penolong dan teman dekat.” (Al-Mumtahanah: 1)&lt;br /&gt;Bahkan Allah mengharamkan seorang mukmin untuk berwala dengan orang-orang kafir walaupun orang kafir itu adalah kerabatnya yang paling dekat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan bapak-bapak kalian dan saudara-saudara kalian sebagai kekasih apabila mereka lebih mencintai kekufuran daripada keimanan, dan siapa di antara kalian yang berwala kepada mereka maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.” (At-Taubah: 23)&lt;br /&gt;“Engkau (wahai Nabi) tidak akan mendapati orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun orang tersebut adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau karib kerabat mereka.” (Al-Mujadalah: 22)&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan: “Sungguh (kita dapati pada hari ini) kebanyakan manusia jahil/bodoh terhadap pokok yang agung ini, sampai-sampai aku mendengar dari sebagian orang yang dikatakan berilmu dan melakukan dakwah dalam satu siaran berbahasa Arab, ia berkata tentang Nashrani bahwa mereka adalah saudara kita. Sungguh betapa jelek dan bahayanya kalimat ini!”&lt;br /&gt;Sebagaimana Allah mengharamkan berwala dengan orang-orang kafir musuh aqidah Islamiyyah, sebaliknya Allah mewajibkan kita untuk berwala dan mencintai kaum mukminin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Hanyalah wali (kekasih/penolong) kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mereka ruku kepada Allah. Barangsiapa yang berwala kepada Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman maka sesungguhnya tentara Allah itulah yang menang.” (Al-Maidah: 55)&lt;br /&gt;“Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau amat keras terhadap orang –orang kafir dan saling berkasih sayang di antara sesama mereka.” (Al-Fath: 29)&lt;br /&gt;“Hanyalah orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Al-Wala wal Bara fil Islam, hal. 3-6, Darul Wathan, 1411 H)&lt;br /&gt;Karena tidak adanya sikap Al-Wala dan Al-Bara yang tepat, mereka bergaul bebas dengan kaum kafirin, para orientalis misionaris Barat bahkan mereka bangga ketika mereka dapat menimba ilmu di negeri Barat yang notabene kafir! (Asyiknya Belajar Islam di Barat, wawancara bersama Luthfi Assyaukanie, www.islamlib.com, 8/3/2004). Semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin secara umum dari makar yang dilakukan oleh para thaghut kaki tangan iblis ini.&lt;br /&gt;Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Yayasan Wakaf Paramadina dengan bukunya Fiqih Lintas Agama, Jaringan Islam Liberal dan seluruh penyeru pluralitas agama yang tergabung dalam organisasi, LSM, atau individu, mereka adalah para Thaghut Pluralis dan Inklusif antek-antek Zionis Salibis.&lt;br /&gt;Thaghut adalah segala sesuatu yang diikuti, ditaati ataupun dibadahi secara berlebihan dan melampaui batas. (Al-Ushuluts Tsalatsah, hal. 15, Darul Wathan 1414 H)&lt;br /&gt;Pluralisme adalah pemahaman yang memandang semua agama sama meskipun dengan jalan yang berbeda namun menuju satu tujuan: Yang Absolut, Yang terakhir, Yang Riil. Inklusivisme adalah pemahaman yang mengakui bahwa dalam agama-agama lain terdapat juga suatu tingkat kebenaran (demikian keterangan mereka dalam Fiqih Lintas Agama, hal. 65, Paramadina, Juni 2004).&lt;br /&gt;2 Umat yang ada di zaman beliau dan setelah zaman beliau sampai hari kiamat (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 2/188)&lt;br /&gt;3 Lihat beberapa bentuk perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan dalam Mukhtashar Kitab Idzharul Haq oleh Al-Imam Asy-Syaikh Rahmatullah ibn Khalilir Rahman Al-Hindi yang diringkas oleh Dr. Muhammad Al-Malkawi, Wazaratus Syu’unil Islamiyyah Mamlakah Al-‘Arabiyyah Su’udiyyah, 1416 H.&lt;br /&gt;4 Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 4029 dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8202 dan dalam komentar beliau terhadap Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no .811&lt;br /&gt;Penulis : Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1547918695315607336?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1547918695315607336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1547918695315607336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1547918695315607336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1547918695315607336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/11/pluralisme-ajaran-sesat.html' title='Pluralisme ajaran sesat'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-7816350195080480220</id><published>2007-10-02T22:42:00.000-07:00</published><updated>2007-10-02T22:49:30.587-07:00</updated><title type='text'>TEORI ILMIAH VS UCAPAN ULAMA SALAF</title><content type='html'>Menyambung kembali diskusi yang sempat berlangsung dalam milis tentang apakah bumi mengitari matahari ataukah sebaliknya? Atau mungkin dikatakan secara umum, bagaimana sekiranya terdapat teori/fakta ilmiah yang bertentangan dengan pendapat ulama Salaf dalam memahami zhahir nash al-Qur`ān dan hadits?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan masalah apakah bumi mengitari ataukah sebaliknya, maka saya mendapat informasi dari seorang teman yang dapat dipercaya, bahwa Syaikh ‘Ali Hasan pernah ditanya tentang hal ini, namun beliau tidak memberikan jawaban. Padahal, tentu tidak samar bagi beliau nukilan dan ucapan ulama dalam hal ini. Karena itu, tentu dikarenakan sebab tertentu sehingga beliau tidak menjawab pertanyaan tersebut. WaLlāhu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya tidak mengemukakan pendapat pribadi saya tentang mana yang benar antara bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya, mengingat sampai saat ini data yang sampai kepada saya dan yang telah saya baca belum memadai, sehingga saya belum berkompeten untuk membahas hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk membahas permasalahan semisal ini, yaitu apabila tampaknya terjadi kontradiksi antara fakta ilmiah dan ucapan ulama Salaf, penting kiranya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kita harus meyakini bahwa pada hakekatnya tidak akan pernah terjadi kontradiksi antara ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyyah (fakta ilmiah/hukum alam) dan ayat-ayat Allah yang bersifat wahyu/qauliyyah, sebab keduanya sama-sama berasal dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang benar terhadap nash-nash wahyu (al-Qur`ān dan Sunnah) pasti akan sejalan dengan teori ilmiah yang benar. Kontradiksi hanyalah terjadi ketika terjadi kesalahan dalam memahami/menafsirkan nash-nash wahyu atau teori/fakta ilmiah atau keduanya sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Ucapan Salaf secara personal/individual/perorangan bukanlah hujjah. Ulama Ushul Fiqh berbeda pendapat tentang kehujjahan ucapan Sahabat (hujjiyyah qaul ash-shahābi), namun mereka sepakat bahwa ucapan Tabi’in dan generasi setelah mereka secara personal bukanlah hujjah. Hujjah hanya terdapat pada ijmā’ (konsensus) mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk diingat bahwa tidak semua klaim atau nukilan ijmā’ itu benar adanya. Berapa banyak klaim ijma’ yang setelah diteliti ternyata tidak benar. Karena itu, klaim ijmā‘ perlu diteliti kembali tingkat kekuratan dan kebenarannya. Hal ini selaras dengan ucapan Imam Ahmad: Man idda’al ijma’ fa qad kadzab, wa ma yudrihi la’allan nas qad ikhtalafu (Barangsiapa yg mengklaim ijma’ maka sungguh ia telah berdusta. Darimana ia mengetahui bahwa telah terjadi ijma’, sementara bisa jadi manusia telah berselisih pendapat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Dua perkara yg sudah sampai tingkatan qath’i (pasti) tidak mungkin akan saling bertentangan. Apabila terjadi kontradiksi antara qath’i dan zhanni (mengandung kemungkinan) maka perkara yang zhanni dibawa kepada yg qath’i (di-ta`wīl-kan), baik berupa dalil akal (fakta ilmiah) maupun dalil nash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah berkata: “Tidak mungkin pada kabar yg dibawa Rasul shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam terdapat hal yg bertentangan dengan akal sehat (sharīh al-’uqūl). Serta tidak mungkin terdapat dua dalil qath’i yang bertentangan, baik keduanya adalah dalil ‘aqli (termasuk fakta ilmiah, pent), atau keduanya adalah dalil sam’i (al-Qur`ān dan Sunnah), atau salah satunya dalil ‘aqli dan yang lain adalah dalil sam’i.” (Majmū’ al-Fatāwa, vol. XI, hal. 244).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, penting untuk diingat bahwa hal-hal yang ditangkap oleh pancaindera pun tidak selalu mencapai derajat qath’i (pasti benar). Misalnya, apabila kita celupkan pensil ke dalam gelas berisi air, terlihat oleh kita bahwa pensil tersebut patah. Namun, apakah pensil itu benar-benar patah? Jawabnya tentu tidak. Begitu pula dengan peristiwa fatamorgana di padang pasir atau permukaan aspal yang tampak berair ketika panas terik di siang hari. Jika sesuatu yang ditangkap oleh pancaindera saja belum tentu mencapai derajat qath’i maka apatah lagi dengan sebatas hipotesa, teori atau asumsi? Tentu lebih utama lagi untuk diragukan kebenarannya.&lt;br /&gt;Keempat: Pada umumnya teori ilmiah hanyalah sampai kepada tingkatan zhanni, begitu pula dengan penafsiran terhadap nash-nash wahyu. Meskipun tidak dipungkiri bahwa terdapat sebagian teori ilmiah dan penafsiran terhadap nash-nash wahyu yang bersifat qath’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak samar bagi kita bahwa pada umumnya teori ilmiah itu bersifat dinamis, senantiasa berubah dari waktu ke waktu, sesuai tingkat perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Misalnya, dahulu teori big bang terkait asal mula penciptaan alam semesta tidak populer. Bahkan, untuk sekian lama ilmuan kita dahulu menganggap bahwa Pluto adalah salah satu planet dalam tata surya kita, namun sekarang disanggah, bahwa Pluto hanyalah satelit dan bukan planet. Ini hanyalah contoh yang sangat sederhana, dan contoh yang semisal ini sangatlah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya.&lt;br /&gt;Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya.&lt;br /&gt;Salam,Abū Fāris an-Nūri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Terkait pembahasan mengenai apakah bumi yang mengitari matahari ataukah sebaliknya secara science, maka dapat dilihat di blog saudara kita: &lt;a href="http://faidzin.wordpress.com/2007/05/15/benarkan-bumi-ber-rotasi-dan-ber-revolusi/" modo="true"&gt;http://faidzin.wordpress.com/2007/05/15/benarkan-bumi-ber-rotasi-dan-ber-revolusi/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-7816350195080480220?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/7816350195080480220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=7816350195080480220' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/7816350195080480220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/7816350195080480220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/10/teori-ilmiah-vs-ucapan-ulama-salaf.html' title='TEORI ILMIAH VS UCAPAN ULAMA SALAF'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-872637616134476320</id><published>2007-10-02T22:33:00.000-07:00</published><updated>2007-10-02T22:42:01.149-07:00</updated><title type='text'>ENGKAU DAN HAWA NAFSU</title><content type='html'>Disusun dari postingan Ahmad Jacob Zurmanda &amp;amp; Abu Ishaq As-Sundawy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi diantara kita yang mengaku menjadi “salafy” ini pada hakekatnya bukan salafy yang sebenarnya, bahkan lebih tepat disebut sebagai “fulany” karena mengedepankan pendapat syaikh tertentu dalam segala hal dan kenyataannya..ana ingat ada nasehat Ustadzuna Fariq tentang hal ini menukil dari Syaikh Abdurrahman AL Mu’allimi Al-Yamani, kurang lebihnya berbicara tentang hawa nafsu yang maknanya kurang lebih “jika ada orang yang berpendapat dengan pendapat berbeda dari syaikh anda, lalu anda mendapati bahwa pendapat itu lebih benar, apakah anda akan serta merta ikut, ataukah pikir-pikir dahulu, gak enak karena ini pendapat syaikh anda??”..demikian pula “jika ada orang mencela Rasulullah, ada lagi yang mencela sahabat Abu bakar, dan ada yang mencela syaikh anda, kemarahan mana yang paling besar yang akan timbul dari anda??”…hawa nafsu sangat lembut, dan “al ma’shum man ‘ashamahu Allah” (orang yang selamat adalah yang diselamatkan Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan buku ini bisa di dunlod di &lt;a href="http://www.saaid.net/book/open.php?cat=91&amp;amp;book=759" modo="false"&gt;http://www.saaid.net/book/open.php?cat=91&amp;amp;book=759&lt;/a&gt;dan juga tulisan/terjemahan Ustadzuna Fariq Anuz untuk topik yang dimaksud tersebar di banyak tempat, maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buku At-Tankil bi Maa fi Ta’nibil Kautsari minal Abathil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi Al-Yamani, ada yang sudah dita’liq oleh Syaikh Al-Bani. Silakan dicari jika berminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Buku ini sangat bagus dan kaya faidah, untuk itu Syaikh Ali Hasan menyusun buku kecil berjudul Maa Laa Yasa’ul Muslimu Jahluhu Min Dharuriyyatit Tafakkur yang berisi nukilan beberapa topik yang sangat bagus bertabur faidah dari buku At-Tankil tersebut. Silakan dicari juga jika memang berminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut salah satu diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENGKAU DAN HAWA NAFSU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim hendaknya merenungkan mengenai diri dan hawa nafsunya.Andaikan sampai berita kepada Anda bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian orang lain mencaci maki Nabi Daus ‘alaihissalam. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali radhiyallahu ‘anhu. Dan yang keempat mencaci maki syaikh Anda.Sementara orang yang kelima, mencaci maki syaikh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah amarah dan usaha Anda untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan syari’at? Yakni apakah kemarahan Anda kepada orang pertama dan kedua hampir sama kadarnya, namun lebih dahsyat jika dibandingkan kepada yang lainnya? Apakah kemarahan Anda kepada orang yang ketiga lebih ringan kadarnya dibandingkan dua orang yang pertama namun lebih keras dibandingan dua sisanya? Apakah kemarahan Anda kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama kadarnya, namun jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan pula Anda membaca sebuah ayat, kemudian nampak bagi Anda bahwa ayat tersebut sesuai dengan pendapat imam anda. Kemudian anda mendapati ayat lain dan nampak oleh anda dari ayat tersebut bahwa ia menyalahi ucapan yang lain dari imam anda tersebut. Apakah penilaian anda mengenai keduanya sama? Yaitu anda tidak akan peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya atas pemahaman anda tadi dengan cara membaca sepintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan pula anda mendapatkan dua hadits yang tidak anda ketahu shahih atau dho’ifnya. Salah satunya sesuai dengan pendapat imam anda sedangkan yang satunya lagi menyalahinya. Apakah pandangan anda terhadap dua hadits tersebut sama tanpa anda peduli (untuk mengetahui secara ilmiyyah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dho’if?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan pula anda memperhatikan suatu masalah yang imam anda mempunyai suatu pendapat tentangnya, dan (ulama) lain menyalahi pendapat tersebut.Apakah hawa nafsu anda yang lebih berperana dalam melakukan tarjih salah satu dari dua pendapat tadi? Ataukah anda menelitinya supaya anda dapat mengetahui mana yang rajih dari keduanya dan anda dapat menjelaskan kerajihannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan pula ada seseorang yang anda cintai dan yang lain anda benci.Keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian anda dimintai pendapat tentang perselisihan tersebut. Padahal (anda tidak mengetahui duduk persoalannnya sehingga) anda tidak mungkin dapat menghukuminya. Ketika anda meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsu anda yang berperan sehingga lebih memihak orang yang anda cintai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan pula ada tiga fatwa dari ulama dalam permasalahan yang berbeda.Satu dari anda sendiri, yang kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa ketiga dari orang yang tidak engkau sukai. Dan setelah engkau teliti fatwa kedua teman anda tersebut, maka anda nilai keduanya benar pula.Kemudian sampai berita kepada anda bahwa ada seorang alim yang mengeritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut dan mengingkarinya dengan sangat keras. Apakah anda mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu adalah fatwa anda atau fatwa sahabat anda atau fatwa orang yang tidak anda sukai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan pula anda mengetahui seseorang berbuat kemunkaran dan anda berhalangan untuk mencegahnya. Kemudian sampai kepada anda bahwa ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan sangat kerasnya.Maka apakah anggapan baik anda akan sama apabila yang mengingkari itu teman anda atau musuh anda, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu teman anda atau musuh anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periksalah diri anda! Anda akan dapatkan diri anda sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal Dien. Juga engkau dapati orang yang anda benci ditimpa mushibah dengan melakukan kemaksiatan pula dan kekuranga lainnya dalam syari’at yang tidak lebih berat dari maksiat yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebenciannmu kepada oarang tersebut (disebabkan maksiat atau kekuarangan dalam syari’at) sama dengan kebencanmu kepada dirimu sendiri? Dan apakah engkau dapati kemarahannmu kepada dirimu sendiri sama dengan kemarahanmu kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu-pintu hawa nafsu tidak tehitung banyaknhya. Saya mempunyai pengalaman pribadi ketika saya memperhatikan suatu permasalahan yang saya anggap bahwa hawa nafsu tidak ikut tercampur dalam masalah tersebut. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah tersebut, maka saya menetapkannya dengan satu ketetapan yang saya anggap baik. Kemudian setelah itu saya melihat sesuatu yang membuat cacat ketepan tadi. Lalu saya gigih mempertahankan kesalahan tadi dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi itu, hawa nafsu saya condong untuk membenarkannya. Padahal belum ada satu orangpun yang mengetahui hal ini. Maka bagaimana seandainya hal tersebut sudah saya sebar luaskan kepada khalayak ramai, kemudian setelah itu tampak bagiku bahwa pengertian tersebut salah? Maka bagaimana pula apabila kesalahan tersebut bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritikku adalah orang yang aku benci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bukan berarti bahwa seorang alim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu karena hal ini diluar kemampuannya. Tapi kewajiban seorang alim adalah mengoreksi diri dan hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebanaran sebagai suatu kebenaran. Apabila jelas baginya bahwa kebenaran tersebut menyelisihi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang alim terkadang lalai dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran sehingga dirinya condong kepada kebatilan dan membela kebatilan tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya belum menyimpang dari kebenaran. Dia menyangka pula bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Tidak ada orang yang selamat dari perbuatan ini kecuali orang yang ma’shum Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja para ulama bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu. Diantara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa si alim tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara ulama juga ada orang yang dapat mengekang hawa nafsunya sehingga jarang sekali mengikuti hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu barangsiapa sering membaca buku-buku dari penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijthad mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka dia akan banyak mendapatkan keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, yaitu orang yang condong kepada kebenaran yang bertentangan dengan buku-buku tersebut. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada buku-buku tersebut dan sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti hawa nafsu, sedangkan orang-orang yang bertentangan dengannya adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang salaf dahulu ada yang berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia terjerumus ke dalam kesalahan pada sisi yang lain. Seperti seorang hakim yang mengadili dua orang yang berselisih. Orang pertama adalah saudara kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia menzholimi saudara kandungnya sendiri. Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan kirinya, berusaha menghindari jurang yang disebelah kanan namun berlebihan sehingga ia terjatuh ke dalam jurang yang di sebelah kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh Ustadzuna Fariq Qasim Anuz dari buku At-Tankil bi Maa fi Ta’nibil Kautsari minal Abathil bagian keempat: Al-Qaid ila Tashih Al-Aqaid hal. 196-198)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-872637616134476320?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/872637616134476320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=872637616134476320' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/872637616134476320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/872637616134476320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/10/engkau-dan-hawa-nafsu.html' title='ENGKAU DAN HAWA NAFSU'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1903732314762731262</id><published>2007-10-02T22:30:00.000-07:00</published><updated>2007-10-02T22:33:20.060-07:00</updated><title type='text'>HUKUM CERAMAH TARAWEH</title><content type='html'>Pertanyaan : Apa hukum ceramah berupa nasehat yang disampaikan diantara roka’at sholat taraweh atau ditengah-tengahnya yang dilakukan setiap malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Utsaimin menjawab : Tidak mengapa apabila (seorang imam) berdiri untuk dua rokaat selanjutnya ,kemudian melihat shof-shof menjadi tidak lurus.Atau orang -orang yang sholat saling berpencar sehingga menjadikan adanya sela dan celah diantara mereka,kemudian mengatakan "luruskan dan rapatkan (shof)" .Maka seperti ini tidak ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun berupa ceramah nasehat (diantara sholat teraweh,pent), maka jangan.Karena ini bukanlah petunjuk salaf.Akan tetapi, nasehat bisa disampaikan jika disana ada hajat.Atau boleh saja terserah namun selepas selesai sholat taraweh.Apabila diniatkan ta’abbud maka jatuh kepada bid’ah.Dan tanda hal tersebut dilakukan dengan niat ta’abbud adalah dengan mendawamkannya setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami katakan "Ya Akhi, mengapa anda memberikan ceramah nasehat kepada manusia?".Bukankah terkadang terdapat sebagian orang yang sedang dalam kesibukan yang ingin segera selesai dan berpaling (bersama imam sampai akhir selesai sholat) untuk mendapatkan kesesuaian dengan ucapan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam "Man qoma ma’al imam hatta yanshorifa kutiba lahu qiyam lailah" ( Siapa yang sholat bersama imam sampai imam selesai dan berpaling maka di catatkan baginya sholat semalam penuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda (pemberi nasehat) suka dan senang dengan diberikannya ceramah atau nasehat.Juga misalnya setengah dari jamaah pun suka disampaikannya ceramah nasehat tersebut.Bahkan tiga per empat jamaah pun suka.Jangan abaikan yang seperempat karena kecintaan yang tiga perempat jamaah lainnya.Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam kurang lebih berkata :"Idza amma ahadukum an-naas fal yukhoffif fa inna min waro-ihi dho’ifun wal maridh wa dzil hajah" (Apabila seorang diantara kalian mengimami manusia, maka ringankanlah, karena dibelakangmu ada orang yang lemah ,sakit atau memiliki keperluan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, janganlah menyamakan keadaan manusia dengan keadaan dirimu.Atau menyamakan dengan sebagian manusia lainnya yang menyukai diberikannya nasehat atau ceramah.Namun samakan manusia dengan apa yang membuatnya sama-sama lega.Sholatlah taraweh dengan mereka.Selepas sholat setelah anda berpaling dan juga manusia berpaling.Maka silahkan untuk menyampaikan apa yang anda sukai dari nasehat/ceramah.Kita memohon kepada Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta amal sholeh.Berilah kabar gembira dengan kehadiran mereka kepada majlis tersebut.Karena "Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu,maka Allah permudajh jalannya menuju surga".Alhamdulillahirobbil ‘alamin.Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ,keluarganya dan seluruh sahabatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Umair As-Sundawy&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1903732314762731262?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1903732314762731262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1903732314762731262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1903732314762731262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1903732314762731262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/10/hukum-ceramah-taraweh.html' title='HUKUM CERAMAH TARAWEH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-5569000574841442280</id><published>2007-10-02T22:23:00.000-07:00</published><updated>2007-10-02T22:29:53.807-07:00</updated><title type='text'>SEPERCIK MUDIK LEBARAN</title><content type='html'>Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang ‘Idul Fithri atau Lebaran. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Berdesak-desakan di kereta, berjubel di bis, kemacetan panjang di perjalanan, sampai menempuh ratusan kilo berbekal sepeda motor dengan risiko kehujanan dan kepanasan, dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka merayakan Lebaran di kampung halaman sekaligus untuk ajang silaturrahim terdahsyat dalam setahun bersama sanak keluarga. Seluruh jerih payah itu dilakukan demi terealisirnya satu kata: "pulang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang, adalah hal yang dinanti sekaligus merupakan salah satu obat kebahagiaan. Pulang adalah tujuan. Lama tidak pulang dan berada di luar tempat tinggal menimbulkan keresahan dan kegundahan. Contoh sederhana, jika kita berada di kantor beberapa jam lebih lama dibanding biasanya maka kita akan resah dan keinginan untuk pulang menjadi sangat kuat. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu temuan menarik yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini. Ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih tertangkap oleh bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, pada prinsipnya, kita senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasal kita. Karena itulah kita sering kangen kepada orang tua, kita rindu kepada kampung halaman, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim bersyair,&lt;br /&gt;نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى * مَا الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الْأَوَّلِكَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَـتَى * وَحَـنِيْنُهُ أَبَدًا لِأَوَّلِ مَنْـزِلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindahkanlah hatimu sesuai seleratapi tiadalah cinta melainkan kekasih pertamaBerapa banyak tempat di bumi yang disinggahi pemudatapi kerinduannya senantiasa pada persinggahan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang sebenarnya, kampung halaman dan tempat tinggal kita di dunia ini hanyalah merupakan asal muasal yang bersifat relatif. Tempat tinggal kita yang hakiki akan kita jumpai setelah kematian. Ke negeri akhirat kita akan pulang, dan di sana adalah rumah kita yang sejati. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita akan kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, penyebab kegundahan yang terkadang tiba-tiba melanda diri kita, yang kita bingung dari mana asalnya, adalah karena desakan sekeping kerinduan yang terbungkus terhadap kampung halaman kita yang sejati. Kerinduan dalam fithrah manusia yang tertutupi oleh kecohan keindahan dunia yang semu dan fana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):&lt;br /&gt;وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?!’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Allah).’" (QS. Al-A’rāf [7]: 172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan penafsiran ayat di atas, kitab-kitab tafsir mencantumkan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa dahulu Allah mengeluarkan seluruh jiwa manusia dari sulbi Adam untuk diambil persaksiannya, sebagaimana dalam ayat (lihat misalnya: Tafsīr Ibn Katsīr). Secara zhahir riwayat, pengambilan persaksian tersebut dilakukan langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Peristiwa tersebut jelas jauh terjadi sebelum kelahiran manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para psikolog dapat dikatakan bersepakat bahwa apa yang dialami sebelum kelahiran dapat berpengaruh terhadap alam bawah sadar (subconscious) seseorang, meskipun yang bersangkutan tidak mampu mengingat hal-hal tersebut. Sebab, jangankan untuk mengingat peristiwa yang terjadi jauh sebelum kelahiran, peristiwa yang terjadi pada usia kurang lima tahun saja sangat sulit untuk diingat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam bawah sadar memegang peranan krusial dalam diri seseorang. Citra diri, emosi bawaan, dan dasar tingkah laku seseorang mayoritasnya ditentukan oleh alam bawah sadar dibandingkan alam sadar (conscious). Alam bawah sadar juga lebih dominan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Gaya berjalan, berbicara, berpikir, dan lain-lain, lebih ditentukan oleh alam bawah sadar. Karena itulah ahli psikologi menyatakan bahwa pembinaan anak seyogyanya dimulai jauh sebelum anak tersebut lahir, yakni terkait dengan upaya membangun alam bawah sadar sang anak secara baik. Hal ini pun selaras dengan tuntunan syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kaitannya dengan ayat yang disebutkan sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pengambilan persaksian yang dikisahkan dalam ayat di atas merupakan peristiwa maha dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Bagaimana tidak?! Ketika itu jiwa manusia tengah diambil persaksian secara langsung oleh Dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha besar dan maha indah, dimana keindahan semesta raya tidak berarti apa-apa dibanding keindahan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pengambilan persaksian maha dahsyat tersebut pada hakekatnya menghujam kuat dalam diri manusia, tidak hanya mempengaruhi alam bawah sadar, bahkan masuk ke dalam fithrah, sehingga termasuk fithrah manusia untuk senantiasa ingin pulang, rindu dan kembali kepada-Nya. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita sering kali terkecoh. Fithrah dan kerinduan sejati kita untuk kembali kepada-Nya tersebut sering kali tertutup oleh keindahan dunia yang semu dan imitasi. Dunia yang seharusnya hanya kita jadikan sebagai sarana untuk membuktikan sejauh mana kerinduan dan kecintaan kita kepada-Nya justru berbalik menjadi tujuan yang melalaikan kita dari-Nya. WaLlāhu musta’ān.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, meskipun dengan segala dosa dan kesalahan kita yang menggunung, namun semoga kita senantiasa dapat menjadi orang-orang yang selalu berusaha kembali meniti rindang jalan Ilahi….&lt;br /&gt;Demikian, semoga ada manfaatnya. WaLlāhu a’lam bish shawāb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, apakah Anda juga termasuk orang-orang yang ber-mudik ria untuk lebaran? ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-5569000574841442280?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/5569000574841442280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=5569000574841442280' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/5569000574841442280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/5569000574841442280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/10/sepercik-mudik-lebaran.html' title='SEPERCIK MUDIK LEBARAN'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-1424073515118527901</id><published>2007-09-26T16:55:00.000-07:00</published><updated>2007-09-26T18:35:01.829-07:00</updated><title type='text'>PUASANYA ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT, BERPUASA TAPI TIDAK SHALAT</title><content type='html'>Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian ulama kaum muslimin mencela orang yang berpuasa tai tidak shalat, karena shalat itu tidak termasuk puasa. Saya ingin berpuasa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Dan sebagaimana diketahui, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Saya mohon penjelasanya. Semoga Allah menunjukki anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Orang-orang yang mencela anda karena anda puasa tapi tidak shalat, mereka benar dalam mencela anda, karena shalat itu tianggnya agama Islam, dan Islam itu tidak akan tegak kecuali dengan shalat. Orang yang meninggalkan shalat berarti kafir, keluar dari agama Islam, dan orang kafir itu, Allah tidak akan menerima puasanya, shadaqahnya, hajinya dan amal-amal shalih lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan" [At-Taubah : 54]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika anda berpuasa tapi tidak shalat, maka kami katakan bahwa puasa anda batal, tidak sah dan tidak berguna di hadapan Allah serta tidak mendekatkan anda kepadaNya. Sedangkan apa yang anda sebutkan, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah menghapus dosa-dosa di antara keduanya, kami sampaikan kepada anda, bahwa anda tidak tahu hadits tentang hal tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Shalat-shalat yang lima dan Jum'at ke Jum'at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi" [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab Ath-Thaharah (233)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam terlah mensyaratkan untuk penghapusan dosa-dosa antara satu Ramadhan degan Ramadhan berikutnya dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi. Sementara anda, anda malah tidak shalat, anda puasa tapi tidak menjauhi dosa-dosa besar. Dosa apa yang lebih besar dari meninggalkan shalat. Bahkan meninggalkan shalat itu adalah kufur. Bagaimana puasa anda bisa menghapus dosa-dosa anda sementara meninggalkan shalat itu suatu kekufuran, dan puasa anda tidak diterima. Hendaklah anda bertaubat kepada Allah dan melaksanakan shalat yang telah diwajibkan Allah atas diri anda, setetah itu anda berpuasa. Karena itulah ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan lima shalat dalam sehari semalam" [Hadits Riwayat Al-Bukhari, kitab Az-Zakah (1393), Muslim, kitab Al-Iman (1)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memulai perintah dengan shalat, lalu zakat setelah dua kalimah syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 34] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-1, Darul Haq]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-1424073515118527901?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/1424073515118527901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=1424073515118527901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1424073515118527901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/1424073515118527901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/09/puasanya-orang-yang-meninggalkan-shalat.html' title='PUASANYA ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT, BERPUASA TAPI TIDAK SHALAT'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-8609511251896382866</id><published>2007-09-07T17:03:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T17:06:12.800-07:00</updated><title type='text'>BERSYUKUR</title><content type='html'>Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu&lt;br /&gt;Duhai sahabat, sudahkah engkau bersikap qanaah saat ini? Jika belom mulailah saat ini detik ini juga untuk bisa menjadi hamba Allah yang qanaah. Apakah qanaah itu? Qanaah tidak lain adalah bersikap ikhlas dan bisa menerima apa yang ada. Sikap qanaah selalu identik dengan bisa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya, meski sekecil apapun rejeki yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah seorang wanita yang berharap sekali bisa bersikap qanaah kepada suami nanti. Karena apa? salah satu sifat dari wanita sholehah adalah bisa menerima apa yang ada yang bisa diberikan suaminya kepadanya. Qanaah bisa diartikan tidak meminta lebih dari apa yang bisa diberikan sang suami kepadanya.Apa yang diberikan sang suami, sudah selayaknya sang istri menerimanya dengan ikhlas hati, senang dan penuh rasa syukur. Karena semua rejeki yang diperoleh sang suami sudah ada dalam takaran yang telah Allah tentukan. Dan tidak sepantasnya sang istri menyalahkan sang suami karena rejeki yang diterimanya hanya sedikit. Walau hanya sedikit, jika bisa dinikmati dan diterima dengan ikhlas, maka hati akan menjadi lapang. InsyaAllah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah salallahu 'alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;"Jadilah kamu sebagai orang yang hati-hati (dalam ibadah dan hidup) dengan demikian kamu menjadi orang yang lebih banyak beribadah. Dan jadilah kamu sebagai orang yang bersikap qanaah, maka dengan demikian kamu akan mampu menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur kepada sesama manusia." (HR Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya qanaah memiliki maksud yang sangat luas. Dalam sikap ini manusia dianjurkan untuk benar-benar percaya akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan kita yaitu kekuasaan Allah subhanahu wata'ala. Qanaah menyuruh kita untuk bersabar dalam menerima ketentuan Illahi jika ketentuan itu tidak menyenangkan baginya dan menyuruh manusia untuk bersyukur andai diberikan kenikmatan yang menyenangkan. Meski demikian manusia tetap dituntut untuk selalu bekerja (ikhtiar) secara maximal dengan mengerahkan segala daya kekuatannya dalam mencari rejeki. Ikhtiar bukan berarti meminta tambahan atas rejeki yang telah diterimanya atau tidak cukup dengan apa yang ada di tangan, melainkan karena manusia hidup itu memang memiliki kewajiban untuk berikhtiar.Qanaah bukan berarti menyerahkan sepenuhnya kepada Allah lalu menunggu rejeki turun begitu saja. Namun dalam sikap qanaah harus dituntut untuk selalu berikhtiar dan berikhtiar. Hanya saja bagi seorang istri yang sholehah, dia tidak boleh menuntut suaminya untuk memperoleh rejeki diluar kesanggupannya. Sebab banyak sekali contoh di jaman sekarang ini, istri yang tidak mempedulikan jerih payah sang suami yang telah bekerja keras membanting tulang, dan hanya menyalahkan sang suami karena tidak mendapatkan rejeki sebanyak sang istri inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kebahagian itu tidak sepenuhnya disebabkan berlimpahnya materi, namun kebahagiaan itu datang dari hati dengan bersikap qanaah, selalu bersyukur dan tidak silau dengan kemewahan duniawi. Wallahu'alam.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Nabi telah bersabda: " Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta yang dimiliki namun kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati " .(HR Bukhari dan Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-8609511251896382866?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/8609511251896382866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=8609511251896382866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/8609511251896382866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/8609511251896382866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/09/bersyukur.html' title='BERSYUKUR'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-4660506052754074813</id><published>2007-09-07T16:58:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T17:08:21.994-07:00</updated><title type='text'>BUAH KESABARAN</title><content type='html'>Sahabat, pernahkan engkau mengalami kecemasan yang luar biasa? Cemas karena belom mendapatkan pekerjaan, cemas karena jodoh yang belom juga datang sementara usia kian merambat naik, cemas karena penyakit yang diderita akan menjadikan keluarga nanti kerepotan dan menyusahkannya, cemas karena jika menikah aku tak bisa membahagiakan istriku, cemas dan kecemasan lainnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, sudah fitrahnya manusia iman turun dan naik bagaikan ombak di lautan. Namun disaat keimanan turun, berusahalah sekuat tenagamu untuk menjadikannya naik kembali. Bagaimana caranya? carilah sahabat yang sholeh yang bisa mengingatkanmu untuk bisa bangkit lagi, yang mampu meneguhkan keimananmu kembali. Atau berusahalah sendiri untuk melawan semua kecemasan itu dengan menghadiri majelis taklim, membaca buku-buku agama atau kegiatan apa saja yang bisa memberikan nilai positif bagi dirimu. Karena dikala iman dalam keadaan turun, tak hanya kecemasan saja yang melanda melainkan keputusaasaan, pesimis dalam menjalani hidup akan mengikuti juga...ujung-ujungnya adalah keinginan mengakhiri hidupnya sendiri sebagai solusi. 'Audzubillahi min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusahalah keluar dari semua rasa itu karena semuanya hanyalah menunjukkan bahwa hati kita tengah dirasuki oleh syetan yang terkutuk yang berusaha melemahkan hati kita untuk menjauh dari Allah subhanahu wata'alla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah akan firman Allah di surat Al Ankabut ayat 2: "Apakah manusia dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada firman Allah yang lain : "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar". (QS Al Baqarah (2): 155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sahabat, jalan keluar yang terbaik dari setiap keinginan yang belum terpenuhi hanyalah dengan sabar. Kesabaran dalam menjalani setiap masalah yang tengah dihadapi adalah solusi yang terbaik, dan dengan cara inilah kita bisa membuktikan sebagai manusia yang bertakwa dan beriman kepada Allah. Sabar yang dimaksud tidak hanya duduk diam dan menerima kenyataan apa yang telah ada, namun kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran yang senantiasa diiringi dengan ikhtiar yang maximal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin mendapatkan pekerjaan, tidak bisa hanya duduk manis di rumah dan menunggu adanya pekerjaan datang begitu saja. Ingin mendapatkan jodoh pun tak bolehlah kita hanya duduk diam di dalam rumah berpangku tangan menunggu dilamar orang. Tak ingin menyusahkan keluarga karena penyakit di derita juga tak bakal bisa dilakukan andaikata yang sakit tak mau berobat dan hanya mengharap mukjizat kesembuhan datang begitu saja. Takut tidak bisa membahagiakan istri pun, tak mungkin bisa dibuktikan andai diri belom juga menikah dan tidak berusaha mencari solusi sehingga ketakutannya itu bisa dihilangkan. Selama ada usaha pasti ada jalan keluar! Semua harus disempurnakan dengan ikhtiar dan doa yang maximal. Andaikata segala daya upaya telah dikerahkan dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan, maka tibalah saatnya bagi kita untuk bersikap tawakaltu'alallah atau memasrahkan apapun hasilnya kepada Allah dan selalu berpikir bahwa apapun hasil yang diperoleh adalah keputusan yang terbaik dari Allah untuk kita. Sanggup menerima hasil yang tidak sesuai harapan dengan perasaan ikhlas juga merupakan bentuk kesabaran kita. Yakinlah kesabaran itu ibarat bratawali yang sangat pait rasanya namun buah kesabaran itu sungguh manis melebihi manisnya madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal. (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya" (QS. Al Ankabut (29): 58-59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, begitu manisnya buah dari kesabaran itu, karena kita kelak dijamin akan dimasukan ke dalam surga. Karena itu wahai sahabat, marilah mulai detik ini hapus rasa cemasmu dengan senantiasa berprasangka baik kepada Allah. Seburuk, sepait apapun kejadian yang saat ini tengah menimpa kita, yakinlah semua adalah pilihan yang terbaik dari Allah untuk kita. Allah pasti berusaha menyelamatkan kita. InsyaAllah. Jadi..mari kita kuatkan kesabaran kita..karena semua kepahitan ini tak akan berlangsung selamanya "sesungguhnya dibalik kesulitan selalu ada kelapangan, dibalik kesulitan selalu ada kelapangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung". (QS Ali Imran (3): 200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuingat nasehat seorang sahabat, yang berusaha meneguhkan hati ini dikala diri dalam keadaan gundah gulana. Dia berkata kepadaku," Ada yang datang dan yang pergi, yang tenggelam dan jatuh, yang teraih dan lepas, yang terengkuh dan hilang. Tiada yang kebetulan, semua telah digariskan dalam takdirNya. Semoga selalu kita ingat bahwa tiada yang abadi, sementara waktu kita terbatas. Semoga rahmat Allah subhanahu wata'alla senantiasa mengiringi tiap langkah, memetakan arah yang seharusnya, pilihan yang semestinya dan menjadikan usia penuh barakah. Amiiin"&lt;br /&gt;Jadikan sisa hidupmu dengan penuh kebaikan dan kesabaran....!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-4660506052754074813?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/4660506052754074813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=4660506052754074813' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4660506052754074813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/4660506052754074813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/09/buah-kesabaran.html' title='BUAH KESABARAN'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-117003497563853784</id><published>2007-01-28T17:29:00.000-08:00</published><updated>2007-01-28T17:42:56.383-08:00</updated><title type='text'>BEBERAPA KESALAHAN FATAL DI DALAM BUKU HARUN YAHYA</title><content type='html'>Oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hudzaifah al-Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah. Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab The Real Essence of Matter. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam Where is God? (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about where God is. Most of them think that God is up in the sky. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with worldly affairs once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear where God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai dimanakah Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas Langit. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur urusan dunia sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud. Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia. (Al-Israa’ : 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala sakaratul maut, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRF (International Research Foundation) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya. Walaupun di dalam beberapa hal beliau juga melakukan kesalahan-kesalahan yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Oleh karena itu, kami tidak mengambil perkara manhaj dari beliau (DR. Zakir Naik), namun di dalam perkara yang beliau berkompeten di dalamnya, maka tidak ada alasan bagi kami menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-117003497563853784?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/117003497563853784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=117003497563853784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/117003497563853784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/117003497563853784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/01/beberapa-kesalahan-fatal-di-dalam-buku.html' title='BEBERAPA KESALAHAN FATAL DI DALAM BUKU HARUN YAHYA'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-116988166738142293</id><published>2007-01-26T23:02:00.000-08:00</published><updated>2007-01-26T23:31:32.900-08:00</updated><title type='text'>MENGAKHIRKAN SHOLAT SHUBUH</title><content type='html'>MENGAKHIRKAN SHOLAT SHUBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz Rahimahullahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz Rahimahullahu ditanya dengan pertanyaan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa orang yang mengakhirkan shalat subuh sampai hari sangat terang, mereka melakukan hal itu berdalilkan dengan hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakanlah shalat subuh saat hari sudah sangat terang, karena yang demikian itu lebih banyak pahalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hadits ini sahih? Dan bagaimana menggabungkannya dengan hadits yang berbunyi,اَلصَّل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Amal yang paling utama yaitu) mengerjakan shalat tepat pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samahatus Syaikh Rahimahullahu menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang anda sebutkan adalah sahih, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ashabus sunan1 dengan sanad sahih dari Rafi` bin Khadij. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits itu tidak menyalahi hadits-hadits sahih yang menyebutkan bahwa rasulullah mengerjakan shalat subuh saat ghalas (hari masih gelap), dan tidak pulah menyalahi hadits Ash-sholaatu `ala waqtiha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maknanya menurut jumhur ulama` adalah mengakhirkan shalat subuh sampai betul-betul diketahui bahwa waktu subuh telah tiba, baru kemudian mengerjakan shalat subuh itu sebelum hilangnya ghalas, sebagaimana Rasulullah dulu mengerjakannya. Kecuali di Muzdalifah, maka yang lebih utama adalah menyegerakan mengerjakannya saat waktu subuh tiba, karena yang diperbuat nabi saat haji wada` seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keterangan di atas, maka terkumpullah hadits-hadits yang menerangkan waktu pelaksanaan shalat subuh. Tapi semua hadits yang ada itu, hanya sebatas afdhaliyyah (keutamaan)3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diperbolehkan mengakhirkan shalat subuh sampai waktunya yang terakhir, yaitu sebelum terbit matahari. Karena sabda nabi yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu shalat subuh dimulai ketika datang waktu fajar (subuh), selama matahari belum terbit. (Diriwayatkan Imam Muslim dalam sahihnya dari Abdullah bin Amru bin Ash)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialihbahasakan dari Tuhfatul Ikhwaan Bi Ajwibatin Muhimmatin Tata`allaqu Bi Arkaan Al-Islam, karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah, Daar Thaibah, Riyadh, Cet. 1, 1421 H/2000 M&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-116988166738142293?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/116988166738142293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=116988166738142293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116988166738142293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116988166738142293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2007/01/mengakhirkan-sholat-shubuh.html' title='MENGAKHIRKAN SHOLAT SHUBUH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-116442507170330526</id><published>2006-11-24T19:23:00.000-08:00</published><updated>2006-11-24T19:24:31.963-08:00</updated><title type='text'>Profil Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah</title><content type='html'>AL IMAM IBNU QAYYIM AL JAUZIYYAH,&lt;br /&gt;Beliau adalah Imam, ‘Allamah, Muhaqqiq, Hafizh, Ushuli, Faqih, Ahli Nahwu,berotak cemerlang, bertinta emas dan banyak karyanya; Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak (QAYYIM) bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil. &lt;br /&gt;Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya &lt;br /&gt;Bukanlah hal yang aneh jikalau Ibnul Qayyim tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya, sebab beliau dibentuk pada zaman ketika ilmu sedang jaya dan para ulama pun masih hidup. Sesungguhnya beliau telah mendengar hadits dari asy-Syihab an-Nablisiy, al-Qadli Taqiyuddin bin Sulaiman, Abu Bakr bin Abdid Da’im, Isa al-Muth’im, Isma’il bin Maktum dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap USHULUDDIN mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai HADITS, makna hadits, pemahaman serta ISTINBATH-ISTINBATH rumitnya, sulit ditemukan tandingannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, pengetahuan beliau rahimahullah tentang ilmu SULUK dan ilmu KALAM-nya Ahli tasawwuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Beliau memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul Fiqhi (para imam fiqih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasarannya &lt;br /&gt;Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap ayat-ayat al-Qur’anul Karim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala: &lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl:44). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Allah Ta’ala, &lt;br /&gt;“Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-Muridnya &lt;br /&gt;Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah Dan Manhajnya &lt;br /&gt;Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj al-Qur’anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala, &lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq.” (Saba’:6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid. &lt;br /&gt;Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah al-Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Yang Dihadapi &lt;br /&gt;Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirah (Riwayat Hidup) Dan Pujian Ulama Terhadap Beliau &lt;br /&gt;Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan masih banyak lagi pujian ulama terhadap Ibnul Qayyim yang termuat dalam naskah asli berbahasa Arab, yang terjemahannya kini ada di hadapan pembaca, namun dalam hal pujian ulama terhadap beliau ini hanya diterjemahkan secukupnya saja, pent). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsaqafahnya &lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-Karyanya &lt;br /&gt;Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Karya Besar Beliau &lt;br /&gt;1. Tahdzib Sunan Abi Daud, &lt;br /&gt;2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, &lt;br /&gt;3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, &lt;br /&gt;4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, &lt;br /&gt;5. Bada I’ul Fawa’id, &lt;br /&gt;6. Amtsalul Qur’an, &lt;br /&gt;7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan, &lt;br /&gt;8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil, &lt;br /&gt;9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, &lt;br /&gt;10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris, &lt;br /&gt;11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain, &lt;br /&gt;12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, &lt;br /&gt;13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’ &lt;br /&gt;14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz, &lt;br /&gt;15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad, &lt;br /&gt;16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’ &lt;br /&gt;17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,. &lt;br /&gt;18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah, &lt;br /&gt;19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah, &lt;br /&gt;20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul, &lt;br /&gt;21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah, &lt;br /&gt;22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin, &lt;br /&gt;23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi, &lt;br /&gt;24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud, &lt;br /&gt;25. Miftah daris Sa’adah, &lt;br /&gt;26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah, &lt;br /&gt;27. Raf’ul Yadain fish Shalah, &lt;br /&gt;28. Nikahul Muharram, &lt;br /&gt;29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah, &lt;br /&gt;30. Fadl-lul Ilmi, &lt;br /&gt;31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin, &lt;br /&gt;32. al-Kaba’ir, &lt;br /&gt;33. Hukmu Tarikis Shalah, &lt;br /&gt;34. Al-Kalimut Thayyib, &lt;br /&gt;35. Al-Fathul Muqaddas, &lt;br /&gt;36. At-Tuhfatul Makkiyyah, &lt;br /&gt;37. Syarhul Asma il Husna, &lt;br /&gt;38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah, &lt;br /&gt;39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim, &lt;br /&gt;40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi, &lt;br /&gt;41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya &lt;br /&gt;Asy-Syaikh al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub az-Zar’i yang terkenal dengan julukan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah pada saat adzan ‘Isya’. Beliau dishalatkan keesokan harinya sesudah shalat Zhuhur di Masjid Jami’ Besar Dimasyq (al-Jami’ al-Umawi), kemudian dishalatkan pula di masjid Jami’ al-Jirah. Beliau dikuburkan di sebelah kuburan ibunya di tanah pekuburan al-Babus Shaghir. Kuburannya dikenal hingga hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazahnya banyak dihadiri orang. Disaksikan oleh para Qadhi dan orang-orang shalih dari kalangan tertentu maupun awam. Orang-orang berjubel saling berebut memikul kerandanya. Saat wafat, beliau rahimahullah berumur genap enam puluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa memberikan keluasan rahmat-Nya kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ (Rujukan) &lt;br /&gt;1. Al-Bidayah wan Nihayah ibni Katsir, &lt;br /&gt;2. Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth, &lt;br /&gt;3. Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d, &lt;br /&gt;4. Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani, &lt;br /&gt;5. Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad, &lt;br /&gt;6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, &lt;br /&gt;7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali, &lt;br /&gt;8. Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi, &lt;br /&gt;9. Bughyatul Wu’at karya Suyuthi, &lt;br /&gt;10. Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi, &lt;br /&gt;11. An-Nujum Az-Zahirah karya Ibn Ta’zi Bardiy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari: &lt;br /&gt;Majalah al-Mujahid no. 12 Th. I, Rabi’uts Tsani 1410 H. Hal 30-33, tulisan Hudzaifah Muhammad al-Missri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-116442507170330526?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/116442507170330526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=116442507170330526' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116442507170330526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116442507170330526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/11/profil-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah.html' title='Profil Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-116435993768130029</id><published>2006-11-24T01:18:00.000-08:00</published><updated>2006-11-24T01:19:02.800-08:00</updated><title type='text'>BID'AH</title><content type='html'>-Disangka kebaikan tetapi menghantarkannya kpd neraka- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Abdullah bin Umar Rodiallahuanhu yg dikenal sebagai aktsaru iqtida'an lirosuulillah (sahabat yg paling banyak meneladani Rasulullah) mendengar orang yang bersin dan sembari membaca "alhamdulillah, washsholatu wassalam'alaa rosulillah", seketika itu Abdullah bin Umar Rodiallahuanhu menegurnya dan berkata "tidak demikian yg diajarkan rosulullah !!". tetapi beliau bersabda "Barangsiapa yg bersin diantara kalian, maka hendaknya memuji Allah (membaca hamdalah)", beliau tidak mengatakan "dan hendaknya bersholawat atas Rosulullah".&lt;br /&gt;begitulah kepekaan Abdullah bin Umar Rodiallahuanhu terhadap bid'ah (suatu perkara baru dalam agama yg diada-ada), meskipun orang menganggapnya baik. pelaku bid'ah seperti orang yg mengumpulkan barang2 untuk perbekalan safar yg sangat jauh, tetapi ternyata bekal yg ia bawa tak berguna apa2, selain itu menambah beban saat perjalanan. Inilah orang yg tertipu.&lt;br /&gt;Rosulullah sollallahu alayhi wasallam bersabda "Barangsiapa yg beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah (contohnya) dari kami maka tertolak". (HR.Muslim)&lt;br /&gt;selain perbuatan bid'ah tertolak, bid'ah juga terbilang sebagai kesesatan yg berpotensi memasukkan seseorang ke neraka. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyebutkan bahwa rangking kedua dosa yg dituju oleh setan setelah syirik adalah bid'ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ar-Risalah No.59 Th.V 1427 H]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-116435993768130029?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/116435993768130029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=116435993768130029' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116435993768130029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116435993768130029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/11/bidah.html' title='BID&apos;AH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-116418855338317004</id><published>2006-11-22T01:41:00.000-08:00</published><updated>2006-11-22T01:42:34.150-08:00</updated><title type='text'>TAUHID PRIORITAS PERTAMA</title><content type='html'>MENGAPA HARUS TAUHID ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Kondisi umat Islam yg kian hari kian memprihatinkan, muncullah pertanyaan bagi mereka yg punya semangat berdakwah, "apa yg mesti didakwahkan?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jawabannya ternyata beragam, ada yg memulai dengan ingin menegakkan pemerintahan Islami(khilafah), kemudian terjun ke politik(siyasah) atau menyerukan penegakan hukum Islam dengan turun ke jalan-jalan(demo/masyiroh), ada lagi yg berpindah-pindah dari masjid ke masjid(khuruj-biasa dilakukan oleh Jama'ah Tabligh), yg katanya bertujuan untuk amar ma'ruf nahi munkar. namun, umumnya mereka semua menghindari masalah pemurnian aqidah, sebab dianggap akan merintangi dakwah dan mengganggu persatuan umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MISI DAKWAH SEMUA RASUL &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kita mau menengok Al-Qur'an, salah satunya dalam surat Al-A'raf akan terdapat beberapa ayat yg menyebutkan tentang misi dakwah para rasul, diantaranya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab di hari yang besar (kiamat)."(Al-A'raf:59) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"(Al-A'raf:65) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya..."(Al-A'raf:85) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perhatikanlah, sekalipun umat para rasul itu berbeda-beda dan beragam, akan tetapi dakwah kepada tauhid ini tetap menjadi dasar yg paling penting, baik yg mereka hadapi masalah ekonomi seperti kaum Madyan atau masalah politik, karena mereka (umat tersebut) waktu itu belum berhukum dg hukum Alloh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh shollallohu alaihi wasallam, sebagai panutan kita memberikan teladan mengenai bagaimana pentingnya perkara TAUHID bagi umatnya, terbukti dalam perjalanan hidupnya, beliau tidak henti-hentinya memperhatikan dan mendakwahkan masalah ini (TAUHID). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa tauhid merupakan kunci dakwah para rasul, sebagaimana disebutkan dalam hadits Muadz, Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda kepada Muadz tatkala mengutusnya ke Yaman, "sesungguhnya kamu akan mendatanagi kaum ahli kitab, maka hendaknya dakwah pertama kali yg kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat "laa ilaaha illallah" dalam riwayat lain "supaya mereka mentauhidkan allah"....(Mutafaq 'alaihi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jangan sampai cahaya TAUHID menjadi padam, lantaran adanya anggapan/syubhat/keragu-raguan bahwa tauhid telah bersemayam di hati setiap manusia. coba perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim sebagai pemimpin orang2 yg bertauhid, berdoa agar tidak jatuh dalam kesyirikan, berikut do'anya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(ibrahim 35-36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, sebagai seorang muslim yg baik, kita seharunya mencontoh Nabi shollallohu alaihi wasallam baik dalam masalah dakwah maupun masalah lainnya, dan bukan mencari-cari cara lain yg belum teruji keberhasilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;ringkasan dari Majalah Nikah Vol.5 No. 1 April 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-116418855338317004?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/116418855338317004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=116418855338317004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116418855338317004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116418855338317004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/11/tauhid-prioritas-pertama.html' title='TAUHID PRIORITAS PERTAMA'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-116358314846247145</id><published>2006-11-15T01:31:00.000-08:00</published><updated>2006-11-15T01:32:28.590-08:00</updated><title type='text'>Apakah Akhirat Tidak Kekal?</title><content type='html'>Pertanyaan &lt;br /&gt;saya baru membaca buku berjudul "Ternyata akhirat tidak kekal" karangan Agus Mustofa. Adapun dalil yang dikemukakan penulis adalah bahwa kehidupan terdiri dari dua unsur yaitu pencipta dan yang diciptakan (makhluk). Penulis mengatakan yang memiliki sifat baqa atau kekal hanyalah Sang pencipta sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang bersifat fana. kemudian penulis juga menampilkan nash Al-Quran surat Hud(11): 106-108 sebagai dalil pendukung bahwa akhirat tidak kekal. Banyak nash Al-Quran yang menyatakan kekalan akhirat, penulis menafsirkan bahwa hal itu merupakan kiasan betapa lamanya akhirat akan binasa yang menurut sains modern 18 milyar tahun. Mohon bantuan teman-teman bagaimana manhaj (ulama) salaf menyikapi tentang hal ini. terima kasih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban dari Majalah Assunnah Edisi Khusus (7-8)/Tahun X/1427H/2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirat adalah sesuatu yang ghaib, tidak diketahui kecuali dengan berita wahyu, baik dalam al Qur'an maupun Sunnah Rasulullah. Sehingga, seseorang tidak boleh menetapkan suatu ketentuan, kecuali berdasarkan keduanya. Namun perlu diingat, memahami keduanya dengan benar, harus merujuk kepada para sahabat. Mereka adalah para murid Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang langsung menerima keterangan dan penjelasan beliau. Juga melihat kepada ketentuan dan pemakaian bahasa Arab, sebab Al Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan pertanyaan ketidak kekalan akhirat, perlu dipertanyakan, adakah di kalangan para sahabat yang menyatakan demikian? Tidak cukup hanya dengan menyebut dalil al Qur'an, apalagi berdasarkan terjemahannya -bahasa Indonesia- kemudian menafsirkan seluruh ayat-ayat lain yang dianggap tidak sesuai dengan bipotesa yang dibuatnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang mengatakan akhirat, surga dan neraka tidak kekal,. bukanlah pendapat baru. Pendapat ini hanya membangkitkan kembali pemikiran sesat al Jahmiyah, yang dipelopori Jahm bin Shafwan. Begitu juga dengan pembesar Mu'tazilah, yaitu Abu al Hudzail al 'Allaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, hal ini sudah dijelaskan oleh para ulama terdahulu, seperti Imam ath Thahawi (wafat 321H), Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, adz Dzahabi, Ibnu Abil 'Izzi al Hanafi (wafat 792H), dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Ja'far ath Thahawi menyatakan : "Surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah, tidak punah selama-lamanya” (Syarah Aqidatuth Thahawiyah, halaman 614) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelaskan perkataan Abu Ja'far at Thahawi di atas, Imam Ibnu Abil 'Izzi al Hana berkata : "Orang yang berpendapat surga dan neraka tidak kekal adalah Jahm bin Shafwan, pemimpin Jahmiyah. Pendapatnya ini, tidak ada seorang pun yang mendahului, baik dari kalangan sahabat ataupun tabi'in. Tidak juga dari para imam muslim dan Ahlu Sunnah. Seluruh Ahlu Sunnah telah mengingkarinya, dan memvonis kafir kepada Jahm disebabkan pendapatnya ini" (Syarah Aqidatuth Thahawiyah, haiaman 614). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : &lt;br /&gt;Pendapat yang menyatakan surga dan neraka tidak kekal, maka saya tidak pernah mengetahui ada seorang pun yang menukilnya dari salah seorang salafush-shalih, baik dari kalangan sahabat maupi tabi'in. Mereka hanya menceritakan, pendapat itu dari Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya (yaitu al Jahmiyah). Pendapat ini termasuk yang diingkari oleh para ulama besar Islam. Bahkan, menjadi argumen mereka untuk memvonis kafir sekte al Jahmiyah, sebagaimana telah dijelaskan ole Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal (dalam as Sunnah}, al Atsram (dalam as Sunnah), dan At Abdillah Muhammad bin Isma'il al Bukhari (dalam Khalqu Af'al al '!bad) serta lainnya dari Kharijah bin Mush'ab, bahwa ia berkata ; Al Jahmiyah menjai kafir berdasarkan beberapa ayat dari al Qur'ar Di antaranya empat ayat : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah (artinya) : Buahnya (Sorga) tak henti-henti (kekal), sedang naungannya (Sorga) (demikian pula) -QS al Ra'ad 13 ayat 35. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyatakan, tidak kekal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah (artinya) : Sesungguhnya ini adalah benar-benar rizki dari Kami yang tiada habis-habisnya -QS Shad/38 ayat 54 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyatakan, akan habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah : (artinya) : Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya -QS Waqi'ah/56 ayat 33 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang mengatakan "akan berhenti," maka ia telah kafir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah : (artinya) : Sebagai karunia yang tiada putus-putusnya -Q5 Hud/11 ayat 108 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, tidak putus-putus. Barangsiapa yang menyatakan itu akan terputus, maka ia telah kafir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk membantah buku yang ditanya tersebut, kami perlu mengkaji terlebih dahulu buku tersebut, sehingga kami dapat mengerti dalil dan sisi pengambilan hukum yang terdapat pada buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal tersebut, Namun yang jelas, pemahaman seperti ini dipelopori sekte sesat al Jahmiyah dan Mu'tazilah, yang sekarang banyak diusung kembali ke dunia Islam oleh para musuh Islam, baik dengan memanfaatkan kaum Muslimin sendiri, ataupun secara langsung mela lui pena dan lisan mereka. Oleh karena itu, kita semua hendaklah sadar, betapa berbahaya belajar Islam, dari para musuh Islam, seperti orientalis dan lslamologi dari Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian jawaban singkat kami, mudah-mudahan bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-116358314846247145?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/116358314846247145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=116358314846247145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116358314846247145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116358314846247145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/11/apakah-akhirat-tidak-kekal.html' title='Apakah Akhirat Tidak Kekal?'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-116200876130724896</id><published>2006-10-27T21:10:00.000-07:00</published><updated>2006-10-27T21:12:41.700-07:00</updated><title type='text'>GERAKKAN JARIMU</title><content type='html'>Kata pengantar Ustadz Abdul Hakim&lt;br /&gt;Abdat -hafidhahullah- dalam buku "Petunjuk bagi Mereka yang Menolak untuk Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut nukilannya:&lt;br /&gt;Amma ba'du, menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika shalat di waktu tasyahhud awal dan akhir, merupakan salah satu sifat shalat Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah ditinggal oleh kebanyakan kaum muslimin karena beberapa sebab:&lt;br /&gt;Pertama: Karena mereka tidak mengetahui atau tidak memiliki&lt;br /&gt;ilmunya, seperti kebanyakan dari Sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lainnya yang banyak tidak diketahui oleh kaum muslimin. Penyakit"tidak tahu" ini yang akan membawa kepada penyakit "lain", yaitu penyakit&lt;br /&gt;"tidak mau tahu, dapat terobati dengan menuntut ilmu syar'i.&lt;br /&gt;Kedua: Ta'ashshub madzhabiyyah. Mereka menyatakan,"Madzhab kami tidak menetapkan dan tidak mengamalkannya!!" Kita jawab: Bahwa madzhab para imam semuanya, khususnya imam yang empat, sepakat mereka mengatakan yang merupakan satu kaidah besar di dalam Islam:&lt;br /&gt;Apabila sesuatu hadits telah SAH, maka itulah madzhabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Waa-il bin Hujr tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk di waktu tasyahhud awal dan akhir, telah sampai kepada kita melalui jalur yang SAH sepanjang kaidah-kaidah ilmu ushul hadits dan telah dinyatakan SAH oleh para&lt;br /&gt;imam dan pakar hadits. Maka secara hakiki, ini madzhab-nya para imam berdasarkan kaidah yang telah mereka tetapkan. Meskipun pada zamannya,hadits Waa-il bin Hujr dari jalan Zaa-idah bin Qudamah belum sampai kepada mereka. Perhatikanlah, karena kaidah ini sesuatu yang sangat penting untuk dipahami.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;Ketiga: Karena mereka -sebagian ulama- telah menafsirkan yang berbeda, bahkan menyalahi zhahirnya hadits. Atau menempuh jalan kompromi (jama') antara hadits Waa-il yang shahih dengan hadits yang dha'if,&lt;br /&gt;sebagaimana akan dijelaskan oleh penulis.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;Keempat: Sebagian mereka telah melemahkan hadits Waa-il bin&lt;br /&gt;Hujr dari jalan Zaa-idah bin Qudamah. Mereka mengatakan bahwa riwayat Zaa-dah ini syadz !?&lt;br /&gt;Alasan mereka ini sangat lemah, lebih lemah dari sarang laba-laba!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan untuk mereka ini banyak sekali dari beberapa jalan, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Tidak ada seorangpun ulama ahli hadits yang dahulu maupun sekarang yang melemahkan   hadits Waa-il dari jalan Zaa-idah kecuali para pemula. Oleh karena itu, mereka telah menyalahi ijma' ulama hadits yang telah men-shahih-kan hadits Waa-il dari jalan Zaa-idah.&lt;br /&gt;Riwayat Zaa-idah bukanlah syadz, tetapi adalah "ziyadatuts tsiqah al maqbulah," yaitu tambahan dari rawi yang tsiqah diterima. Sebab, kalau riwayat Zaa-idah dianggap syadz, maka hadits-hadits yang seperti riwayat Zaa-idah banyak sekali bertebaran di kitab-kitab hadits, di kutubus sittah,&lt;br /&gt;masaanid, ma'aajim, dan lain-lain. Apakah semuanya kita katakan syadz? Lalu,berapa hadits yang tersisa yang dapat kita amalkan?&lt;br /&gt;Hadits-hadits yang mendukung riwayat Zaa-idah banyak sekali, sebagaimana akan diturunkan sebagiannya oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Zaa-idah ini membuktikan kepada kita kebenaran firman Allah, bahwa Allah yang menjaga dan memelihara kitab-Nya yang mulia,tentunya termasuk di dalamnya Al hadits atau As Sunnah yang kedudukannya sebagai penafsir Al Qur'an, khususnya dalam masalah shalat yang sangat agung dan besar. Zaa-idah bin Qudamah telah berjasa besar dalam meriwayatkan dan menghidupkan salah satu sifat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,yaitu menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahhud awal dan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menghendaki Sunnah Nabi dan Rasul-Nya 'alaihish shalatu wa sallam tetap terjaga, meskipun hanya diriwayatkan oleh satu orang seperti zaa-idah bin Qudamah rahimahullah.&lt;br /&gt;Sekaligus menunjukkan keutamaan Zaa-idah bin Qudamah dari saudara-saudaranya sesama rawi dari hadits Waa-il bin Hujr, sehingga beliau telah melebihi mereka dengan tambahannya tersebut.Juga menunjukkan kepada kita bahwa hadits mempunyai beberapa jalan (thuruq).Juga menunjukkan kepada kita bahwa para rawi berlebih kurang di dalam meriwayatkan hadits.Juga menunjukkan kepada kita bahwa Zaa-idah bin Qudamah seorang rawi yang sangat tsiqah dengan persaksian besar dari imam ahli hadits.Dan lain-lain banyak sekali.&lt;br /&gt;Risalah yang kecil ini yang Insya Allah besar manfaatnya, buah pena dari sahabat saya Al Akh IBNU SAINI Abu 'Ubaidillah. Tulisan ini sebenarnya telah cukup lama tersimpan dan tidak segera diterbitkan. Tetapi, diulang-ulang dulu, diteliti kembali, dikoreksi, dikurangi atau ditambahi mana yang perlu.&lt;br /&gt;Ketika penulis melihat telah sampai pada batas usaha dan kemampuannya, maka naiklah tulisan ini ke alam penerbitan yang sekarang sedang berada di tangan sidang pembaca yang terhormat. Saya nasehati kepada para pelajar yang ingin&lt;br /&gt;menulis karya-karya ilmiyyah, janganlah cepat-cepat dia terbitkan sebelum dia meneliti lebih dalam lagi yang sekiranya dia telah habiskan usaha dan kemampuan untuk melahirkan satu karya ilmiyyah yang bermuatan ilmu. Saya&lt;br /&gt;katakan demikian, karena begitulah manhaj ilmiyyah-nya kaum salaf.&lt;br /&gt;Saya katakan, bahwa risalah ini telah cukup bagi umumnya kaum muslimin untuk mengetahui masalah ini berdasarkan dalil dan hujjah. Dan sebagai pengantar atau muqaddimah bagi para pelajar dan ahli ilmu untuk meluaskan pembahasan&lt;br /&gt;dan penelitiannya dalam masalah ini.&lt;br /&gt;Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan ganjaran yang baik dan besar bagi penulis di dunia dan di akhirat. Allahumma amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanda tangan&lt;br /&gt;Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;br /&gt;Jakarta, Senin - 4 Rabi'ul Akhir 1425&lt;br /&gt;24 Mei 2004&lt;br /&gt;Demikian tadi nukilannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Petunjuk bagi mereka yang menolak menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud? terbitan Pustaka Abdullah , karya Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa. Kitab ini diberi kata pengantar oleh ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Hakim berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat Zaaidah bin Qudamah ini membuktikan kepada kita kebenaran firman Allah, bahwa Allah yang menjaga dan memelihara kitab-Nya yang mulia, tentunya termasuk didalamnya hadits atau sunnah yang kedudukannya sebagai&lt;br /&gt;penafsir Al-Qur'an, khususnya dalam masalah sholat yang sangat agung dan besar. &lt;br /&gt;Zaaidah bin Qudamah telah berjasa besar dalam menghidupkan salah satu sifat sholat  Nabi yaitu menggerak-gerakan jari telunjuk ketika tasyahud awal dan akhir. Allah menghendaki sunnah Nabi dan Rasul-Nya tetap terjaga,meskipun hanya diriwayatkan oleh satu orang seperti Zaaidah bin Qudamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sekaligus menunjukkan keutamaan Zaaidah bin Qudamah dari&lt;br /&gt;saudara-saudaranya sesama rawi dari hadits Waail bin Hujr sehingga beliau melebihi mereka dengan tambahannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Juga menunjukkan kepada kita bahwa hadits mempunyai beberapa jalan(thuruq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Juga menunjukkan kepada kita bahwa para rawi hadits mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam meriwayatkan hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis (Ibnu Saini) menjelaskan : Hadits menggerakkan jari telunjuk telah diriwayatkan dari jalan sahabat Waa-il bin Hujr oleh Ahmad, Bukhari dalam Qurratul 'Ainain bi Raf'aTil Yadain fish sholah, yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Aku (Waail bin Hujr) berkata:Sungguh aku akan melihat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bagaimana beliau sholat ...dan beliau mengangkat jari (telunjuknya), maka akupun melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdoa dengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berkata :?Kemudian hadits Waa-il bin Hujr di atas telah disahkan oleh banyak ulama, sebagian mereka terang-terangan men-sah-kannya dan sebagiannya lagi hanya dengan isyarat. Adapun mereka yang tidak terang-terangan sangat banyak sekali, bahkan penulis  tidak menemukan&lt;br /&gt;seorangpun dari kalangan ulama salaf yang men-dhaifkannya, Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara mereka yang terang-terangan mensahkannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imam Ibnu Khuzaimah, sebagaimana disebutkan dalam kitab sifat sholat Nabi, karya Imam Al-Albany&lt;br /&gt;2. Imam Ibnu Hibban, sebagaimana disebutkan dalam kitab sifat sholat Nabi, karya Imam Al-Albany&lt;br /&gt;3. Imam Nawawy dalam kitab Majmu' Syarh Muhazzab&lt;br /&gt;4. Imam Ibnu Abdil Bar&lt;br /&gt;5. Imam Al-Qurthubi telah menukil penshahihan Ibnu Abdil Bar di atas dalam kitab tafsirnya&lt;br /&gt;6.Ibnul Mulaqqin&lt;br /&gt;7.Al-Baihaqi&lt;br /&gt;8.Ibnul Qayyim&lt;br /&gt;9.Syaikh Abdurrahman Al-Banna (ayahanda Hasan Al-Banna)&lt;br /&gt;10.Imam Al-Albani&lt;br /&gt;11.Syaikh Hamdi bin Abdul Majid As-Salafi&lt;br /&gt;12.Syaikh Ali Hasan&lt;br /&gt;13.Syaikh Masyhur Hasan Salman&lt;br /&gt;14.Syaikh Salim Al-Hilaly&lt;br /&gt;15.Syaikh Syuaib dan Abdul Qadir Al-Arnauth&lt;br /&gt;16.Syaikh Hamzah Ahmad Az-Zain&lt;br /&gt;17.Syaikh Muhammad Jamil Zainu&lt;br /&gt;18.Syaikh Ahmad Syarif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits di atas, kita dapat mengetahui bahwa menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud telah tsabit (tetap) sunnahnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan hendaklah mereka yang mengatakan bahwa hal itu adalah&lt;br /&gt;perbuatan yang sia-sia yang tidak cocok untuk diamalkan dalam sholat, dan mereka yang suka mengolok-olok orang-orang  yang mengamalkan itu berhenti dari perkataan dan olok-olokan mereka itu dan selanjutnya bertaubat kepada Allah.Karena pada hakikatnya mereka mengolok-olok Nabi yang mulia shallallahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui perkataan mereka (ulama, peny-) yang men-sahkan hadits di atas, maka apakah ada orang yang mendhaifkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Albany dalam salah satu ceramahnya menyatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Terakhir, aku katakan: aku  tidak mengetahui seorangpun dari para pendahulu umat ini yang terdiri dari para imam ahli hadits yang mendhaifkan hadits Zaaidah bin Qudamah atau hadits Waail bin Hujr dengan sangkaan bahwasanya hadits tersebut telah menyelisihi hadits-hadits riwayat yang&lt;br /&gt;lain.Mereka seluruhnya sepakat bahwasanya hadits ini shahih? seperti para penyusun kitab shahih,  di antaranya Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban,Al-Hakim, Ibnul Jarud.&lt;br /&gt;Begitu juga mereka yang mentakhrij hadits ini ,&lt;br /&gt;mereka tidak menyatakan sebagai hadits yang syadz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau (syaikh Al-Albany) melanjutkan lagi  :&lt;br /&gt;Dan kritikan terhadap hadits ini , hanya ada pada masa kita saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis katakan:&lt;br /&gt;Diantara mereka yang mengkritik hadits ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nadwah majalah Al-Muslimun&lt;br /&gt;2. Hasan As-Saqqaf&lt;br /&gt;3. Mereka para ahli ilmu yang telah keliru dalam masalah ini, diantara nya adalah syaikh yang mulia Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah, yang diikuti oleh murid-murid beliau.Mereka seluruhnya menyatakan bahwasanya tambahan riwayat Zaaidah bin Qudamah dalam hadits di atas (yakni tambahan " menggerakkan jari telunjuk? adalah tambahan hadits yang syadz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan Bagi Mereka yang Mendhaifkan Hadits Tahrik (Menggerakkan jari telunjuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis katakan : ?maka hendaknya kita melihat bagaimana penilaian para imam tentang Zaaidah bin Qudamah (seorang rawi dalam hadits Waail bin Hujr,peny-):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Zaaidah bin Qudamah) tsiqatun tsabtun (perawi tsiqah lagi kuat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hibban berkata:Ia (Zaaidah bin Qudamah) termasuk dari para imam yang mutqin,ia tidak menganggap sebagai suatu sama'(pendengaran),kecuali setelah mengulanginya sebanyak tiga kali dan ia tidak memuji seorangpun kecuali mereka yang telah disaksikan keadilannya oleh seorang (imam) dari Ahlusunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Imam Al-Albani dalam salah satu ceramahnya mengatakan:Oleh karena itulah tidak mudah bagi kita untuk menganggap syadz riwayat yang disampaikan oleh Zaaidah bin Qudamah ini, khususnya periwayatan yang ia terima dari gurunya Ashim bin Kulaib dari bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau (syaikh) menambahkan :karena apabila kita menganggap(periwayatan dari seorang perawi yang tsiqah seperti Zaaidah bin Qudamah ini) syadz (Cuma karena tambahan yang ia riwayatkan tersebut), maka niscaya banyak sekali riwayat-riwayat yang harus dihukumi seperti itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis katakan :Sekarang , mari kita lihat apakah periwayatan Zaaidah bin Qudamah ini menyelisihi periwayatan para perawi yang lebih tsiqah darinya atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya adalah tidak, sebab lafaz tahrik(menggerakkan) itu tidaklah bertentangan dengan lafazh isyarat, baik ditinjau dari segi bahasa, maupun dari segi dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Apabila ditinjau dari segi bahasa, dapat difahami oleh setiap orang bahwa isyarat terkadang disertai gerak dan terkadang tanpa disertai dengan gerak, seperti seseorang berisyarat kepada yang lainnya dari kejauhan  agar&lt;br /&gt;orang itu mendekat kepadanya atau seperti seseorang yang berisyarat kepada orang yang berdiri agar duduk. Tidak seorangpun akan memahami bahwa orangyang berisyarat itu tidak menggerakkan tangannya ketika ia berisyarat, maka&lt;br /&gt;perhatikanlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; Apabila ditinjau dari segi dalil, maka telah diriwayatkan dari Aisyah tentang kisah sholatnya para sahabat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan cara berdiri, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sholat sambil duduk, maka beliaupun mengisyaratkan kepada mereka untuk duduk semuanya,dan setiap orang pasti dapat dengan cepat memahami dari (lafazh) hadits tsb bahwasanya isyarat beliau itu tidak hanya dengan mengangkat tangan beliau saja, sebagaimana tindakan beliau ketika berisyarat untuk menjawab salam para sahabat Anshar ketika beliau dalam sholat ! Akan tetapi isyarat tersebut juga mengandung gerakan, maka tidak dibenarkan untuk mengatakan bahwasanya riwayat-riwayat yang menyebutkan isyarat tersebut bertentangan dengan riwayat tahrik. Bahkan dapat juga dikatakan bahwasanya riwayat-riwayat tersebut bersesuaian dengan riwayat tahrik, dan&lt;br /&gt;alasan inilah yang diperhatikan oleh mereka yang menshahihkan hadits ini serta mengamalkannya dan juga mereka menerima keshahihannya, namun mereka menta'wilnya, akan tetapi mereka yang menta'wil hadits ini tidak sekali-kali mengatakan hadits ini syadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berkata :Ringkasnya adalah: Bahwasanya isyarat tidaklah menafikan (meniadakan) tahrik, bahkan terkadang keduanya sama-sama dilakukan, sebagaimana keterangan yang telah berlalu, maka pernyataan bahwasanya tahrik (menggerakkan) itu bertentangan dengan isyarat tidaklah&lt;br /&gt;benar, baik ditinjau dari segi ilmu bahasa maupun dari segi dalil. Dari keterangan ini dapatlah diketahui kekeliruan pendapat mereka yang mengatakan bahwasanya hadits ini syadz, walhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Alasan Lainnya dan jawabannya&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Zubair, sesungguhnya ia menyebutkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya. (hadits ini di dhaifkan oleh syaikh Albani dalam Dhaif Abu Dawud dan Dhaif Sunan Nasa'i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya dari riwayat Ibnu Umar yang berbunyi: ? Dan beliau tidak menggerakkannya, sesungguhnya hal itu sebagai penghalau setan, lalu ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berbuat seperti&lt;br /&gt;itu?(HR Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqat, didalam sanadnya terdapat Katsir bin Zaid, AlHafizh Adz-Dzahabi berkata dalam kitab Al-Kasyif :Shaduq fihi liin (jujur, akan tetapi padanya ada kelemahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  berkata:Dan telah jelas bagi kita tentang dhaifnya&lt;br /&gt;hadits Abdullah bin Zubair dan juga hadits Abdullah bin Umar yang didalamnya terdapat lafazh Laa Yuharrikuha dan shahihnya hadits Waail bin Hujr yang didalamnya terdapat lafazh Yuharrikuha, maka kita harus meninggalkan riwayat yang dhaif (lemah) dan mengambil riwayat yang shahih, Allahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kedua riwayat yang menyebutkan tidak menggerakkan tersebut diatas shahih, maka wajib untuk ditolak, karena dua sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Kedua hadits tsb tidak jelas menyebutkan bahwa itu di dalam sholat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Kalaupun dikatakan bahwa kedua riwayat tsb di dalam sholat, maka riwayat tersebut berisi penolakan (An-Nafyu), sedangkan hadits tahrik berisi penetapan (Al-Itsbat) dan dalam kaidah ushul disebutkan:?Al-Mutsbitu Muqoddamun 'Ala An-Naafy? (Penetapan itu lebih didahulukan daripada penolakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang menetapkan kaidah ini beralasan bahwa riwayat yang berisi penetapan itu mengandung ilmu (tambahan), sebagaimana yang diungkapkan oleh para ahli ushul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya penulis berkesimpulan bahwa pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini adalah: Berisyarat sepanjang tasyahud (sepanjang berdoa dalam tasyahud) dengan menggerakan jari telunjuk sampai selesai berdoa atau&lt;br /&gt;salam, dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Malik dan sebagian besar ulama mazhab Malikiyah, dan juga pendapat yang dipegang oleh sekian banyak ulama di kalangan mazhab Syafi'i..sebagaimana yang dikatakan oleh&lt;br /&gt;Imam Nawawi dalam Majmu'.Dan juga para ulama  dikalangan mazhab Hambali.Dan juga para ulama yang lainnya , sebagaimana telah penulis terangkan sebelum ini, Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-116200876130724896?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/116200876130724896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=116200876130724896' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116200876130724896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/116200876130724896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/10/gerakkan-jarimu.html' title='GERAKKAN JARIMU'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115802660917247225</id><published>2006-09-11T19:01:00.000-07:00</published><updated>2006-09-11T19:03:29.296-07:00</updated><title type='text'>APA HIKMAH DIWAJIBKANNYA PUASA ?</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hikmah dari diwajibkannya pausa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Apa bila kita membaca firman Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” [Al-Baqarah : 183]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti kita mengetahui apa hikmah diwajibkan puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, takwa adalah meninggalkan keharaman, istilah itu secara mutlak mengandung makna mengerjakan perintah, meninggalkan larangan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan mengerjakan kedustaan, maka Allah tidal butuh kepada amalannya dalam meninggalkan makanan dan minumannya” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan dalil ini diperintahkan dengan kuat terhadap setiap yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang haram baik berupa perkataan maupun perbuatan, hendaknya dia tidak menggunjing orang lain, tidak berdusta, tidak mengadu domba antar mereka, tidak menjual barang jualan yang haram, menjauhi segala bentuk keharaman, apabila seorang manusia mengerjakan semua itu dalam satu bulan penuh maka itu akan memudahkannya kelak untuk berlaku baik di bulan-bulan tersisa dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi alangkah sedihnya, sebagian besar orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasa dengan hari berbuka, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa dijalaninya yakni meninggalkan kewajiban, mengerjakan pebuatan haram, tidak merasakan keagungan puasa ; perbuatan ini tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, seringkali kesalahan itu merusak pahala puasa sehingga tersia-sialah pahalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka Arafah]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115802660917247225?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115802660917247225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115802660917247225' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115802660917247225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115802660917247225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/apa-hikmah-diwajibkannya-puasa.html' title='APA HIKMAH DIWAJIBKANNYA PUASA ?'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115768065681252929</id><published>2006-09-07T18:56:00.000-07:00</published><updated>2006-09-07T18:57:36.966-07:00</updated><title type='text'>HUKUM</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hukum Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Sebagian Ulama mengatakan bahwa ada beberapa hadits tentang keutamaan pertengahan (tanggal 15) Sya'ban, puasa pada hari tersebut, dan menghidupkan malamnya, apakah hadits-hadits tersebut shahihah atau tidak ? jika ada hadits shahih, hendaklah diterangkan dengan keterangan yang cukup, jika tidak, maka saya berharap mendapatkan penjelasan, semoga Allah membalas kebaikan para masya'ikh.&lt;br /&gt;Jawaban:Terdapat beberapa hadits shahih tentang keutamaan puasa pada hari-hari yang banyak di bulan Sya'ban, tetapi hadits-hadits itu tidak mengkhususkan satu hari dari yang lainnya, di antara hadits-hadits tersebut : hadits dalam kitab Bukhari dan Muslim bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha berkata : " saya tidak melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa sebulan secara sempurna kecuali bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihatnya lebih banyak puasa dalam satu bulan dari puasa di bulan Sya'ban, beliau puasa Sya'ban seluruhnya kecuali sedikit." Dalam hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma dia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Saya belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebagaimana kamu puasa di bulan Sya'ban". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " dia adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan, dia adalah bulan yang pada saat itu segala amal diangkat kepada Rabb alam semesta, maka saya ingin (menyukai) amalku diangkat sedang saya berpuasa" HR.ImamAhmaddanNasa'i. Dan tidak shahih hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berusaha untuk berpuasa pada suatu hari tertentu dari bulan Sya'ban atau mengkhususkan beberapa hari dari bulan tersebut dengan ibadah puasa, tetapi ada beberapa hadits yang lemah tentang menghidupkan malam nisfu Sya'ban (pertengahan Sya'ban) dan puasa pada siang harinya. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Kitab Sunannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "jika datang malam nisfu Sya'ban, maka bangunlah (hidupkanlah) malam itu, dan puasalah di siang harinya karena Allah Ta'ala turun ke langit terendah ketika matahri terbenam, lalu berkata : " adakah yang memohon ampunan, maka Aku ampuni, adakah yang meminta rezeki, maka Aku memberinya, adakah yang terkena cobaan maka Aku selamatkan dia, adakah yang seperti ini. sampai fajar terbit." Ibnu Hibban telah menshahihkan (membenarkan) sebagian hadits tentang keutamaan menghidupkan malam nisfu Sya'ban, di antaranya hadits yang diriwayatkannya dalam shahihnya dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa dia berkata : " saya kehilangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka saya keluar (mencarinya), tiba-tiba dia berada di pemakaman Baqi' mengangkat kepalanya, lalu berkata : "Apakah kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan mendzalimimu?". Akupun menjawab : wahai Rasulullah ! saya mengira bahwa engkau mendatangi istrimu (yang lain). Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata : Sesungguhnya Allah Ta'ala turun di malam pertengahan bulan Sya'ban ke langit yang terendah, lalu memberikan ampunan (kepada hambanya yang jumlahnya) lebih banyak dari jumlah bulu kambing". Imam Bukhari dan ulama hadits lainnya telah melemahkan hadits ini, dan kebanyakan Ulama berpendapat bahwa hadits yang berkenaan dengan keutamaan malam nisfu Sya'ban dan puasa di siang harinya adalah lemah. Dan sikap menggampangkan dalam menshahihkan hadits (yang dilakukan oleh Ibnu Hiban) adalah hal yang sudah masyhur di kalangan ulama hadits. Secara global, menurut ulama hadits ahli tahqiq (peneliti hadits) sesungguhnya tidak ada hadits yang shahih tentang keutamaan menghidupkan malam nisfu Sya'ban dan puasa di siang harinya, oleh karenanya mereka mengingkari (perbuatan) menghidupkan malam nisfu Sya'ban dan (mengingkari perbuatan)mengkhususkan siang harinya dengan puasa. Dan mereka berkata : sungguh itu adalah bid'ah (ibadah yang diada-adakan tanpa perintah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan perbuatan itu ditolak), Dan sekelompok ahli ibadah mengagungkan malam tersebut dengan berpegang kepada hadit-hadits lemah tersebut dan hal itu menjadi masyhur dan diikuti oleh manusia karena prasangka baik dengan mereka, bahkan sebagian mereka berkata karena berlebih-lebihan dalam mengagungkan malam nisfu Sya'ban: "Malam nisfu Sya'ban adalah malam yang penuh berkah, malam diturunkannya Al-Qur'an pada mala itulah dijelaskan segala perkara yang bijaksana, dan mereka menjadikannya sebagai penafsiran firman Allah : sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. 44:3) Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (QS. 44:4) Ini (penafsiran di atas) adalah kesalahan yang nyata, dan termasuk perbuatan merubah (ma'na) al-Qur'an dari tempat yang semestinya, karena sesungguhnya maksud dari malam penuh berkah dalam ayat tersebut adalah lailatul Qadr (malam kemuliaan) berdasarkan firman Allah : Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan. (QS. 97:1) Dan lailatul Qadr berada di bulan Ramadhan berdasarkan hadits-hadits tentang itu, dan firman Allah : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. 2:185) FATWA LAJNAH DA'IMAH ( Pimpinan Syaikh Bin Baz Rahimahullah )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115768065681252929?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115768065681252929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115768065681252929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115768065681252929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115768065681252929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/hukum.html' title='HUKUM'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115734246917589624</id><published>2006-09-03T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-09-03T21:01:09.346-07:00</updated><title type='text'>Galeri CD</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/50/3682/1600/BulughulMaram1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/50/3682/320/BulughulMaram1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulughul Maram 1&lt;br /&gt;Harga : Rp 15.000&lt;br /&gt;Kode : BM1&lt;br /&gt;Koleksi ini merupakan kumpulan rekaman kajian Fiqh yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Haidar pada kajian setiap hari Jum'at di Masjid Nurul Jannah Jl. Sersan Bajuri Dalam Ledeng Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian ini membahas kitab Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalany rahimahullah dengan penjelasan diambil dari kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram karya Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi kajian ini memuat kajian dari Kitab Thoharoh untuk bab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haidh dan Nifas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi dan Hukum Junub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pemesanan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemesanan CD dapat dilakukan melalui email ke: &lt;br /&gt;mp3_ceramah@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau telpon/SMS ke 08156048940 dengan Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk SMS, tuliskan kode CD beserta alamat lengkap untuk pengiriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Isi SMS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan: BM1, BM2, RS1, RS2, RS3. an. Fulan bin Fulan Jl Tahu No. 23 Sumedang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115734246917589624?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115734246917589624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115734246917589624' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115734246917589624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115734246917589624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/galeri-cd.html' title='Galeri CD'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115717030242294486</id><published>2006-09-01T21:08:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T21:11:42.690-07:00</updated><title type='text'>ISBAL</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah Bin Jarullah Al-Jarullah&lt;br /&gt;Bagian Kedua dari Tujuh Tulisan [2/7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LARANGAN MELAKUKAN ISBAL PADA PAKAIAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada para hambanya berupa pakaian yang menutup aurat-aurat mereka dan memperindah bentuk mereka. Dan ia telah menganjurkan untuk memakai pakaian takwa dan mengabarkan bahwa itu adalah sebaik-baiknya pakaian. Saya bersaksi tidak ada yang diibadahi selain Allah. Dia Maha Esa. Tiada sekutu bagiNya. Miliknya segenap kekuasan di langit dan di bumi dan kepadaNya kembali segenap makhluk di hari Akhir. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Tidak ada satupun kebaikan kecuali telah diajarkan beliau kepada ummatnya. Dan tidak ada suatu kejahatan kecuali telah diperingatkan beliau kepada ummatnya agar jangan mlakukannya. Semoga Shalawat serta Salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya dan orang yang berjalan di atas manhaj Beliau dan berpegang kepada sunnah beliau. Setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah itu perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda kebesaran Allah mudah mudahan mereka selalu ingat." [Al A'raf : 26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memberikan nikmat kepada para hambaNya berupa pakaian dan keindahan. Dan pakaian yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah pakaian yang menutupi aurat. Dan ar riisy yang dimaksud ayat ini adalah memperindah secara dlohir. maka pakaian adalah suatu kebutuhan yang penting, sedangkan ar riisy adalah kebutuhan pelengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwatkan dalam musnadnya, beliau berkata : Abu Umamah pernah memakai pakaian baru, ketika pakaian itu lusuh ia berkata : “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku”. Kemudian ia berkata : Aku mendengar Umar Ibn Khattab berkata : Rasulullah bersabda : "Siapa yang mendapatkan pakaian baru kemudian memakainya. Dan ketika telah lusuh dia berkata : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku dan mengambil pakaian yang lusuh dan menyedekahkannya, dia berada dalam pengawasan dan lindungan Allah dan hijab Allah, hidup dan matinya.” [Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah. Dan Turmudzi berkata hadis ini gharib]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah telah memberikan pakaian tubuh yang digunakan untuk menutup aurat, membalut tubuh dan memperindah bentuk, Allah memperingatkan bahwa ada pakaian yang lebih bagus dan lebih banyak faedahnya yaitu pakaian taqwa. Yang pakaian taqwa itu ialah menghiasi diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan. Dan membersihkan dari berbagai kotoran. Dan pakaian taqwa adalah tujuan yang dimaukan. Dan siapa yang tidak memakai pakaian taqwa, tidak manfaat pakaian yang melekat di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang tidak memakai pakaian taqwa,&lt;br /&gt;Berarti ia telanjang walaupun ia berpakaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian taqwa terus melekat di diri seorang hamba, tidak lusuh dan hancur. Yaitu keindahan hati dan jiwa. Pakian tubuh hanya menutupi aurat yang dhahir di suatu waktu saja, kemudian akan rusak. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu mengingat” [Al-A’raf : 26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Pakaian yang disebut tadi adalah agar kalian agar mengingat nikmat Allah dan menyukurinya. Dan hendaknya kalian ingat bagaimana kalian butuh kepada pakaian dhahir dan bagaimana kalian butuh kepada pakaian batin. Dan kalian tahu faedah pakaian batin yang tidak lain adalah pakaian taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para hamba Allah, sesungguhnya pakaian adalah salah satu nikmat Allah kepada para hambanya yang wajib disyukuri dan dipuji. Dan pakaian itu memiliki beberapa hukum syariat yang wajib diketahui dan diterapkan. Para pria memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. Wanita juga memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. Tidak boleh salah satunya memakai pakaian yang lain. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki laki.[Hadits Riwayat Bukhari, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa'i]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga Allah melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita."[Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dan beliau mensahihkannya, serta Al Hakim, beliau berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haram bagi pria untuk melakukan Isbal pada sarung, pakian, dan celana. Dan ini termasuk dari dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki. Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan janganlah engkau berjalan diats muka bumi ini dengan sombong, karna sesungguhnya Allah tidak suka kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh." [ Luqman: 18 ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Umar Radiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat." [Hadits Riwayat Bukhari dan yang lainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Ibnu Umar juga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isbal berlaku bagi sarung, gamis, dan sorban. Barang siapa yang menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat." [Hadits Riwayat Abu Daud, Nasa'i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini adalah hadits yang sahih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong". [Muttafaq 'alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Imam Ahmad dan Bukhari dengan bunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat. Tidak dilihat dan dibesihkan (dalam dosa) serta akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu seseorang yang melakukan isbal (musbil), pengungkit pemberian, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." [Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para hamba Allah, dalam keadaan kita mengetahi ancaman keras bagi pelaku Isbal, kita lihat sebagian kaum muslimin tidak mengacuhkan masalah ini. Dia membiarkan pakaiannya atau celananya turun melewati kedua mata kaki. Bahkan kadang-kadang sampai menyapu tanah. Ini adalah merupakan kemungkaran yang jelas. Dan ini merupakan keharaman yang menjijikan. Dan merupakan salah satu dosa yang besar. Maka wajib bagi orang yang melakukan hal itu untuk segera bertaubat kepada Allah dan juga segera menaikkan pakaiannya kepada sifat yang disyari'atkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada dibawah mata kaki tempatnya di neraka. [Hadits Riwayat Malik dalam Muwaththa' ,dan Abu Daud dengan sanad yang sahih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pihak yang selain pelaku Isbal, yaitu orang-orang yang menaikan pakaian mereka di atas kedua lututnya, sehingga tampak paha-paha mereka dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan klub-klub olahraga, di lapangan-lapangan ?. Dan ini juga dilakukan oleh sebagian karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Dari 'Ali Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati." [Hadits Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Hakim. Al Arnauth berkata dalam Jami'il Ushul 5/451 : "sanadnya hasan"]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya. Allah Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya” [Al Hasyr : 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Tadzkiirusy Syabaab Bimaa Jaa’a Fii Isbaalis Siyab, edisi Indonesia Hukum Isbal Menurunkan Pakaian Dibawah Mata Kaki, alih bahasa Muhammad Ali bin Ismail, hal. 5-11 Terbitan Maktabah Adz-Dzahabi]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115717030242294486?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115717030242294486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115717030242294486' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115717030242294486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115717030242294486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/isbal.html' title='ISBAL'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115717000354475960</id><published>2006-09-01T21:05:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T21:06:43.706-07:00</updated><title type='text'>BOROK-BOROK SUFI 3</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij&lt;br /&gt;Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan 3/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAHAYA (NUR) MUHAMMADI&lt;br /&gt;Termasuk dalam madzhab wihdah al-wujud, ialah adanya keyakinan dikalangan orang-orang sufi tentang masalah Aqthab, Autad, Abdal, Aghwats, An-Najba (yakni beberapa istilah status, jabatan atau peringkat dikalangan sufi), bahwa ruh Allah berdiam pada diri mereka sehingga merekalah yang mengatur apa yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menduduki kedudukan Allah dalam mencipta dan mengatur. Yang demikianpun termasuk keyakinan Syi'ah terhadap para imamnya. Seperti dikatakan Khumeini dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah hal.52 : "Sesungguhnya imam mempunyai kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi, dan kekuasaan untuk mencipta serta tunduk di bawah kekuasaannya seluruh unsur dari semesta ini. Dan termasuk madzhab kami yang sangat penting pula, bahwa para imam kita mempunyai kedudukan yang tidak dapat diraih oleh para malaikat terdekatpun, dan tidak pula oleh nabi yang didekatkan. Dan berdasarkan riwayat-riwayat yang ada pada kita, dengan hadits-haditsnya, bahwa Rasul teragung Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para imam, mereka semua, sebelum adanya alam semesta ini berupa cahaya yang dijadikan Allah mengelilingi Ars-Nya. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang sufi, dimana beribu-ribu kaum muslimin dari segala penjuru dirangkul mereka, lalai ketika mengangkat orang-orang tersebut (para imamnya) ke derajat ketuhanan atau yang mendekati hal itu. Yaitu menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkedudukan diantara mereka dalam mengatur semesta, baik masalah penciptaan dan pengaturan, mendatangkan manfaat dan memberikan madharat, qadha dan qadar .... Maka, mulailah mereka mengada-ngadakan perkataan terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melalui teori Al-Haqiqah Al-Muhammadiyah yang mengeluarkan Rasulullah dari alam manusia dan menjadikannya cahaya (nur). Dari cahaya Muhammad itulah seluruh mahluk diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : ... Sungguh besar perkataan yang keluar dari mulut mereka. Tiadalah yang mereka katakan itu kecuali dusta". [Al-Kahfi : 5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini sebagian dari perkataan mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Muhammad Adalah Asal Semesta.&lt;br /&gt;"Sesungguhnnya akal yang pertama adalah dinasabkan kepada Muhamad. Karenanya Allah menciptakan Jibril di waktu terdahulu. Maka Muhammad adalah bapak bagi Jibril dan merupakan asal dari seluruh alam semesta".[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Muhammad Di Atas 'Arsy.&lt;br /&gt;"Mahluk yang pertama adalah debu, dan mahluk yang pertama yang berwujud secara hakiki adalah Muhammad yang disifatkan istiwa' di atas 'Arsy Ar-Rahmani, yaitu 'Arsy ilahi. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Cahaya Muhammad (Nur Muhammadi) Adalah Cahaya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Muhammad Adalah Penjaga Atas Semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Semesta Diciptakan Karena Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Nabatah Al-Mishri berkata :&lt;br /&gt;Kalau bukan karenanya,&lt;br /&gt;tidak adalah bumi dan tidak pula ufuk.&lt;br /&gt;Tidak pula waktu, tidak pula mahluk,&lt;br /&gt;tidak pula gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Muhammad Mengetahui Yang Ghaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini dalil-dalil mereka yang mereka sembunyikan di balik punggung-punggunya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits pertama.&lt;br /&gt;"Artinya : Pertama kali yang diciptakan Allah adalah cahaya nabimu, wahai Jabir" [Hadits Palsu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits kedua.&lt;br /&gt;"Artinya : Aku sudah menjadi nabi sedangkan Adam masih berwujud antara air dan tanah". [Hadits Palsu. Lihat Syarah Jami'ash-Shagir III/91 dan Asna Al-Mathalib hal. 195]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah perkataan yang sangat lemah dan matan-nya mungkar. Bukankah air adalah bagian dari tanah ? Adapun hadits shahih berlafadz : "Artinya : Aku sudah menjadi Nabi, sedangkan Adam adalah keadaan antara ruh dan jasad", tetapi ini pada ilmu Allah yang azali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ketiga.&lt;br /&gt;"Artinya : Kalau tidak karena engkau, maka bintang-bintang itu tidak diciptakan". [Shan'ani berkata bahwa hadits ini Palsu dan disepakati Imam Syaukani dalam kitab Fawaid Al-Majmu'ah hl. 116]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sesungguhnya Allah telah menutup berbagai jalan menuju perbuatan yang melebih-lebihkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Katakanlah, sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kamu semua. Hanyasanya diwahyukan kepadaku (wahyu). Sesungguhnya sesembahanmu adalah sesembahan yang Esa. Maka barangsiapa yang mengharapkan bertemu dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal dengan amalan yang shalih dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya". [Al-kahfi : 110]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berfirman Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Katakanlah, Maha Suci Rabbku. Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul ?". [Al-Isra : 93]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berfirman Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Katakanlah, tidaklah aku mengatakan kepada kalian semua bahwa aku mempunyai perbendahaaran Allah, tidak pula aku mengetahui yang ghaib, tidak juga aku katakan bahwasanya aku ini malaikat. Tidaklah aku mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, apakah sama orang yang melihat dengan orang yang buta ? Apakah kalian semua tidak berpikir ?". [Al-An'am : 50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah bersabda pula beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Janganlah kalian semua melebih-lebihkan aku seperti orang-orang Nashrani melebih-lebihkan Isa anak Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba, maka katakanlah hamba Allah dan utusan-Nya". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telah bersabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya aku ini adalah manusia yang dapat marah pula". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan riwayat lainnya yang sangat banyak. Inilah sifat-sifat kemanusiaan yang di sandang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sejak lahirnya hingga bertemu dengan Rabbnya. Beliaulah yang mengajak manusia untuk mencontohnya dan menempuh jejak-jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan dari alam kita, tidaklah kita diperintahkan untuk mengikuti beliau dan menjalani sunah-sunahnya. Siapakah yang lebih benar perkataannya dari Allah, sedangkan Dia telah menyetujui hakikat ini melalui lafadz-lafadz Qur'ani yang pasti dan terinci :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Mereka berkata, kenapa tidak diturunkan kepada kita malaikat ? kalau diturunkan kepada mereka malaikat, maka pasti telah diselesaikan perkaranya (dengan dibinasakan mereka semua) kemudian mereka tidak diberi tangguh. Dan kalau seandainya Kami turunkan malaikat, pasti akan Kami jadikan dia seorang manusia, Kami-pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana mereka kini ragu". [Al-An'am : 8-9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketahuilah, semoga Allah menambahkan ilmu kepadamu, semesta ini adalah mahluk yang diciptakan dengan tujuan tertentu. Yaitu beribadah kepada Allah. Seperti dinyatakan dalam firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". [Adz-Dzariyat : 56]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN SUFI&lt;br /&gt;Supaya ajaran tasawuf mencapai tujuannya, mereka kenakan pada tokoh-tokohnya sifat bebas dari dosa ('ishmah). Selain itu, menuntut kepada muridnya agar bersikap seperti mayit di tangan yang memandikannya. Maka janganlah engkau melampauinya dengan mengambil ilmu sufi dari guru lain, karena seorang murid yang menimba ilmu dari dua guru ibarat seorang wanita di tangan dua lelaki. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Arabi berkata : "Sesungguhnya termasuk syarat imam batin, hendaklah ia ma'shum (bebas dari dosa)" [5] Katanya lebih lanjut : "Dan engkau, wahai para murid yang tertipu dan tersesat, bantulah apa yang diinginkan terhadap engkau. Dan bersangka baiklah, jangan membantah. Bahkan yakinilah. Dan manusia dalam masalah ini mempunyai perkataan yang banyak. Tapi terserah dirilah, niscaya engkau akan selamat. Dan Allah lebih mengetahui perkataan para walinya. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak mengetahui kenapa banyak ulama kaum muslimin berdiam diri terhadap kekufuran dan keingkaran yang bersembunyi dalam pakaian Islam yang bertujuan menipu, menyesatkan serta mengajak kaum muslimin untuk meyakininya serta menegakan agama mereka di atas asasnya ? Sesungguhnya termasuk suatu kebaikan jihad di sisi Allah untuk menghapuskan fitnah ini dari kalangan muslimin, karena sesungguhnya fitnah lebih kejam dari pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kaum muslimin tidak terang-terangan memerangi mereka secara keseluruhan demi tumbangnya kepalsuan-kepalsuan yang telah memburamkan keindahan Islam ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kenyataannya banyak kaum muslimin yang tersembelih kesesatan dan kekufuran ini. Dan tidaklah menyelamatkan mereka dari keadaan yang demikian ini kecuali usaha para ulama Islam untuk menyingkap kebatilan-kebatilan tadi dengan berbagai bahasa dan dengan berbagai kedudukan. Maka wahai Rabbku, bangkitkanlah orang-orang yang memperbaharui agama-Mu ini, karena sesungguhnya kaum sufi telah kembali bangkit dengan wajah baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul Borok-Borok Sufi]&lt;br /&gt;________ &lt;br /&gt;Fote Note.&lt;br /&gt;[1] Al-Hukumat Al-Islamiyah, Khumeini, hal. 52&lt;br /&gt;[2] Al-Insan Al-Kamil lil Jalil, hal.4&lt;br /&gt;[3] Futuhat Al-Makkiyah, I/152&lt;br /&gt;[4] Ihya' Ulumuddin, I/50-51 dan III/75-76&lt;br /&gt;[5] Futuhat Al-Makkiyah, III/183&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115717000354475960?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115717000354475960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115717000354475960' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115717000354475960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115717000354475960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/borok-borok-sufi-3.html' title='BOROK-BOROK SUFI 3'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716983588164174</id><published>2006-09-01T21:03:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T21:03:56.096-07:00</updated><title type='text'>BOROK-BOROK SUFI 2</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij&lt;br /&gt;Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARI'AT DAN HAKIKAT&lt;br /&gt;Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari'at dan hakikat. Syari'at, bila dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan paling sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan memiliki ilmu laduni, kasyaf Rabbani serta Faidh Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Abu Hurairah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Aku menghafalkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dua kantung ilmu. Adapun salah satunya telah aku sebarkan. Sedangkan lainnya, bila ku sebarkan akan dipotong tenggorokan ini". [Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab Fitan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ini sebagai isyarat dari beliau rahimahullah tentang akan tidak adanya kaitan antara ilmu batin dan ilmu zhahir. Kalau tidak begitu, pasti beliau akan mencantumkannya dalam Al-'Ilm. Sesungguhnya, Al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan masalah tersebut secara rinci dalam kitabnya, Fathu Al-Bari I/216.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, barangsiapa menyatakan Islam terdiri dari lahir dan batin, berarti dia telah menyangka Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menghianati tugas kerasulannya. Tapi, inilah kenyataannya. Mereka berkeyakinan, Rasulullah hanya menyampaikan yang zhahir saja. Sedang, yang batin beliau beritahukan kepada orang-orang tertentu.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlepas dari yang mereka kaitkan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Allah, malaikat Jibril serta orang-orang shalih dari kalangan yang beriman menyaksikan yang demikian itu. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Pada hari ini Aku sempurnakan untuk mu agamamu, dan Aku lengkapkan untukmu semua ni'mat-Ku serta Aku ridhai bagimu Islam sebagai agama". [Al-Maidah : 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meminta persaksian dihadapan segenap manusia muslim yang berkumpul di bawah Jabal Ar-Rahmah pada hari haji akbar. Kata beliau, "Sesungguhnya, kalian akan ditanya tentang aku. Maka, apakah yang akan kalian katakan ?" Jawab mereka : "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Rabb-mu dan telah menunaikannya. Engkau telah menasehati umatmu dan menunaikan kewajibanmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas beliau bersabda seraya mengacungkan telunjuknya ke arah langit dan menggerak-gerakkannya kehadapan manusia : "Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah". [Potongan dari hadits Jabir bin Abdullah tentang hajinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di-tahqiq ulang Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Hijjah An-Nabi, hal. 37-41].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menyatakan secara terang-terangan, dan hal ini sebagai hujjah nyata guna menampar setiap pendusta dan yang suka berbuat dosa. Kata beliau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya seorang nabi tidak mengenal main isyarat (dengan mata)". [Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dari Anas. lihat Shahih Al-Jami' II/303]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya memberi isyarat dengan isyarat rahasia. Hal ini agar tidak ada seorangpun yang berburuk sangka yang menyebabkan tumbuhnya keyakinan, bahwa dalam agama Allah ada rahasia yang tidak banyak diketahui manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang semakna dengan hadits ini adalah sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya tidak selayaknya bagi seorang nabi mempunyai mata yang khianat". [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Hakim dari Sa'id. Lihat Shahih Al-Jami' II/307]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-HULUL WA AL-ITTIHAD&lt;br /&gt;Sebagaimana kelomppok sufi berkhayal, siapa saja yang menempuh jalan ilmu batin, pada akhirnya akan mencapai tingkatan melebur bersama dzat Allah. Ketika itulah ia menempati dzat tersebut, hingga bercampur sifat ketuhanan dengan tabiat kemanusiaan. Bentuk lahirnya manusia, tetapi hakikat batinnya adalah sifat ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berpikiran demikian, misalnya Al-Hallaj, ibnu Al-Faradh, Ibnu Sab'in dan lainnya dari kalangan sufi. Berikut ini kami paparkan sebagian perkataan mereka : Al-Hallaj berkata : [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Suci yang menampakkan sifat kemanusiannya,&lt;br /&gt;Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang,&lt;br /&gt;Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya,&lt;br /&gt;Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum,&lt;br /&gt;Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti&lt;br /&gt;jarak antara kedipan mata dengan kedipan yang lain.&lt;br /&gt;Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab&lt;br /&gt;yang tergambar dalam seluruh bentuk pada&lt;br /&gt;hamban-Nya, Fulan. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ibnu Al-Faradh berkata : [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah aku shalat kepada selainku,&lt;br /&gt;dan tidaklah shalatku kepada selainku&lt;br /&gt;ketika menunaikan dalam setiap raka'atku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cukuplah bagi orang-orang sufi merasakan kesedihan tatkala Ibnu Al-Faradh berpayah-payah dibalik fatamorgana. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, tatkala menceritakan keadaan Ibnu Al-Faradh : "Orang yang mengucapkan sya'ir tersebut ketika meninggalnya mengucapkan syair sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kedudukanku dalam cinta disisi-Mu,&lt;br /&gt;tidak seperti yang pernah aku jumpai,&lt;br /&gt;maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku.&lt;br /&gt;Angan-angan yang menancap dalam diriku beberapa lama,&lt;br /&gt;dan pada hari ini aku mengiranya sebagai mimpi kosongku belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tusturi berkata : [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah yang dicintai dan yang mencintai,&lt;br /&gt;tidak ada selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para syaikh tasawuf tersebut mencari-cari dalih dengan hadits yang berbicara masalah wali. Padahal, segala dalih dan alasan itu tak mendukung mereka. Misalnya sebuah hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan perbuatan-perbuatan yang disunnahkan hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, dan penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, dan tangannya yang dia julurkan, dan kakinya yang dia langkahkan. Maka, jika ia meminta kepada-Ku, sungguh aku akan beri. Dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya". [Hadits Riwayat Bukhari, akan tetapi kami ringkas sesuai dengan makna pembahasan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukan dengan sangat adanya pembedaan dan pemisahan. Dalam hal ini ada 'Abid (yang beribadah) dan Ma'bud (yang diibadahi). Sa-il (yang meminta) dan Mas-ul (yang diminta), 'A-idz (yang minta perlindungan) dan Mu'idz (yang melindungi). Sedang, orang-orang sufi tersebut mengaku bahwa Allah berdiam dalam dzat hambanya. Yaitu, jika Dia menjadi dia dan keduanya menjadi dua dzat yang menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa anehnya ! Bagaimana akal orang-orang sufi tersebut menerimanya dengan cara membenarkan kebohongan ini ? Dan bagaimana pula hingga lisan mereka mengulang-ngulangnya ? Sungguh, Kursi-Nya seluas langit dan bumi, maka bagaimana mungkin jasad manusia dapat menampung-Nya ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan tapi hati hamba-Ku yang beriman lapang bagi-Ku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadits ini adalah hadits palsu menurut kesepakatan para ulama ilmu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WIHDAH AL-WUJUD&lt;br /&gt;Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wihdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah. Maha Suci Allah, Rabb kita, Rabb yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Arabi berkata : "Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :"Akulah Allah, Maha Suci Aku". Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya : "Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba ? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan pula : [7] "Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian mereka kepada Allah sampai puncaknya ketika tukang sya'ir mereka, Muhammad Baha'uddin Al-Baithar mengatakan : [8] "Tidaklah anjing dan babi itu melainkan sesembahan kita, dan tidaklah Allah itu melainkan rahib-rahib yang ada dalam gereja-gereja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensyarah kitab Aqidah At-Thahawiyah, Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi, berkata :"Perkataan yang demikian itu mengantarkan manusia pada teori hulul wa al-ittihad. Hal ini lebih keji daripada kafirnya orang-orang Nashrani. Karena orang-orang Nashrani mengkhususkan menyatunya Alllah hanya dengan Al-Masih, sedangkan mereka memberlakukan secara umum terhadap seluruh mahluk. termasuk keyakinan mereka pula, bahwa Fir'aun dan kaumnya memiliki kesempurnaan iman, sangat mengenal Allah secara hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dari cabangnya pula, bahwa para penyembah berhala berada diatas kebenaran, dan mereka sesungguhnya beribadah kepada Allah, tidak kepada lainnya. Keyakinan lainnya, tida ada perbedaan dalam penghalalan dan pengharaman antara ibu, saudara perempuan dan yang bukan mahram. Dan tidak ada perbedaan antara air dengan khamer, zina dengan nikah. Semuanya itu berasal dari sumber yang satu. Dan termasuk cabangnya pula, bahwa para nabi mempersempit manusia. Maha Tinnggi Allah dari apa yang mereka katakan". [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan semacam ini merupakan puncak tertinggi dari kekafiran, yang dengannya hancurlah seluruh agama, membatalkan seluruh syari'at, dihalalkan seluruh perkara yang diharamkan, dan disamakannya orang yang beriman dengan orang fasik, orang bertaqwa dengan orang binasa, muslim dengan mujrim, yang hidup dengan yang mati. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;"Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang suka berbuat dosa, bagaimana kalian dengan apa yang kalian putuskan. Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ? [Al-Qalam : 35-37].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, mereka mempunyai kitab selain Al-Qur'an. yaitu, Al-Fushush Al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyah. Dan telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang yang beriman dan beramal shalih seperti orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Ataukah Kami hendak menjadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang kafir". [Shad : 28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil istimbath kami dan bukan pula ijtihad. Akan tetapi, semua itu adalah perkataan mereka yang diucapkan dengan lisannya. Yang syaikh paling senior diantara mereka selalu mengulang kekafirannya dan menyatakan kefasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pembaca menghendaki hakikat yang kami paparkan dan dalil yang kami kukuhkan, maka lihatlah kitab Al-Fathu Ar-Rabbani dan Al-Faidh Ar-Rahmani, karangan Abdul Ghani An-Nablisi hal. 84,85,86,87.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memaafkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul Borok-Borok Sufi]&lt;br /&gt;________ &lt;br /&gt;Fote Note&lt;br /&gt;[1]. Ihya'Ulumuddin, AL-Ghazali, I/19&lt;br /&gt;[2]. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139&lt;br /&gt;[3]. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.&lt;br /&gt;[4]. Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248&lt;br /&gt;[5]. Ma'arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad Bin 'Ajibah, hal.139.&lt;br /&gt;[6]. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.&lt;br /&gt;[7]. Fushush Al-Hikam, hal.90&lt;br /&gt;[8]. Shufiyat, hal.27&lt;br /&gt;[9]. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716983588164174?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716983588164174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716983588164174' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716983588164174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716983588164174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/borok-borok-sufi-2_01.html' title='BOROK-BOROK SUFI 2'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716956615353158</id><published>2006-09-01T20:57:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T20:59:26.226-07:00</updated><title type='text'>BOROK-BOROK SUFI 2</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij&lt;br /&gt;Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARI'AT DAN HAKIKAT&lt;br /&gt;Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari'at dan hakikat. Syari'at, bila dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan paling sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan memiliki ilmu laduni, kasyaf Rabbani serta Faidh Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Abu Hurairah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Aku menghafalkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dua kantung ilmu. Adapun salah satunya telah aku sebarkan. Sedangkan lainnya, bila ku sebarkan akan dipotong tenggorokan ini". [Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab Fitan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ini sebagai isyarat dari beliau rahimahullah tentang akan tidak adanya kaitan antara ilmu batin dan ilmu zhahir. Kalau tidak begitu, pasti beliau akan mencantumkannya dalam Al-'Ilm. Sesungguhnya, Al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan masalah tersebut secara rinci dalam kitabnya, Fathu Al-Bari I/216.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, barangsiapa menyatakan Islam terdiri dari lahir dan batin, berarti dia telah menyangka Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menghianati tugas kerasulannya. Tapi, inilah kenyataannya. Mereka berkeyakinan, Rasulullah hanya menyampaikan yang zhahir saja. Sedang, yang batin beliau beritahukan kepada orang-orang tertentu.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlepas dari yang mereka kaitkan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Allah, malaikat Jibril serta orang-orang shalih dari kalangan yang beriman menyaksikan yang demikian itu. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Pada hari ini Aku sempurnakan untuk mu agamamu, dan Aku lengkapkan untukmu semua ni'mat-Ku serta Aku ridhai bagimu Islam sebagai agama". [Al-Maidah : 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meminta persaksian dihadapan segenap manusia muslim yang berkumpul di bawah Jabal Ar-Rahmah pada hari haji akbar. Kata beliau, "Sesungguhnya, kalian akan ditanya tentang aku. Maka, apakah yang akan kalian katakan ?" Jawab mereka : "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Rabb-mu dan telah menunaikannya. Engkau telah menasehati umatmu dan menunaikan kewajibanmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas beliau bersabda seraya mengacungkan telunjuknya ke arah langit dan menggerak-gerakkannya kehadapan manusia : "Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah". [Potongan dari hadits Jabir bin Abdullah tentang hajinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di-tahqiq ulang Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Hijjah An-Nabi, hal. 37-41].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menyatakan secara terang-terangan, dan hal ini sebagai hujjah nyata guna menampar setiap pendusta dan yang suka berbuat dosa. Kata beliau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya seorang nabi tidak mengenal main isyarat (dengan mata)". [Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dari Anas. lihat Shahih Al-Jami' II/303]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya memberi isyarat dengan isyarat rahasia. Hal ini agar tidak ada seorangpun yang berburuk sangka yang menyebabkan tumbuhnya keyakinan, bahwa dalam agama Allah ada rahasia yang tidak banyak diketahui manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang semakna dengan hadits ini adalah sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya tidak selayaknya bagi seorang nabi mempunyai mata yang khianat". [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Hakim dari Sa'id. Lihat Shahih Al-Jami' II/307]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-HULUL WA AL-ITTIHAD&lt;br /&gt;Sebagaimana kelomppok sufi berkhayal, siapa saja yang menempuh jalan ilmu batin, pada akhirnya akan mencapai tingkatan melebur bersama dzat Allah. Ketika itulah ia menempati dzat tersebut, hingga bercampur sifat ketuhanan dengan tabiat kemanusiaan. Bentuk lahirnya manusia, tetapi hakikat batinnya adalah sifat ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berpikiran demikian, misalnya Al-Hallaj, ibnu Al-Faradh, Ibnu Sab'in dan lainnya dari kalangan sufi. Berikut ini kami paparkan sebagian perkataan mereka : Al-Hallaj berkata : [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Suci yang menampakkan sifat kemanusiannya,&lt;br /&gt;Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang,&lt;br /&gt;Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya,&lt;br /&gt;Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum,&lt;br /&gt;Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti&lt;br /&gt;jarak antara kedipan mata dengan kedipan yang lain.&lt;br /&gt;Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab&lt;br /&gt;yang tergambar dalam seluruh bentuk pada&lt;br /&gt;hamban-Nya, Fulan. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ibnu Al-Faradh berkata : [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah aku shalat kepada selainku,&lt;br /&gt;dan tidaklah shalatku kepada selainku&lt;br /&gt;ketika menunaikan dalam setiap raka'atku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cukuplah bagi orang-orang sufi merasakan kesedihan tatkala Ibnu Al-Faradh berpayah-payah dibalik fatamorgana. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, tatkala menceritakan keadaan Ibnu Al-Faradh : "Orang yang mengucapkan sya'ir tersebut ketika meninggalnya mengucapkan syair sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kedudukanku dalam cinta disisi-Mu,&lt;br /&gt;tidak seperti yang pernah aku jumpai,&lt;br /&gt;maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku.&lt;br /&gt;Angan-angan yang menancap dalam diriku beberapa lama,&lt;br /&gt;dan pada hari ini aku mengiranya sebagai mimpi kosongku belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tusturi berkata : [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah yang dicintai dan yang mencintai,&lt;br /&gt;tidak ada selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para syaikh tasawuf tersebut mencari-cari dalih dengan hadits yang berbicara masalah wali. Padahal, segala dalih dan alasan itu tak mendukung mereka. Misalnya sebuah hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan perbuatan-perbuatan yang disunnahkan hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, dan penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, dan tangannya yang dia julurkan, dan kakinya yang dia langkahkan. Maka, jika ia meminta kepada-Ku, sungguh aku akan beri. Dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya". [Hadits Riwayat Bukhari, akan tetapi kami ringkas sesuai dengan makna pembahasan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukan dengan sangat adanya pembedaan dan pemisahan. Dalam hal ini ada 'Abid (yang beribadah) dan Ma'bud (yang diibadahi). Sa-il (yang meminta) dan Mas-ul (yang diminta), 'A-idz (yang minta perlindungan) dan Mu'idz (yang melindungi). Sedang, orang-orang sufi tersebut mengaku bahwa Allah berdiam dalam dzat hambanya. Yaitu, jika Dia menjadi dia dan keduanya menjadi dua dzat yang menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa anehnya ! Bagaimana akal orang-orang sufi tersebut menerimanya dengan cara membenarkan kebohongan ini ? Dan bagaimana pula hingga lisan mereka mengulang-ngulangnya ? Sungguh, Kursi-Nya seluas langit dan bumi, maka bagaimana mungkin jasad manusia dapat menampung-Nya ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan tapi hati hamba-Ku yang beriman lapang bagi-Ku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadits ini adalah hadits palsu menurut kesepakatan para ulama ilmu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WIHDAH AL-WUJUD&lt;br /&gt;Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wihdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah. Maha Suci Allah, Rabb kita, Rabb yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Arabi berkata : "Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :"Akulah Allah, Maha Suci Aku". Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya : "Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba ? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan pula : [7] "Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian mereka kepada Allah sampai puncaknya ketika tukang sya'ir mereka, Muhammad Baha'uddin Al-Baithar mengatakan : [8] "Tidaklah anjing dan babi itu melainkan sesembahan kita, dan tidaklah Allah itu melainkan rahib-rahib yang ada dalam gereja-gereja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensyarah kitab Aqidah At-Thahawiyah, Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi, berkata :"Perkataan yang demikian itu mengantarkan manusia pada teori hulul wa al-ittihad. Hal ini lebih keji daripada kafirnya orang-orang Nashrani. Karena orang-orang Nashrani mengkhususkan menyatunya Alllah hanya dengan Al-Masih, sedangkan mereka memberlakukan secara umum terhadap seluruh mahluk. termasuk keyakinan mereka pula, bahwa Fir'aun dan kaumnya memiliki kesempurnaan iman, sangat mengenal Allah secara hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dari cabangnya pula, bahwa para penyembah berhala berada diatas kebenaran, dan mereka sesungguhnya beribadah kepada Allah, tidak kepada lainnya. Keyakinan lainnya, tida ada perbedaan dalam penghalalan dan pengharaman antara ibu, saudara perempuan dan yang bukan mahram. Dan tidak ada perbedaan antara air dengan khamer, zina dengan nikah. Semuanya itu berasal dari sumber yang satu. Dan termasuk cabangnya pula, bahwa para nabi mempersempit manusia. Maha Tinnggi Allah dari apa yang mereka katakan". [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan semacam ini merupakan puncak tertinggi dari kekafiran, yang dengannya hancurlah seluruh agama, membatalkan seluruh syari'at, dihalalkan seluruh perkara yang diharamkan, dan disamakannya orang yang beriman dengan orang fasik, orang bertaqwa dengan orang binasa, muslim dengan mujrim, yang hidup dengan yang mati. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;"Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang suka berbuat dosa, bagaimana kalian dengan apa yang kalian putuskan. Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ? [Al-Qalam : 35-37].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, mereka mempunyai kitab selain Al-Qur'an. yaitu, Al-Fushush Al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyah. Dan telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang yang beriman dan beramal shalih seperti orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Ataukah Kami hendak menjadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang kafir". [Shad : 28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil istimbath kami dan bukan pula ijtihad. Akan tetapi, semua itu adalah perkataan mereka yang diucapkan dengan lisannya. Yang syaikh paling senior diantara mereka selalu mengulang kekafirannya dan menyatakan kefasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pembaca menghendaki hakikat yang kami paparkan dan dalil yang kami kukuhkan, maka lihatlah kitab Al-Fathu Ar-Rabbani dan Al-Faidh Ar-Rahmani, karangan Abdul Ghani An-Nablisi hal. 84,85,86,87.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memaafkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul Borok-Borok Sufi]&lt;br /&gt;________ &lt;br /&gt;Fote Note&lt;br /&gt;[1]. Ihya'Ulumuddin, AL-Ghazali, I/19&lt;br /&gt;[2]. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139&lt;br /&gt;[3]. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.&lt;br /&gt;[4]. Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248&lt;br /&gt;[5]. Ma'arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad Bin 'Ajibah, hal.139.&lt;br /&gt;[6]. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.&lt;br /&gt;[7]. Fushush Al-Hikam, hal.90&lt;br /&gt;[8]. Shufiyat, hal.27&lt;br /&gt;[9]. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716956615353158?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716956615353158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716956615353158' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716956615353158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716956615353158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/borok-borok-sufi-2.html' title='BOROK-BOROK SUFI 2'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716937289546004</id><published>2006-09-01T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T20:56:13.040-07:00</updated><title type='text'>BOROK-BOROK SUFI 1</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij&lt;br /&gt;Bagian Pertama dari Tiga Tulisan 1/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam. Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI&lt;br /&gt;Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim. Membolak-balik, serta merubah pemahaman Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menakdirkan untuk agama ini, orang-orang yang memperbaharui agama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, dengan membersihkan Islam dari bermacam aqidah dan filsafat yang mengalir dalam benak manusia akibat pengaruh pola pikir keberhalaan. Maka, diungkaplah borok-borok mereka, dipilah perkataan mereka serta diterangkan kebohongannya. Metoda merekapun dibuyarkan dengan menelaah kitab-kitab induk sufi. Berikut secara ringkas ditampilkan keyakinan-keyakinan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ILMU LADUNI&lt;br /&gt;Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala tentang nabi Khidir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wa 'allamnaahu min Ladunnaa 'ilmaan"&lt;br /&gt;"Artinya :...Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.". [Al-Kahfi : 65].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ayat diatas, menurut mereka, adalah disingkapnya alam ghaib bagi mereka. Caranya, dengan kasyaf (penyingkapan), tajliyat (penampakan) serta melakukan kontak langsung dengan Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam[1]. Mereka berdalil dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengganjari kepada kalian semua". [Al-Baqarah : 282].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ilmu laduni dipelopori oleh Hisyam Ibnu Al-Hakam (wafat 199H), seorang penganut Syi'ah yang mahir ilmu kalam. Ia berasal dari Kufah. [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajarannya, menempuh beberapa jalan. Jalan terpenting itu, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar'i. Dikatakan oleh Al-Junaid, seorang pentolan sufi, "Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan tiga perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan menulis. Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya".[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani, "Jika seseorang menimba ilmu (hadits), bepergian untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia telah condong kepada dunia"[.4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha'if (lemah), munkar dan maudhu' (palsu) dengan cara kasyaf. Sebagaimana dikatakan Abu Yazid Al-Busthami, "Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Hal itu seperti yang telah disampaikan para pemimpin kami : "Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku". Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : "Telah mengabarkan kepada kami Fulan". Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan tersebut) ?. Tentu akan dijawab : "Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal". "(Kemudian) dari Fulan (lagi)". Padahal, bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : "Ia telah meninggal".[5] Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, "Ulama Tulisan mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat. Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab mereka. Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung -peny). Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan kedalam hati para wali"[6]. Dikatakan oleh Asy-Sya'rani, "Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf".[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan menuju kemaksiatan serta kesalahan. Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku), maka dikatakannya kepada murid tersebut :"Sembunyikan auratmu".[8] Bahkan, mereka saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan salaf, umpanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggahan terhadap pernyataan-pernyataan sebagaimana diungkap diatas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama.&lt;br /&gt;Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma' para ulama kaum muslimin. Karena, nabi Musa tidaklah diutus kepada nabi Khidir, dan tidak pula nabi Khidir diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah telah menjadikan masing-masing nabi mempunyai jalan dan minhaj yang berbeda-beda. Dan peristiwa yang demikian itu, berulang kali terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi. Seperti, sezamannya nabi Luth denga nabi Ibrahim, nabi Yahya dengan nabi Isa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya para nabi tersebut dibangkitkan untuk kaumnya saja, sedangkan Muhammad shalallallahu 'alaihi wa sallam dibangkitkan untuk seluruh manusia hingga hari kiamat. Telah bersabda Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Adalah para nabi diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi atau Nashrani, kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan akan dimasukkan ke neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim I/93]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah semacam ini merupakan asasnya Islam, berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidaklah engkau Kami utus kecuali untuk seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan". [Saba' : 28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Katakanlah, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua". [Al-A'raf : 157]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siapa saja yang 'alim, baik jin maupun manusia, diperintahkan untuk mengikuti rasul yang ummi ini. Maka barangsiapa yang mengaku bahwa dengan kemampuannya dapat keluar dari minhaj dan petunjuk nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ke minhaj lainnya, walaupun minhaj Isa, Musa, Ibrahim, maka dia sesat dan menyesatkan. Telah bersabda Shalallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Seandainya Musa turun, lalu kalian semua mengikutinya dan meninggalkan aku, maka sungguh sesatlah kalian. Aku adalah bagian kalian, dan kalian adalah bagian dari umat-umat yang ada". [Riwayat Baihaqi dalam Syu'abu al-Iman, dan lihat pula dalam Irwa'al-Ghalil karangan Al-Bani hal. 1588]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun keyakinan orang-orang sufi bahwa nabi Khidir masih tetap hidup, selalu berhubungan dengan mereka, mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan Allah kepadanya, seperti nama-nama Allah yang Agung, hal ini merupakan dusta dan mengada-ada. Karena menyelesihi Al-Qur'an secara nyata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan tidaklah kami jadikan seorang manusiapun sebelummu abadi". [Al-Anbiya' : 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak ada satu jiwapun yang bernafas pada hari ini yang datang dari zaman seratus tahun sebelumnya, sedangkan dia saat sekarang ini masih hidup". [Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Jabir]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits yang menerangkan masih hidupnya nabi Khidir semuanya maudhu' (palsu) menurut kesepakatan seluruh ulama hadits.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua.&lt;br /&gt;Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;"Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu (ilmu)". [Al-Baqarah : 282]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bukanlah hujjah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan pemahaman ayat ini dan telah menentukan cara mencari ilmu yang disyari'atkan dan diwajibkan atas setiap muslim. Seperti sabdanya Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan cara belajar". [Hadits Riwayat Daruquthni dalam Al-Ifrad wa al-Khatib dalam tarikhnya dari Abu Hurairah dan Abu Darda'. Lihat Silsilah Ash-Shahihah 342]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata innama (sesungguhnya) disini adalah untuk membatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga.&lt;br /&gt;Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenan dengan ilmu itu sendiri, termasuk tentunya dalam pengamalannya. Bahkan sebatas mencari ilmu semata. Berkata Ibnu Al-Jauzi, "Iblis menginginkan untuk menutup jalan tersebut dengan cara yang paling samar. Memang jelas bahwa yang dimaksud adalah mengamalkannya bukan sebatas mencari ilmu saja. Namun, dalam hal ini para penipu itu telah menyembunyikan masalah pengamalannya. [10] Dan tidaklah kasyaf yang mereka dakwakan itu, kecuali hanya khayalan setan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Maukah Aku khabarkan kepada kalian tentang kepada siapa setan turun ? (Setan) turun kepada setiap pendusta dan suka berbuat dosa. Mereka menghadapkan pendengarannya itu (kepada setan), dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta". [Asy-Syu'ara : 221-223]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidaklah kamu melihat bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghusung mereka agar berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh ? Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksaan bagi mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari siksaan) itu untuk mereka dengan perhitungan yang teliti. Ingat ketika hari Kami mengumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga". [Maryam : 83-86]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengakuan mereka, seperti pensyarah Al-Ushul katakan, bahwa kasyaf merupakan bagian dari iman yang benar. Dan maksud kasyaf adalah disingkapkannya sebagian yang tersembunyi, dan tidak tampak, mengetahui gerak-gerik jiwa dan niat serta kelemahan sebagian manusia. Kasyaf semacam inilah yang disebutkan dalam hadits syarif sebagai firasat seorang yang beriman. [11] Jadi bila ada perkataan mereka semacam ini : "Telah mengabarkan kepadaku hatiku dari Rabb-ku" tidak lain adalah perkataan khurafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat.&lt;br /&gt;Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan memintanya untuk berbuat begini dan begitu. Seperti, kata Ibnu Arabi, "Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mimpi. Aku melihatnya saat sepuluh akhir di bulan Muharram 627H, di Mahrusah, Damsyiq. Saat itu di tangan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa kitab. Maka sabdanya kepadaku, 'Kitab ini adalah kitab Fushush Al-Hikam'. Ajarkan dan sebarkan kepada manusia agar bisa memetik manfa'at darinya. Kemudian aku katakan, Aku dengar dan taat kepada Allah, Rasul-Nya serta ulil amri diantara kita sebagaimana yang engkau perintahkan. Maka, aku pun berusaha merealisasikan cita-cita dan aku murnikan niatku serta kubulatkan tekad untuk mengajarkan kitab ini sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. tanpa mengurangi dan menambahinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan Terhadap Pendapat Diatas Adalah Sebagai Berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Para Rasul tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kekufuran, seperti yang memenuhi kitab Fushush Al-Hikam. Seperti, mengkafirkan nabi Allah, Nuh (hal. 70-72), meyakini bahwa Fir'aun itu telah beriman (hal. 21), membenarkan pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang menimbulkan fitnah di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal. 188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyuruh menyelisihi syari'at. Sesungguhnya, ada yang mengatakan bahwa setan menampakkan diri dalam bentuk nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di hadapan Ibnu Arabi. Padahal mustahil hal itu bisa terjadi. Dia (Ibnu Arabi) telah tertipu dan terperdaya. Walau ia mengatakan yang demikian itu dengan niat baik dan prasangka bersih. Tetapi yang demikian itu mustahil, karena setan tidak akan mampu menyerupai nabi. Maka, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal Nabi yang ma'shum Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa yang melihatku (dalam mimpinya) maka sesungguhnya akulah dia. Karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku". [Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah, mempunyai penguat yang sangat banyak, sebagiannya Shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Al-Jami' dan ziyadahnya V/293]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan diatas, maka kita berkeyakinan bahwa Ibnu Arabi dan para pengikutnya adalah dajjal-dajjal Khurasan. Sedang perkataan-perkataan mereka dusta dan tidak mengandung kebenaran sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul Borok-Borok Sufi]&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;Foote Note.&lt;br /&gt;[1]. Ihya 'Ulummuddin, Al-Ghazali, I/19-20 dan III/26, cet. Istiqomah, Qahirah.&lt;br /&gt;[2]. Minhaj As-Sunnah, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, hal. 226&lt;br /&gt;[3]. Quwat Al-Qulub, III/35&lt;br /&gt;[4]. Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi, I/37.&lt;br /&gt;[5]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365.&lt;br /&gt;[6]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4.&lt;br /&gt;[7]. Al-Mizan, I/28.&lt;br /&gt;[8]. Tablis Iblis, hal. 370.&lt;br /&gt;[9]. Al-Manar Al-Munif, Ibnu Qayim Al-Jauziyah.&lt;br /&gt;[10]. Shaid Al-Khaathir, Ibnu Jauzi, I/144-146.&lt;br /&gt;[11]. Syarah Al-Ushul Al-Isyrin, hal 27.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716937289546004?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716937289546004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716937289546004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716937289546004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716937289546004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/borok-borok-sufi-1.html' title='BOROK-BOROK SUFI 1'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716924531277678</id><published>2006-09-01T20:53:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T20:54:05.780-07:00</updated><title type='text'>TAREKAT SUFI NAQSYABANDIYAH</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Ada sebuah perkumpulan wanita dari Kuwait. Mereka menyebarkan dakwah sufi beraliran Naqsyabandiyah secara sembunyi-sembunyi, perkumpulan wanita tersebut berada dibawah naungan lembaga resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah mempelajari kitab-kitab mereka, dan berdasarkan pengakuan mereka, yang pernah ikut perkumpulan wanita ini, tarekat ini memiliki pemahaman diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Barangsiapa yang tidak mempunyai syaikh, maka yang menjadi syaikhnya adalah syetan.&lt;br /&gt;[b]. Barangsiapa yang tidak bisa mengambil ahlak syaikh/gurunya, maka tidak akan bermanfaat baginya Kitab dan Sunnah.&lt;br /&gt;[c]. Barangsiapa yang mengatakan pada syaikhnya, "Mengapa begitu ?" Maka, tak akan sukses selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mereka berdzikir (dengan tata cara sufi, tentunya) seraya membawa gambar syaikhnya. Mereka suka mencium tangan gurunya yang bergelar Al-Anisaa, dan berasal dari negeri Arab. Mereka menganggap akan mendapat berkah dengan meminum air sisa sang gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menulis do'a dengan do'a khusus yang dinukil dari buku Al-Lu'lu wa Al-Marjan Fi Taskhiri Muluki Al-Jann. Dan dalam lapangan pendidikan, perkumpulan ini membangun madarasah khusus untuk kalangan sendiri, mereka didik anak-anak berdasarkan ide-ide kelompoknya, bahkan ada di antaranya yang mengajar di sekolah-sekolah negeri umum, baik jenjang setingkat SMP maupun SMA. Sebagian mereka ada yang berpisah dengan suami dan meminta cerai lewat pengadilan, hal itu terjadi manakala sang suami menyuruh sang istri agar menjauh dari aliran yang sesat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kami ajukan : &lt;br /&gt;[1]. Bagaimanakah menurut syariat tentang perkumpulan wanita tersebut ?. &lt;br /&gt;[2]. Diperbolehkan mengawini mereka ?. &lt;br /&gt;[3]. Bagaimana pula hukumnya dengan akad nikah yang telah berlangsung selama ini ?.&lt;br /&gt;[4]. Sekarang, nasihat dan ancaman yang bagaimana yang pantas untuk mereka ?.&lt;br /&gt;Mohon penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Tarekat sufi, salah satunya Naqsyabandiyah, adalah aliran sesat dan bid'ah, menyeleweng dari Kitab dan Sunnah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat sufi tidak semata bid'ah. Bahkan, di dalamnya terdapat banyak kesesatan dan kesyirikan yang besar, hal ini dikarenakan mereka mengkultuskan syaikh/guru mereka dengan meminta berkah darinya, dan penyelewengan-penyelewengan lainnya bila dilihat dari Kitab dan Sunnah. Diantaranya, pernyataan-pernyataan kelompok sufi sebagaimana telah diungkap oleh penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah pernyataan yang batil dan tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, sebab, yang patut diterima perkataannya secara mutlak adalah perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah". [Al-Hasyr : 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya". [An-Najm : 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun selain Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam, walau bagaimana tinggi ilmunya, perkataannya tidak bisa diterima kecuali kalau sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah. Adapun yang berpendapat wajib metaati seseorang selain Rasul secara mutlak, hanya lantaran memandang "si dia/orang"nya, maka ia murtad (keluar dari Islam). Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam ; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa ; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". [At-Taubah : 31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama menafsirkan ayat ini, bahwa makna kalimat "menjadikan para rahib sebagai tuhan" ialah bila mereka menta'ati dalam menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan. Hal ini diriwayatkan dalam hadits Adi bin Hatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajiblah berhati-hati terhadap aliran sufi, baik dia laki-laki atau perempuan, demikianlah pula terhadap mereka yang berperan dalam pengajaran dan pendidikan, yang masuk kedalam lembaga-lembaga. Hal ini agar tidak merusak aqidah kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, diwajibkan pula kepada seorang suami untuk melarang orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya agar jangan masuk ke dalam lembaga-lembaga tersebut ataupun sekolah-sekolah yang mengajarkan ajaran sufi. Hal ini sebagai upaya memelihara aqidah serta keluarga dari perpecahan dan kebejatan para istri terhadap suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang merasa cukup dengan aliran sufi, maka ia lepas dari manhaj Ahlus Sunnah wa Jamaah, jika berkeyakinan bahwa syaikh sufi dapat memberikan berkah, atau dapat memberikan manfa'at dan madharat, menyembuhkan orang sakit, memberikan rezeki, menolak bahaya, atau berkeyakinan bahwa wajib menta'ati setiap yang dikatakan gurunya/syaikh, walaupun bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa berkeyakinan dengan semuanya itu, maka dia telah berbuat syirik terhadap Allah dengan kesyirikan yang besar, dia keluar dari Islam, dilarang berloyalitas padanya dan menikah dengannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrikah sebelum mereka beriman, .......... Dan janganlah kalian menikahkan (anak perempuan) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman ........". [Al-Baqarah : 221]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang telah terpengaruh aliran sufi, akan tetapi belum sampai pada keyakinan yang telah kami sebutkan diatas, tetap tidak dianjurkan untuk menikahinya. Entah itu sebelum terjadi aqad ataupun setelahnya, kecuali bila setelah dinasehati dan bertaubat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita nasehatkan adalah bertaubat kepada Allah, kembali kepada yang haq, meninggalkan aliaran yang batil ini dan berhati-hati terhadap orang-orang yang menyeru kepada kejelekan-kejelekan. Hendaknya berpegang teguh dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, membaca buku-buku bermanfa'at yang berisi tentang aqidah yang shahih, mendengarkan pelajaran, muhadharah dan acara-acara yang berfaedah yang dilakukan oleh ulama yang berpegang dengan teguh pada manhaj yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kita nasehatkan kepada para istri agar taat kepada suami mereka dan orang-orang yang bertanggung jawab dalam hal-hal yang ma'ruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan taufiq-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatwa ini dikeluarkan tanggal 18 Jumadil Awal 1414H dengan No. Fatwa 16011, dan dimuat di majalah As-Sunnah Edisi 17/II/1416H-1996M. Diterjemahkan oleh Andi Muhammad Arief Mardzy]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716924531277678?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716924531277678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716924531277678' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716924531277678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716924531277678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/tarekat-sufi-naqsyabandiyah.html' title='TAREKAT SUFI NAQSYABANDIYAH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716912282336358</id><published>2006-09-01T20:51:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T20:52:02.830-07:00</updated><title type='text'>TAREKAT-TAREKAT SUFI</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Bufiuts Al-'Ilmiyah Wal lfta’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Bufiuts Al-'Ilmiyah Wal lfta’ ditanya : Apa yang dimaksud dengan problematika tasawuf dan apa kedudukannya dalam Islam, yakni; Tarekat Tijaniyah, Qadariyah dan Syi'ah, tarekat-tarekat itu berpusat di Nigeria. Misalnya, Tarekat Tijaniyah, dalam ajarannya ada yang disebut shalawat ba-kariyah, yaitu ucapan; (Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada pemimpin kami Muhammad sang pembuka segala yang tertutup.. dst hingga.. dengan sebenar-benarnya kedudukan dan kedudukannya adalah agung). Shalawat ini dianggap lebih besar dan lebih utama daripada shalawat Ibrahimiyah. Ini saya temukan dalam kitab mereka "Jawahirul Ma'ani" juz I halaman 136. Apakah ini benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Alhamdulillah, segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada RasulNya, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba 'du,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa kata as-sufiyah dinisbatkan kepada as-suffah karena keserupaan mereka dengan sekelompok sahabat yang fakir dan menempati suffah (beranda) masjid Nabawi. Tapi pengertian ini tidak benar, karena penisbatan kepada kata as-suffah menjadi suffiyyun dengan mentasydidkan huruf fa' tanpa huruf wawu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan bahwa itu dinisbatkan kepada kata shafiwah (suci) karena kesucian hati dan perbuatan mereka. Ini juga salah, karena penisbatan kepada kata shafwah menjadi shafwiyyun. Lain dari itu, kaum sufi lebih banyak diliputi oleh bid'ah dan kerusakan aqidah. Ada juga yang mengatakan, bahwa itu dinisbatkan kepada kata ash-shauf [kain wool], karena merupakan lambang pakaian mereka. Pengertian ini lebih mendekati secara bahasa dan realita mereka. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah lah yang kuasa member! petunjuk. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Bufiuts Al-'Ilmiyah wal lfta’, 2/182]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAREKAT-TAREKAT SUFI DAN WIRID-WIRIDNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Bufiuts Al-'Ilmiyah Wal lfta’ ditanya : Bagaimana hukum tarekat-tarekat sufi dan wirid-wirid yang mereka susun dan mereka dengungkan sebelum shalat Shubuh dan setelah shalat Maghrib. Apa pula hukum orang yang mengaku bahwa ia melihat Nabi Saw dalam keadaan terjaga dengan mengu-capkan, 'semoga kesejahteraan diliimpahkan atasmu wahai matanya semua mata dan ruhnya semua ruh.'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada RasulNya, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba 'du,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat-tarekat dan wirid-wirid yang anda sebutkan itu adalah bid'ah, di antaranya adalah Tarekat Tijaniyah dan Kitaniyah. Dari wirid-wirid mereka itu tidak ada yang disyari'atkan kecuali yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan ini, bahwa ada seseorang yang menganut faham Kitani lalu ia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan inderanya dalam keadaan jaga dan mengatakan, 'semoga kesejahteraan dilimpahkan atasmu wahai matanya semua mata .. dst.' adalah suatu kebatilan yang tidak ada asalnya. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan pernah terlihat oleh seseorang dalam keadaan terjaga (tidak dalam keadaan tidur) setelah beliau wafat, dan beliau tidak akan keluar dari kuburnya kecuali pada Hari Kiamat nanti, sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di Hari Kiamat. " [Al-Mukminun: 15-16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Aku adalah pemimpin anak adam pada hari kiamat dan yang pertama kali dibukakan kuburnya” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da' imah lil Buhuts Al-'Ilmiyah wal Ifta', 2/184]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Ada bab tersendiri yang membahas tentang tijaniyah dan bid'ah-bid'ahnya. Sebaiknya merujuk fatwa Lajnah Da'imah mengenai hal ini.&lt;br /&gt;[2]. Imam Muslim meriwayatkan seperti itu dalam Al-Fadha'il(2278).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716912282336358?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716912282336358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716912282336358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716912282336358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716912282336358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/tarekat-tarekat-sufi.html' title='TAREKAT-TAREKAT SUFI'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716899795061795</id><published>2006-09-01T20:47:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T20:49:57.953-07:00</updated><title type='text'>TAREKAT TIJANIYAH</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Banyak orang di tengah-tengah kami yang menganut Tarekat Tijaniyah, sementara saya mendengar dalam acara Syaikh (nur 'ala ad-darb) bahwa tarekat ini bid'ah, tidak boleh diikuti. Tapi keluarga saya mempunyai wirid dari Syaikh Ahmad At-Tijani yaitu shalawat fatih, mereka mengatakan bahwa shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa benar shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam? Mereka juga mengatakan, bahwa orang yang membaca shalawat fatih lalu meninggalkannya, ia dianggap kafir. Kemudian mereka mengatakan, 'Jika engkau tidak mampu melaksanakannya lalu meninggalkannya, maka tidak apa-apa. Tapi jika engkau mampu namun meninggalkannya maka dianggap kafir.’Lalu saya katakan kepada kedua orang tua saya bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, namun mereka mengatakan, 'Engkau wahaby dan tukang mencela.' Kami mohon penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa Tarekat Tijaniyah adalah tarekat bid'ah. Kaum muslimin tidak boleh mengikuti tarekat-tarekat bid'ah, tidak Tarekat Tijaniyah, tidak pula yang lainnya, bahkan seharusnya berpegang teguh dengan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, karena Allah telah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Katakanlah, 'Jika. kamu (benar-benar) mentintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah meneasihi dan mengampuni dosa-dosamu' ." [Ali Imran: 31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, katakanlah kepada manusia wahai Muhammad, 'Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun telah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). " [Al-A'raf : 3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lainnya disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. " [Al-Hasyr : 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lainnya lagi disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)." [Al-An'am : 153]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Subul (jalan-jalan yang lain) di sini maksudnya adalah jalan-jalan yang baru yang berupa perbuatan bid'ah, memperturutkan hawa nafsu, keraguan dan kecenderungan yang diharamkan. Adapun jalan yang ditunjukkan oleh sunnah RasulNya , itulah jalan yang harus diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat Tijaniyah, Syadziliyah, Qadariyah dan tarekat-tarekat lainnya yang diada-adakan oleh manusia, tidak boleh diikuti, kecuali yang sesuai dengan syari'at Allah. Yang sesuai itu boleh dilaksanakan karena sejalan dengan syari'at yang suci, bukan karena berasal dari tarekat si fulan atau lainnya, dan karena berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." [Al-Ahzab : 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." [At-Taubah: 100].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak."[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak."[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Amma ba 'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Saw, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat."[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Saw sebagaimana , yang mereka klaimkan, hanya saja shighah lafazhnya tidak seperti yang diriwayatkan dari Nabi Saw, sebab dalam shalawat fatih itu mereka mengucapkan (Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami, Muhammad sang pembuka apa-apa yang tertutup, penutup apa-apa yang terdahulu dan pembela kebenaran dengan kebenaran). Lafazh ini tidak pernah menjadi jawaban mengenai cara bershalawat kepada beliau ketika ditanyakan oleh para sahabat. Adapun yang disyari'atkan bagi umat Islam adalah bershalawat kepada beliau dengan ungkapan yang telah disyari'atkan dan telah diajarkan kepada mereka tanpa harus mengada-adakan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya adalah sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Ka'b bin 'Ajrah , bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana kami bershalawat kepadamu?" beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik. Dan limpahkanlah keber-kahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik.)" [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Humaid As-Sa'idi Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, para isterinya dan keturunannya sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, para isterinya dan keturunannya, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik.)". [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dari hadits Ibnu Mas'ud Al-Anshari Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat kepada keluargaa Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik di seluruh alam.)"[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadtis ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna, telah menjelaskan tentang cara bershalawat kepada beliau yang beliau ridhai untuk umatnya dan telah beliau perintahkan. Adapun shalawat fatih, walaupun secara global maknanya benar, tapi tidak boleh diikuti karena tidak sama dengan yang telah diriwayatkan secara benar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menerangkan cara bershalawat kepada beliau yang diperintahkan. Lain dari itu, bahwa kalimat (pembuka apa-apa yang tertutup) mengandung pengertian global yang bisa ditafsiri oleh sebagian pengikut hawa nafsu dengan pengertian yang tidak benar. Wallahu waliyut taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majalah Al-Buhuts, nomor 39, hal. 145-148, Syaikh Ibnu Baz]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Disepakati keshahihannya dari hadits Aisyah Ra, : Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).&lt;br /&gt;[2]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).&lt;br /&gt;[3]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah RA dalam Al-Jumu’ah (867).&lt;br /&gt;[4]. Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3369). Muslim dalam Ash-Shalah (407).&lt;br /&gt;[5]. Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3369). Muslim dalam Ash-Shalah (407).&lt;br /&gt;[6]. HR. Muslim dalam Ash-Shalah (407).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716899795061795?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716899795061795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716899795061795' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716899795061795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716899795061795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/tarekat-tijaniyah.html' title='TAREKAT TIJANIYAH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115716877654997283</id><published>2006-09-01T20:43:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T20:46:16.560-07:00</updated><title type='text'>TANYA JAWAB</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEBAGIAN ORANG BERKATA APABILA HADITS SHAHIH BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR'AN, MAKA HADITS TERSEBUT HARUS DITOLAK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Ada sebagian orang yang berkata bahwa apabila terdapat sebuah hadits yang bertentangan dengan ayat Al-Qur'an maka hadits tersebut harus kita tolak walaupun derajatnya shahih. Mereka mencontohkan sebuah hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya mayit akan disiksa disebabkan tangisan dari keluarganya" [Shahihul Jaami' No. 1970]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata bahwa hadits tersebut ditolak oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha dengan sebuah ayat dalam Al-Qur'an surat Fathir : 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita membantah pendapat mereka itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Mengatakan ada hadits shahih yang bertentangan dengan Al-Qur'an adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab tidak mungkin Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah memberikan keterangan yang bertentangan dengan keterangan Allah yang mengutus beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi riwayat/sanad, hadits di atas sudah tidak terbantahkan lagi ke shahih-annya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Umar bin Khaththab, dan Mughirah bin Syu'bah, yang terdapat dalam kitab hadits shahih (Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari segi tafsir, hadits tersebut sudah ditafsirkan oleh para ulama dengan dua tafsiran sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[A]. Hadits tersebut berlaku bagi mayit yang ketika hidupnya dia mengetahui bahwa keluarganya (anak dan istrinya) pasti akan meronta-ronta (nihayah [1]) apabila dia mati. Kemudian dia tidak mau menasihati keluarganya dan tidak berwasiat agar mereka tidak menangisi kematiannya. Orang seperti inilah yang mayitnya akan disiksa apabila ditangisi oleh keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang sudah menasihati keluarganya dan berpesan agar tidak berbuat nihayah, tapi kemudian ketika dia mati keluarganya masih tetap meratapi dan menangisinya, maka orang-orang seperti ini tidak terkena ancaman dari hadits tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits tersebut, kata al-mayyitu menggunakan huruf alif lam (isim ma'rifat). Dalam kaidah bahasa Arab kalau ada isim (kata benda) yang dibagian depannya memakai huruf alif lam, maka benda tersebut tidak bersifat umum (bukan arti dari benda yang dimaksud). Oleh karena itu kata "mayit" dalam hadits di atas adalah tidak semua mayit, tapi mayit tertentu (khusus). Yaitu mayit orang yang sewaktu hidupnya tidak memberi nasihat kepada keluarganya tentang haramnya nihayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ketika kita memahami tafsir hadits di atas jelaslah bagi kita bahwa hadits shahih tersebut tidak bertentangan dengan bunyi ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada hakikatnya siksaan yang dia terima adalah akibat kesalahan/dosa dia sendiri yaitu tidak mau menasihati dan berdakwah kepada keluarga. Inilah penafsiran dari para ulama terkenal, di antaranya Imam An-Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[B]. Adapun tafsiran kedua adalah tafsiran yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Raimahullah di beberapa tulisan beliau bahwa yang dimaksud dengan azab (siksaan) dalam hadits tersebut adalah bukan azab kubur atau azab akhirat. Tapi maksud azab tersebut hanyalah rasa sedih dan duka cita. Yaitu rasa sedih dan duka ketika mayit tersebut mendengar ratap tangis dari keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut saya , tafsiran seperti itu bertentangan dengan beberapa dalil. Di antaranya adalah hadits shahih riwayat Mughirah bin Syu'bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Artinya : Sesungguhnya mayit itu akan disiksa pada hari kiamat disebabkan tangisan dari keluarganya" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi menurut hadits ini siksa tersebut bukan di alam kubur tapi di akhirat, dan siksaan di akhirat adalah tidak lain maksudnya adalah siksa neraka, kecuali apabila ia diampuni oleh Allah. Karena semua dosa pasti ada kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, kecuali dosa syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya" [An-Nisa : 48]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadits-hadits shahih dan beberapa ayat Al-Qur'an yang mengatakan bahwa seorang mayit itu tidak akan mendengar suara orang yang masih hidup kecuali saat-saat tertentu saja. Di antaranya adalah hadits riwayat Bukhari dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya seorang hamba yang meninggal dan baru saja dikubur, dia mendengar bunyi terompah (sandal) yang dipakai oleh orang-orang yang mengantarnya ketika mereka sedang beranjak pulang, sampai datang kepada dia dua malaikat" [Shahihul Jami' No. 1675]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan seorang mayit itu bisa mendengar suara sandal orang yang masih hidup ? Hadits tersebut menegaskan bahwa mayit tersebut hanya bisa mendengar suara sandal ketika dia baru saja dikubur, yaitu ketika ruhnya baru saja dikembalikan ke badannya dan dia di dudukkan oleh dua malaikat. Jadi tidak setiap hari mayit tersebut mendengar suara sandal orang-orang yang lalu lalang di atas kuburannya sampai hari kiamat. Sama sekali tidak !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya penafsiran Ibnu Taimiyah di atas benar, bahwa seorang mayit itu bisa mendengar tangisan orang yang masih hidup, berarti mayit tersebut bisa merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya, baik ketika dia sedang diusung atau setelah dia dimakamkan, sementara tidak ada satupun dalil yang mendukung pendapat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits selanjutnya adalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang bertugas menjelajah di seluruh permukaan bumi untuk menyampaikan kepadaku salam yang diucapkan oleh umatku" [Shahihul Jaami' No. 2174]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya mayit itu bisa mendengar, tentu mayat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih memungkinkan bisa mendengar. Mayit beliau lebih mulia dibanding mayit siapapun, termasuk mayit para nabi dan rasul. Seandainya mayit beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bisa mendengar, tentu beliau mendengar salam dari umatnya yang ditujukan kepada beliau dan tidak perlu ada malaikat-malaikat khusus yang ditugasi oleh Allah untuk menyampaikan salam yang ditujukan kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita bisa mengetahui betapa salah dan sesatnya orang yang ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada orang yang sudah meninggal, siapapun dia. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia di sisi Allah dan beliau tidak mampu mendengar suara orang yang masih hidup, apalagi selain beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini secara tegas diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf : 194.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya yang kalian seru [2] selain Allah adalah hamba yang juga seperti kalian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di dalam surat Fathir : 14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jika kalian bedo'a kepada mereka, maka mereka tidak akan mendengar do'a kalian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, secara umum mayit yang ada di dalam kubur itu tidak bisa mendengar apa-apa kecuali saat-saat tertentu saja. Sebagaimana yang sudah diterangkan dalam beberapa ayat dan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Notes.&lt;br /&gt;[1] Nihayah adalah meratapi kematian dengan cara meronta-ronta, menampar0nampar pipi, menyobek-nyobek baju, kumpul-kumpul di rumah ahli mayit, dan lain-lain (-pent-)&lt;br /&gt;[2] Maksud "seru" di sini adalah berdo'a, minta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati atau kepada berhala-berhala (-pent)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115716877654997283?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115716877654997283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115716877654997283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716877654997283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115716877654997283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/tanya-jawab.html' title='TANYA JAWAB'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115709994653644518</id><published>2006-09-01T01:37:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T01:39:06.536-07:00</updated><title type='text'>SALAM</title><content type='html'>Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Mas Hasan...Mas mas'udin Dan mas mas yang lain di Al-mubarak...sukses ya daurohnya........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115709994653644518?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115709994653644518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115709994653644518' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709994653644518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709994653644518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/salam.html' title='SALAM'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115709913543403635</id><published>2006-09-01T01:24:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T01:25:35.436-07:00</updated><title type='text'>SUNNAH DAN BID'AH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SUNNAH DAN BID'AH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnah dengan makna apa-apa yang disyari’atkan oleh Rasul-Nya adalah lawan dari bid’ah, yakni apa-apa yang baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid’ah menurut bahasa adalah perkara baru yang diada-adakan.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;“Lafazh bid’ah pada asalnya bermakna apa saja yang diada-adakan yang tidak ada contoh sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kata bid’ah yang dinamakan demikian ialah kata bid’ah yang terdapat dalam firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Allah yang menciptakan langit dan bumi...” [Al-Baqarah : 117]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya kata “badiiu” di sini bahwa Allah mengadakan atau menciptakannya dengan rupa (bentuk) yang tidak ada contoh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Aku bukan seorang Rasul yang baru (bid’ah)...’” [Al-Ahqaaf : 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud “bid’an” di sini ialah : “Bukanlah aku seorang Rasul pertama yang membawa risalah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, bahkan telah banyak Rasul-Rasul yang telah mendahuluiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dikatakan si fulan telah membuat satu bid‘ah, maka artinya si fulan telah mengadakan suatu jalan (cara) yang belum pernah ada orang yang melakukan sebelumnya.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid’ah menurut syari’at ialah apa-apa yang diadakan oleh manusia baik perkataan maupun perbuatan di dalam agama dan syi’ar-syi’arnya yang tidak ada keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya yang maksud mengerjakannya untuk ta’abbud (peribadahan). [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa membuat cara baru dalam urusan (agama) kami dengan sesuatu yang tidak ada contohnya, maka (amalan) itu tertolak.’”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.’”[6] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ibnu Taimiyyah mendefinisikan bid’ah, beliau berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bid’ah itu adalah apa-apa yang menyalahi Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma’ Salafush Shalih, baik masalah-masalah aqidah maupun masalah-masalah ibadah, seperti perkataan-perkataan orang-orang Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, dan Jahmiyyah serta orang-orang yang beribadah sambil menari-nari dan bernyanyi di masjid-masjid.” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, terkadang As-Sunnah dimaksudkan kepada lawan dari bid’ah. Bila dikatakan si fulan mengikuti Sunnah artinya si fulan beramal menurut apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya. Dan bila dikatakan si fulan berbuat bid’ah artinya si fulan beramal menyalahi apa-apa yang dilaksanakan Rasulullah dan para Shahabatnya Radhiyallahu ‘anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sunnah yang dimaksud dalam pembahasan itu adalah arti Sunnah menurut pengertian ulama ushul, karena pengertian inilah yang digunakan dalam pembahasan dalil-dalil pokok dan kedudukannya dalam pembinaan dan pembuatan hukum syara’. Kendatipun demikian dalam analisis sejarah akan diketengahkan pula pengertian secara umum sebagaimana yang digunakan oleh ahli hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab I : As-Sunnah Dan Definisinya, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note.&lt;br /&gt;[1]. Mafhuum Ahlis Sunnah (hal. 32, 35).&lt;br /&gt;[2]. Lihat kitab Lisaanul ‘Arab (I/342), Mukhtasharush Shihhah (hal. 43-44).&lt;br /&gt;[3]. Al I’tisham (I/49), tahqiq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.&lt;br /&gt;[4]. Ibid, (I/50).&lt;br /&gt;[5]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha&lt;br /&gt;[6]. HR. Muslim (no. 1718 (17)) dan selainnya.&lt;br /&gt;[7]. Majmu’ Fataawaa (XVIII/346 dan XXXV/414).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115709913543403635?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115709913543403635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115709913543403635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709913543403635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709913543403635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/sunnah-dan-bidah.html' title='SUNNAH DAN BID&apos;AH'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115709887045005406</id><published>2006-09-01T01:20:00.000-07:00</published><updated>2006-09-01T01:21:10.456-07:00</updated><title type='text'>As-Sunnah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;HUBUNGAN AS-SUNNAH DENGAN AL-QUR'AN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau Dari Hukum Yang Ada Maka Hubungan As-Sunnah Dengan Al-Qur'an, Sebagai Berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur'an. Dengan demikian hukum tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalil-dalil yang tersebut di dalam Al-Qur'an dan dalil penguat yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. berdasarkan hukum-hukum tersebut banyak kita dapati perintah dan larangan. Ada perintah shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah haji ke Baitullah, dan disamping itu dilarang menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua serta banyak lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang As-Sunnah itu berfungsi sebagai penafsir atau pemerinci hal-hal yang disebut secara mujmal dalam Al-Qur'an, atau memberikan taqyid, atau memberikan takhshish dari ayat-ayat Al-Qur'an yang muthlaq dan 'am. Karena tafsir, taqyid dan takhshish yang datang dari As-Sunnah itu memberi penjelasan kepada makna yang dimaksud di dalam Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Allah telah memberi wewenang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberikan penjelasan terhadap nash-nash Al-Qur'an dengan firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : .Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan". [An-Nahl : 44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara contoh As-Sunnah men-takhshish Al-Qur'an adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan". [An-Nisaa : 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini ditakhshish oleh As-Sunnah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para nabi tidak boleh mewariskan apa-apa untuk anak-anaknya dan apa yang mereka tinggalkan adalah sebagai sadaqah.&lt;br /&gt;tidak boleh orang tua kafir mewariskan kepada anak yang muslim atau sebalinya, dan.. pembunuh tidak mewariskan apa-apa [Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sunnah Mentaqyid Kemutlakan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.." [Al-Maidah : 38].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini tidak menjelaskan sampai dimanakah batas tangan yang akan di potong. Maka dari As-Sunnahlah di dapat penjelasannya, yakni sampai pergelangan tangan. (Subulus Salam 4 : 53-55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sunnah Sebagai Bayan Dari Mujmal Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan tentang cara shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat". [Hadits Riwayat Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan tentang cara haji Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Ambillah dariku tentang tata cara manasik haji kamu". [Hadits Riwayat Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang perlu penjelasan dari As-Sunnah karena masih mujmal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang As-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum-hukum yang tidak terdapat di dalam Al-Qur'an. Diantara hukum-hukum itu ialah tentang haramnya keledai negeri, binatang buas yang mempunyai taring, burung yang mempunyai kuku tajam, juga tentang haramnya mengenakan kain sutera dan cincin emas bagi kaum laki-laki. Semua ini disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tidak mungkin terjadi kontradiksi antara Al-Qur'an dengan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi'i berkata : "Apa-apa yang telah disunahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak terdapat pada Kitabullah, maka hal itu merupakan hukum Allah juga. Sebagaimana Allah mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : .Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allahlah kembali semua urusan". [Asy-Syuura : 52-53].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan hukum yang terdapat dalam Kitabullah, dan beliau menerangkan atau menetapkan pula hukum yang tidak terdapat dalam Kitabullah. Dan segala yang beliau tetapkan pasti Allah mewajibkan kepada kita untuk mengikutinya. Allah menjelaskan barangsiapa yang mengikutinya berarti ia taat kepada-Nya, dan barangsiapa yang tidak mengikuti beliau berarti ia telah berbuat maksiat kepada-Nya, yang demikian itu tidak boleh seorang mahlukpun melakukannya. Dan Allah tidak memberikan kelonggaran kepada siapapun untuk tidak mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. [Ar-Risalah hal. 88-89]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata : " Adapun hukum-hukum tambahan selain yang terdapat di dalam Al-Qur'an, maka hal itu merupakan tasyri' dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang wajib bagi kita mentaatinya dan tidak boleh kita mengingkarinya. Tasyri' yang demikian ini bukanlah mendahului Kitabullah, bahkan hal itu sebagai perwujudan pelaksanaan perintah Allah supaya kita mentaati Rasul-Nya. Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ditaati, maka ketaatan kita kepada Allah tidak mempunyai arti sama sekali. Karena itu kita wajib taat terhadap apa-apa yang sesuai dengan Al-Qur'an dan terhadap apa-apa yang beliau tetapkan hukumnya yang tidak terdapat di dalam Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah". [An-Nisaa : 80].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ringkasnya hubungan Al-Qur'an dengan As-Sunnah adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Terkadang As-Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir dan pemerinci hal-hal yang disebut secara mujmal di dalam Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang As-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat di dalam Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari'at Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, hal 52-55 terbitan Pustaka Al-Kautsar]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115709887045005406?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115709887045005406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115709887045005406' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709887045005406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709887045005406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/as-sunnah.html' title='As-Sunnah'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33521089.post-115709804671299221</id><published>2006-09-01T00:58:00.001-07:00</published><updated>2006-09-01T01:07:26.713-07:00</updated><title type='text'>AKHLAK SALAF</title><content type='html'>&lt;strong&gt;CERMIN AKHLAK SALAF&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa merenungi Kitabullah dan senantiasa berhubungan denganya.maka akan mendapatkan kemuliaan akhlak.Dan barang siapa yang mengkaji sunnah-sunnah nabi Yaitu perjalannan hidup Rasullullah dan hadits Haditsnya Untuk itulah Allah Kembali menegaskan kemuliaan akhlak itu pada akhr Surat Al-Furqon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya :Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb yang maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apa bila orang-orang yang jahil menyapa mereka,mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb.............(bersambung cak pegel ngetikke...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33521089-115709804671299221?l=abuabid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abuabid.blogspot.com/feeds/115709804671299221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33521089&amp;postID=115709804671299221' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709804671299221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33521089/posts/default/115709804671299221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abuabid.blogspot.com/2006/09/akhlak-salaf_01.html' title='AKHLAK SALAF'/><author><name>abuabid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17453698847659066783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
